Wednesday, November 28, 2012

RIANTON MARBUN


Perginya Si Pekerja Keras

RIANTON MARBUN
Rianton Marbun dikenal sebagai pribadi unik. Ia orang yang keras pendirian dan suka bicara tegas.

Saya kenal Anto cukup lama. Kami bertemu pertama sekali di tahun 2004. Sewaktu Ia mengajar sekolah minggu di HKI Kwala Bekala, Simalingkar B, Medan, Sumatera Utara.

Anto aslinya berasal dari Siborong-borong, Tapanuli Utara. Ia datang ke Medan untuk sekolah. Anto menuntut ilmu di Universitas Negeri Medan. Tapi kapan dia tiba dan selesai studi, saya tidak tahu persis.

Tahun 2005, Anto mulai aktif di PNB HKI Ressort Medan I. Ia rajin ikut kegiatan. Pada saat itu Resort Medan I masih terdiri 4 jemaat: Medan Kota, Medan Petisah, Simalingkar dan Kwala Bekala. Pdt. Happy Pakpahan menjadi vicaris pendeta.

Anto bersemangat kuat. Ia sanggup melayani dua jemaat setiap minggu. Pagi hari Anto melawat sekolah minggu di Kwala Bekala. Sebelum tengah hari, Ia sudah ada di Medan Petisah. Seperti biasa Ia ikut koor PNB sewaktu ibadah minggu. Siang hari, Ia menghabiskan waktu mengurus PNB. Padahal Anto indekost di jalan Williem Iskandar. Jarak itu cukup jauh  bagi orang Medan.

Selain kuliah dan mengurus PNB, Anto bekerja sebagai guru privat. Otak Anto terkenal encer. Dia biasa melahap soal-soal fisika laiknya menyerut es teh. Banyak orang yang berhasil Ia didik. Sonia Sirait dan Tirsa Sirait pernah merasakan cara Anto mengajar.

Tahun 2005 kami berdua dipilih menjadi PID (Pengurus Inti Daerah) PNB HKI Daerah VI Sumatera Timur II. Saya menjadi ketua umum. Dan Anto menjadi sekretaris umum. Inilah awal kami banyak bekerjasama.

Rajin Berkorban

Anto bukan anak orang kaya, tapi Ia tidak pelit uang. Ia tidak pernah ragu menyumbangkan uang pribadi biar kegiatan berlangsung baik. Padahal hidup Anto cuma bergantung dari kiriman orang tua dan pendapatan guru privat.

Jika diminta mengantar surat, Anto sanggup berjalan kaki berkilometer. Baginya jarak Medan ke Tebing Tinggi itu hanya selemparan batu. Ia betah duduk berjam-jam di dalam bus yang sumpek. Ia merasa tidak ada jarak yang terlalu jauh. Ya, Anto memang suka jalan-jalan.

Saya ingat satu peristiwa penting di tahun 2006. Waktu itu kami menggagas PNB Institute. Kami buat latihan kepemimpinan berbasis PME (Planning Monitoring and Evaluation). Maksud kami, agar pengurus PNB cakap merancang dan mengendalikan program kerja. Kami mau PNB dikelola  baik menurut standart manajemen.

Kami undang Pak Eliakim Sitorus dan Pak Jusuf Sukatendel menjadi narasumber. Mereka berdua orang yang ahli di bidang ini. Pak Eliakim fokus pada JPIC (Justice Peace and Integrity Creation). Pak Jusuf ahli dalam perencanaan program.  Keduanya sudah melanglangbuana ke penjuru bumi. Saat itu mereka bekerja untuk United Evangelical Mission (UEM) regional Asia.

Biaya pelatihan cukup mahal. Sekitar tujuh juta. Kami optimis, itu uang bisa terkumpul. Proposal kami buat sangat bagus. Sengaja kami contek proposal INGO (International Non Government Organization) biar “layak jual”. Kami pikir proposal bagus bisa buat orang menyumbang lebih banyak.

Rupanya di HKI, percaya diri dan proposal bagus bukan jaminan uang bisa dikumpul cepat dan banyak. Sumbangan yang datang tak sesuai perkiraan. Cuma sedikit orang yang mau bantu. Sumber pemasukan lain dari peserta tidak juga berkabar baik. Dari 30 orang target, baru puluhan yang mendaftar.

Seminggu jelang pelatihan uang yang datang masih tak cukup. Walau begitu kami tidak patah arang. Kami yakin di hari terakhir pendaftaran, jumlah peserta akan bertambah banyak.” …orang kita suka mendaftar disaat-saat terakhir,”begitulah keyakinan kami. Antopun yakin soal itu!

Kami terus putar otak cari uang. Salah satu cara yang sanggup kami pikirkan adalah menggunakan uang pribadi. Setiap pengurus harus menyumbang dari pendapatannya. Yang belum bekerja menyumbang seadanya. Yang bekerja menyumbang banyak. Anto termasuk menyumbang banyak.

Disaat menjelang pelatihan, saya mendapat kabar baik sekaligus kabar buruk. Berita baiknya, British Council (BC) mengundang saya ke Makasar, Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk mengikuti seleksi terakhir short course ke Inggris. Sebulan lalu, saya berkirim aplikasi. Dari seribuan peserta, saya dinyatakan lolos test administrasi.

Karena pergi ke Makasar, maka kepanitiaan harus ditinggal. Saya kasih tanggung jawab lapangan kepada Anto. Ia harus memimpin kepanitiaan secara teknis. Kami berkoordinasi lewat telpon.

Sehari menjelang pelatihan usai, Anto berkirim kabar. Ia mengatakan pelatihan berlangsung baik. Narasumber hadir semua. Peserta aktif mengikuti setiap sesi.”…tapi bang kita tidak lagi punya uang untuk bayar biaya makan. Uang pribadi juga sudah habis. Kami tidak tahu mencari dari mana lagi,”kata Anto di ujung telpon.

Saya tidak ingin panitia putus asa. Dari Makassar saya janji cari jalan mendapatkan uang. Syukurlah, BC mau memenuhi permintaan. Saya minta rute pesawat pulang Makasar-Jakarta-Medan diubah. Saya bilang mau singgah di Jakarta beberapa hari. Jadi tiket Jakarta – Medan diuangkan saja. Sayapun diberi uang seharga tiket garuda. Uang itu yang saya kirim ke panitia.

Setelah pelatihan ditutup, Anto kembali berkirim berita. Ia melaporkan pelatihan ditutup baik oleh Praeses. Panitia tidak lagi berhutang. Tapi uang tidak ada lagi, karena dana yang masuk, habis digunakan sebagai pengeluaran.

Selama mengurus PNB Daerah, Anto terus menghadapi masalah yang sama. Uang masuk tidak sama jumlahnya dengan rencana pengeluaran. Bahkan selama tiga tahu, kami tidak pernah mendapatkan dana pembinaan dari Praeses. Kalau sudah begitu hanya ada satu jalan,” …gunakan uang pribadi.”

Dan Anto selalu sukarela menggunakan uang pribadinya.

Sendirian

Walau berkawan lama, bukan berarti kami selalu akur. Kami sering berbeda pendapat dan saling kritik. Tapi tidak pernah sampai adu urat leher apalagi bertengkar. Kami tetap saling menghormati.

Saya sering kritik gaya kerja Anto. Ia suka bekerja sendirian. Jarang melibatkan orang lain dan pengurus. Informasi suka Ia simpan sendiri. Bahkan ketika sakit-sakitan, Ia tetap saja bekerja sendirian. Setelah ia tidak mampu, barulah Ia mulai bercerita.

Kalau dikritik, Anto selalu bela diri. Ia bilang bukan tidak mau bekerjasama.” Kawan-kawan susah diajak berkomitmen dan rela berkorban,” katanya.

“Sudah kuhubungi bang, tapi tidak dijawab!”

“Sudah kukasih tahu bang, tapi tidak digubris!”

“Tidak tahu lagi aku harus bagaimana, biar mereka mau bantu!”

Kalau Anto jawab begitu, saya berhenti berkomentar. Saya tahu persis tabiat teman-teman PNB. Memang benar, susah dapat anak yang bersedia bertanggung jawab apalagi berkomitmen.

Ya, Anto tidak salah kalau bilang Ia susah bekerjasama. Iapun memilih bekerja sendiri, ketimbang menunggu orang yang tidak bisa diharapkan. Meski sendirian, Ia selalu berusaha menyelesaikan tanggung jawabnya.

Waktu Ia mulai sakit keras, saya kasih saran agar dia berhenti jadi Ketua Umum. Saya titip pesan lewat Gomgom Hutagalung, agar Ia fokus pada kesehatannnya. Ia tidak perlu merasa tak enak hati karena meninggalkan tanggung jawabnya. Ia harus terus bugar biar produktif!

Tapi bagi Anto tanggung jawab harus terus dikerjakan. Ia tetap keras pendirian mengurus PNB. Ia merasa tidak sakit walau fisiknya mulai tidak kuat. Iapun tetap sama, bekerja sendirian tanpa mau merepotkan orang lain.

Seperti hari ini (Rabu, 28/11), diam-diam Ia pergi sendirian meninggalkan kita semua. Bahkan sepatah katapun tak Ia tinggalkan. Sampai tarikan nafas terakhirnya, Ia tetap memegang teguh tanggungjawabnya sebagai Ketua Umum PNB HKI. Diam-diam, pekerja keras itu sudah pergi  menghadap penciptanya!

Selamat Jalan Rianton Marbun. Tunggu kami di pintu Sorga! ***