Perginya Si Pekerja Keras
![]() |
| RIANTON MARBUN |
Saya
kenal Anto cukup lama. Kami bertemu pertama sekali di tahun 2004. Sewaktu Ia mengajar
sekolah minggu di HKI Kwala Bekala, Simalingkar B, Medan, Sumatera Utara.
Anto
aslinya berasal dari Siborong-borong, Tapanuli Utara. Ia datang ke Medan untuk
sekolah. Anto menuntut ilmu di Universitas Negeri Medan. Tapi kapan dia tiba dan
selesai studi, saya tidak tahu persis.
Tahun
2005, Anto mulai aktif di PNB HKI Ressort Medan I. Ia rajin ikut kegiatan. Pada
saat itu Resort Medan I masih terdiri 4 jemaat: Medan Kota, Medan Petisah, Simalingkar
dan Kwala Bekala. Pdt. Happy Pakpahan menjadi vicaris pendeta.
Anto
bersemangat kuat. Ia sanggup melayani dua jemaat setiap minggu. Pagi hari Anto
melawat sekolah minggu di Kwala Bekala. Sebelum tengah hari, Ia sudah ada di Medan
Petisah. Seperti biasa Ia ikut koor PNB sewaktu ibadah minggu. Siang hari, Ia
menghabiskan waktu mengurus PNB. Padahal Anto indekost di jalan Williem
Iskandar. Jarak itu cukup jauh bagi orang Medan.
Selain
kuliah dan mengurus PNB, Anto bekerja sebagai guru privat. Otak Anto terkenal
encer. Dia biasa melahap soal-soal fisika laiknya menyerut es teh. Banyak orang
yang berhasil Ia didik. Sonia Sirait dan Tirsa Sirait pernah merasakan cara
Anto mengajar.
Tahun
2005 kami berdua dipilih menjadi PID (Pengurus Inti Daerah) PNB HKI Daerah VI
Sumatera Timur II. Saya menjadi ketua umum. Dan Anto menjadi sekretaris umum. Inilah
awal kami banyak bekerjasama.
Rajin Berkorban
Anto
bukan anak orang kaya, tapi Ia tidak pelit uang. Ia tidak pernah ragu
menyumbangkan uang pribadi biar kegiatan berlangsung baik. Padahal hidup Anto cuma
bergantung dari kiriman orang tua dan pendapatan guru privat.
Jika
diminta mengantar surat, Anto sanggup berjalan kaki berkilometer. Baginya jarak
Medan ke Tebing Tinggi itu hanya selemparan batu. Ia betah duduk berjam-jam di
dalam bus yang sumpek. Ia merasa tidak ada jarak yang terlalu jauh. Ya, Anto
memang suka jalan-jalan.
Saya
ingat satu peristiwa penting di tahun 2006. Waktu itu kami menggagas PNB
Institute. Kami buat latihan kepemimpinan berbasis PME (Planning Monitoring and Evaluation). Maksud kami, agar pengurus
PNB cakap merancang dan mengendalikan program kerja. Kami mau PNB dikelola baik menurut standart manajemen.
Kami
undang Pak Eliakim Sitorus dan Pak Jusuf Sukatendel menjadi narasumber. Mereka
berdua orang yang ahli di bidang ini. Pak Eliakim fokus pada JPIC (Justice
Peace and Integrity Creation). Pak Jusuf ahli dalam perencanaan program. Keduanya sudah melanglangbuana ke penjuru
bumi. Saat itu mereka bekerja untuk United
Evangelical Mission (UEM) regional Asia.
Biaya
pelatihan cukup mahal. Sekitar tujuh juta. Kami optimis, itu uang bisa
terkumpul. Proposal kami buat sangat bagus. Sengaja kami contek proposal INGO (International Non Government
Organization) biar “layak jual”. Kami pikir proposal bagus bisa
buat orang menyumbang lebih banyak.
Rupanya
di HKI, percaya diri dan proposal bagus bukan jaminan uang bisa dikumpul cepat
dan banyak. Sumbangan yang datang tak sesuai perkiraan. Cuma sedikit orang yang
mau bantu. Sumber pemasukan lain dari peserta tidak juga berkabar baik. Dari 30
orang target, baru puluhan yang mendaftar.
Seminggu
jelang pelatihan uang yang datang masih tak cukup. Walau begitu kami tidak
patah arang. Kami yakin di hari terakhir pendaftaran, jumlah peserta akan
bertambah banyak.” …orang kita suka mendaftar disaat-saat terakhir,”begitulah
keyakinan kami. Antopun yakin soal itu!
Kami
terus putar otak cari uang. Salah satu cara yang sanggup kami pikirkan adalah
menggunakan uang pribadi. Setiap pengurus harus menyumbang dari pendapatannya. Yang belum
bekerja menyumbang seadanya. Yang bekerja menyumbang banyak. Anto termasuk
menyumbang banyak.
Disaat
menjelang pelatihan, saya mendapat kabar baik sekaligus kabar buruk. Berita
baiknya, British Council (BC) mengundang
saya ke Makasar, Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk mengikuti seleksi terakhir short course ke Inggris. Sebulan lalu,
saya berkirim aplikasi. Dari seribuan peserta, saya dinyatakan lolos test
administrasi.
Karena
pergi ke Makasar, maka kepanitiaan harus ditinggal. Saya kasih tanggung jawab lapangan
kepada Anto. Ia harus memimpin kepanitiaan secara teknis. Kami berkoordinasi
lewat telpon.
Sehari
menjelang pelatihan usai, Anto berkirim kabar. Ia mengatakan pelatihan
berlangsung baik. Narasumber hadir semua. Peserta aktif mengikuti setiap sesi.”…tapi
bang kita tidak lagi punya uang untuk bayar biaya makan. Uang pribadi juga
sudah habis. Kami tidak tahu mencari dari mana lagi,”kata Anto di ujung telpon.
Saya
tidak ingin panitia putus asa. Dari Makassar saya janji cari jalan mendapatkan
uang. Syukurlah, BC mau memenuhi permintaan. Saya minta rute pesawat pulang
Makasar-Jakarta-Medan diubah. Saya bilang mau singgah di Jakarta beberapa hari.
Jadi tiket Jakarta – Medan diuangkan saja. Sayapun diberi uang seharga tiket
garuda. Uang itu yang saya kirim ke panitia.
Setelah
pelatihan ditutup, Anto kembali berkirim berita. Ia melaporkan pelatihan
ditutup baik oleh Praeses. Panitia tidak lagi berhutang. Tapi uang tidak ada
lagi, karena dana yang masuk, habis digunakan sebagai pengeluaran.
Selama
mengurus PNB Daerah, Anto terus menghadapi masalah yang sama. Uang masuk
tidak sama jumlahnya dengan rencana pengeluaran. Bahkan selama tiga tahu, kami
tidak pernah mendapatkan dana pembinaan dari Praeses. Kalau sudah begitu hanya ada
satu jalan,” …gunakan uang pribadi.”
Dan Anto
selalu sukarela menggunakan uang pribadinya.
Sendirian
Walau
berkawan lama, bukan berarti kami selalu akur. Kami sering berbeda pendapat dan
saling kritik. Tapi tidak pernah sampai adu urat leher apalagi bertengkar. Kami
tetap saling menghormati.
Saya
sering kritik gaya kerja Anto. Ia suka bekerja sendirian. Jarang melibatkan orang
lain dan pengurus. Informasi suka Ia simpan sendiri. Bahkan ketika
sakit-sakitan, Ia tetap saja bekerja sendirian. Setelah ia tidak mampu, barulah
Ia mulai bercerita.
Kalau
dikritik, Anto selalu bela diri. Ia bilang bukan tidak mau bekerjasama.”
Kawan-kawan susah diajak berkomitmen dan rela berkorban,” katanya.
“Sudah
kuhubungi bang, tapi tidak dijawab!”
“Sudah
kukasih tahu bang, tapi tidak digubris!”
“Tidak
tahu lagi aku harus bagaimana, biar mereka mau bantu!”
Kalau
Anto jawab begitu, saya berhenti berkomentar. Saya tahu persis tabiat
teman-teman PNB. Memang benar, susah dapat anak yang bersedia bertanggung jawab
apalagi berkomitmen.
Ya,
Anto tidak salah kalau bilang Ia susah bekerjasama. Iapun memilih bekerja
sendiri, ketimbang menunggu orang yang tidak bisa diharapkan. Meski sendirian,
Ia selalu berusaha menyelesaikan tanggung jawabnya.
Waktu
Ia mulai sakit keras, saya kasih saran agar dia berhenti jadi Ketua Umum. Saya titip
pesan lewat Gomgom Hutagalung, agar Ia fokus pada kesehatannnya. Ia tidak perlu
merasa tak enak hati karena meninggalkan tanggung jawabnya. Ia harus terus
bugar biar produktif!
Tapi
bagi Anto tanggung jawab harus terus dikerjakan. Ia tetap keras pendirian mengurus
PNB. Ia merasa tidak sakit walau fisiknya mulai tidak kuat. Iapun tetap sama,
bekerja sendirian tanpa mau merepotkan orang lain.
Seperti
hari ini (Rabu, 28/11), diam-diam Ia pergi sendirian meninggalkan kita semua.
Bahkan sepatah katapun tak Ia tinggalkan. Sampai tarikan nafas terakhirnya, Ia
tetap memegang teguh tanggungjawabnya sebagai Ketua Umum PNB HKI. Diam-diam,
pekerja keras itu sudah pergi menghadap penciptanya!
Selamat
Jalan Rianton Marbun. Tunggu kami di pintu Sorga! ***

