Monday, November 01, 2010

Mbah Maridjan; Si Lelaki Rendah Hati

Mbah Marijan
repro: http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/10/27/0758545620X310.jpg

Mbah Marijan dalam kesederhanaan pernah menyambutku di kediamannya di lereng Merapi. Ia melempar senyum dan ramah menjawab pertanyaan. Kini, si mbah telah kembali kepada sang Pencipta. Merapi yang ia jagai dengan setia, telah membawanya bertemu sang Khalik. Sebagai pengagum, aku membangkitkan kembali tulisan ini sebagai penghormatan bagi Mbah Marijan

***

Lereng Kidul (selatan) Merapi, Sleman, Jogjakarta, 29/04/2007


DIA TERSENYUM ramah sambil menjulurkan tangan menyambut salamku. Balutan kemeja batik dipadu kain sarung, melengkapi penampilan legenda Merapi ini. ”Monggo,”katanya mempersilahkan aku duduk.

Aku diam. Tertegun sejenak.”Oh ini rupanya Mbah Marijan yang terkenal itu,” ucapku dalam hati.

Minggu (29/04) peserta CEFIL (Civic Education for Future Indonesian Leaders) melawat lereng kidul (selatan) Gunung Merapi. Kami menyatroni kediaman Mbah Marijan. Ia tokoh populer karena menolak mengungsi kala Merapi mengancam meletus. Bukan sekadar menolak yang buat ia sensasional, lebih dari itu, ia menolak perintah Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, penguasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Alasan si Mbah menolak cukup sederhana. Ia tidak menerima perintah kecuali dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ia menggenggam teguh wasiat sang raja menjaga sudah gunung Merapi. Kesetiaan itu alasan utama Mbah Marijan menolak mengungsi.”Saya hanya tunduk pada perintah Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” katanya.

Cerita penolakan itu santer kepenjuru negeri. Mendadak popularitas Mbah Marijan melambung – konon peristiwa itu mampu menurunkan popularitas Kraton Yogyakarta. Semenjak itu pula sosok mbah Marijan tidak bisa dipisahkan dari mitologi gunung Merapi. Bahkan salah satu produk minuman penambah energi, memilih si mbah sebagai icon promosi. Produk minuman itu menyandingkan si mbah dengan Chris Jhon , juara tinju kelas dunia. Mereka didaulat sebagai laki-laki paling berani.

Syukurlah media hanya ”membalutnya” dengan cerita heroik dan mengugah hati. Jika saja si mbah dicitrakan sebagai laki-laki mistik, akrab dengan deretan mantra-mantra, kemenyan dan sejajen. Tentulah si mbah sederajat dengan mitos Merapi lainnya, yaitu Mak Lampir. Nenek sakti nan menakutkan yang pernah populer di serial radio dan layar lebar tahun 90an.

Si mbah memang populer.Keberaniannya bahkan menginspirasi lahirnya lagu Mars Mbah Marijan. Aku pernah sekali mendengar mars itu di dukuh (dusun) Kalinongko Kidul, Sleman timur. Sebuah acara pernikahan (ngantenan) menyetel lagu itu. ” Siap grakk...kepada Mbah Marijan, hormat grak...,” kemudian mengalun rentenan syair berbahasa jawa, dihiasi melodi khas campur sari.

Kesederhanaan

DUSUN Kinarjo tampak lengang. Sebuah mesjid berdiri tegak di antara bangunan sederhana. Tidak ada gedung yang mencolok di dusun Kinaharjo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupten Sleman, DIY. Di depan masjid berderetan warung dari bambu. Lalu masih di depan masjid, membentang pula lapangan berpasir. Itulah pemandangan awal kala mengijakkan kaki di dusun mbah Marijan.

Melangkah memasuki desa, ada lorong kecil membentang. Di sebelah kiri lorong itu ada pintu yang selalu terbuka lebar. Di dalamnya duduk seorang lekaki tua, mengunakan peci dan mengenakan kemeja bermotif kemeja dipadu kain sarung. Dia mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi.

Melangkah ke dalam ruang tamu, deretan kursi yang disusun berlapis seolah-olah berucap, ”selamat datang!” Deretan kursi-kursi itu menjadi saksi hidup; ruang ini ramai disatroni orang-orang.

Tiga meja kayu bertutupkan kaca berdiri tegak. Di atasnya terlentang sederatan air mineral dan tiga stoples keripik ubi. Tak hanya itu, diatas meja juga terdapat album photo dan sebuah buku yang berisi nama-nama pengunjung yang pernah bertamu. Ada ratusan nama tercatat disitu. Ada orang Jawa, Batak bahkan orang asing.

Memandang dari pintu kedalam ruangan, akan terlihat sebuah tombak yang diapit payung berwarna kuning. Di atas terpampang lambang kebesaran kesultanan Yogyakarta. Disamping kanan kiri lambang itu terdapat foto HB IX dan HB X. Di bagian bawah lambang itu terdapat lukisan wajah mbah Marijan. Ini menjadi pertanda, mbah Marijan adalah pelayan bagi Kraton Kasuhunan Yogyakarta.

Di dinding sebelah kiri, terdapat deretan lukisan raja-raja Mataram. Disebelah kanan terdapat photo besar yang berisi dokumentasi evakuasi korban lava panas tahun 2006. Dua orang tewas terpanggang tak jauh dari rumah si mbah pada peristiwa itu.

Ketika ditanya soal Merapi, mbah Marijan langsung menunjukkan jarinya. Dalam bahasa Jawa, mbah Marijan menjelaskan bahwa jari-jari itu punya makna bagi warga Merapi. Jempol adalah simbol Tuhan, kelingking menyimbolkan orang kecil sedangkan gabungan telunjuk, jari tengah dan jari manis merupakan simbol pemerintah. Lebih lanjut terang mbah Marijan, kala Merapi mengeluarkan lava, orang kecil - warga sekitar - mengganggap Merapi sedang "bangun". Bagi masyarakat Merapi itu hal biasa.

Tapi pemerintah menganggap itu sebagai bahaya.

Menurut mbah Marijan, orang kecil selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan kelimpahan berkat. Ketika Merapi mengeluarkan lava, itu dipahami, " Merapi bangun". Kata penerjemah saya, Mufidah," Bangun itu dipahami membangun."

Penjelasan mufidah menyiratkan kesimpulan makna "bagun" berarti memberikan bantuan bagi masyarakat. Kandungan letusan merapi yang subur tentunya membantu petani sekitar Merapi. Itu maksudnya membantu. Dari sana saya sedikit tahu, kenapa mbah Marijan dan masyarakat sekitar tidak begitu takut dengan letusan Merapi.

Saat mbah Marijan diminta berfoto, mbah ini menolaknya dengan halus seraya menutup wajahnya. Dia tidak ingin difoto. Setelah dicari tahu, si mbah ini berujar, " Saya ini orang kecil, saya ngak mau kepala saya nanti tambah besar." Sekilas 'kepala besar' , saya kira bermakna sombong. Selidik punya selidik, ternyata bukan.

Mbah Marijan menunjuk sebuah karikatur tentang dirinya. Karikatur itu mengambarkan tubuh kecilnya dengan kepala yang besar. Setelah itu mbah Marijan kembali berucap,"Saya orang kecil, saya ndak mau kepala besar." Si mbah mengulangi kalimat itu beberapa kali, dan dari situ terlihat jelas kekecawaan tergambar di wajahnya. Baginya, karikatur kepala besar itu adalah ejekan.

Bagi si mbah, ia sulit memahami kalau karikatur itu di tujukan sebagai pujian. Gambar-gambar yang baginya aneh, cuma membawa kecewaan. Ternyata pujian media telah melukai hati si mbah. Itu sebabnya si mbah Marijan menolak di foto. Dia ingin hidup tenang dan sederhana tanpa merasa diejek.

Lava panas kerap melalui tepi dusunnya setiap kali ”bangun”. Walau jarak lintasan itu hanya 20 meter dari dusun tempat ia tinggal, si mbah tetap tidak beranjak. Ia peracaya Tuhan akan menjagainya. Karena itu dia setia menjaga Merapi, kapan dan bagaimanapun kondisinya.***

Thanks to : Aziz alias Kirun (Kutilang- Jogjakarta) atas jasa baiknya mengwujudkan pertemuan dengan Mbah Marijan. Dan, untuk Mufidah (dari Blitar, Jawa Timur) atas kerelaannya menjadi penerjemah.
.

Sunday, September 19, 2010

Bumi Tanpa Kompetisi

Di balik hijau hutan alami, Tangkahan menyimpan rahasia awet muda. Ia tidak cuma dijaga dan dilindungi, tapi juga dibiarkan tersembunyi dari gemuruh modernitas.

JUMAT itu mentari berdiri tegak melingkupi kota Medan. Warga sudah bangkit dari peraduan. Mereka siap menghadapi takdir. Rejeki atau kemalangan.

Empat jam sebelum tengah hari, Terminal Terpadu Pinang Baris tampak sesak. Lima ratus meter dari terminal itu, puluhan orang duduk di tepi jalan. Raut wajah mereka gusar menunggu kedatangan bus yang tak pasti. Tujuan mereka sama: Tangkahan.

Aku dan empat kolega berencana menghabiskan akhir minggu di Tangkahan. Sebuah wilayah konservasi yang terletak di Kabupaten Langkat. Di sana ada ragam aktivitas menanti: arum jeram, jelajah hutan, naik gajah, berenang di sungai, air terjun, air hangat dan lain-lain. Butuh empat jam untuk tiba di Tangkahan. Kami bangun pagi-pagi agar dapat bus pertama.

Kami kecewa. Dari tiga bus P.O Pembangunan Semesta (PS) yang melayani rute Medan-Tangkahan, satu diantaranya rusak berat. Dua lagi harus kerja ekstra keras; bolak-balik. Konon bus kedua baru tiba pukul sebelas siang. Tapi tak satupun yang mampu menjamin waktu pastinya.

Bus PS hilir mudik di depan hidung. Tapi tak satupun menuju Tangkahan. Semua bus menuju Sawit Seberang. Rasa bosan dan kesal mendorongku bertanya kepada agen bus.

“Bang, bus ke Tangkahan yang mana?”

“Bus yang paling jelek bang! Tapi belum datang.”

Jawaban si agen membuat penasaran. Selama mata memandang, nyaris tidak ada bus PS yang bagus. Tubuh bus-bus itu sudah kusam. Balutan warna merah berliris putih, kuning dan biru nyaris memudar. Bahkan ada bus PS yang ditumbuhi pakis di atapnya; sangkin tidak terawatnya.

Membunuh rasa jenuh, kami singgah di warung. Menikmati teh hangat dan semangkuk bakso kuah. Sambil menunggu, aku melempar pertanyaan yang sama.

“Bu! Bus ke Tangkahan yang mana ya?”

“Nomor 135.”

“ Yang mana itu, bu?”

“ Yang paling jelek!”

Jawaban yang sama.

Pukul sebelas, bus BK 7716 DE tiba. Puluhan orang yang sedari tadi duduk manis sekonyong-konyong berhamburan. Mereka berkerubun di pintu masuk. Saling mendesak berebut tempat duduk. Kami tak pula ketinggalan.

Bus 135 itu sudah ujur. Warna khas nyaris berganti karat. Joknya keras seperti papan. Kaca jendela retak-retak. Beberapa bagian harus direkatkan isolatif agar kuat berdiri. Langit-langit dikerubungi debu menahun. Banyak penumpang dibuat terbatuk-batuk.

Tiga puluh menit kemudian roda bus melaju. Angin sepoi-sepoi menyelinap menghampiri penumpang. Bau keringat dan panas bersatu padu. Setengah jam dari titik keberangkatan, bus sudah dijejali penumpang. Tidak tersisa ruang di lorong bus.

Tiba di Binjai, bus berhenti. Seorang ibu bersama tv dan kulkas telah menunggu. Ia mendesak ikut serta. Penumpang lain menggerutu dan melempar kutuk. Mereka tidak setuju tambahan penumpang. Bus sudah tidak muat.

“Bang sopir, nanti bannya kempes!” kritik seorang penumpang.

Pak Sopir acuh. Si ibu lengkap dengan kulkas dan tv tetap diangkut. Jalanan dari tanah liat dan kerikil, ia bantai seolah tanpa beban. Biar penumpang berimpitan seperti ikan gembung, Pak Sopir tetap tancap gas. Ia pakem dengan pepatah lama: anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Tiga jam kemudian bus berhenti mendadak. Ternyata bannya kempes.

***

GELAP memeluk Tangkahan. Binatang malam mulai bernyanyi diiringi deru air sungai. Hembusan angin membuat daun-daun menari-menari. Keheningan menyelimuti wilayah di bawah kaki Gunung Lauser itu.

Rambasan gitar Ananta Ginting memecah malam. The Rumble in Jungle membuat ruang makan di Mega Inn bersemangat. Ananta melafal lirik secara sempurna. Padahal Ananta tidak tamat sekolah dasar (SD).

Ananta baru enam bulan belajar bahasa Inggris. Ia tidak pernah tertarik pada bahasa Ratu Elizabeth itu. Seorang gadis dari Belanda membuat Ananta memaksa diri belajar bahasa Inggris. Gadis itu bernama Anelis.

Enam bulan lalu Anelis berlibur di Mega Inn tempat Anata bekerja. Ananta ramah dan bersemangat melayani tamu-tamu Mega Inn, termasuk Anelis. Kepada sang gadis Ananta tidak pernah absen melempar salam dan senyum.

Rupanya si gadis simpatik. Keramahan laki-laki asli Tangkahan itu menarik perhatian Anelis. Pelan-pelan Anelis menunjukkan perasaan ketertarikan, tapi Ananta tidak mengerti. ” Aku tidak tahu bahasa Inggris bang,” kata Ananta.

Hari terakhir Anelis di sana pun tiba. Ananta tak jua paham maksud si gadis. Menjelang detik-detik keberangkatan, Anelis memeluk dan mencium Ananta tiba-tiba. ”Di bibir,” ujar Ananta mengenang. Anelis mengatakan akan kembali lagi. Semenjak itu Ananta belajar bahasa Inggris.

Kini Ananta kerap menyapa tamu-tamu dengan bahasa Inggris. Ia bahkan tidak segan bertanya jika ia tidak paham kata yang dimaksud. Satu persatu kata baru ia ingat baik-baik. Ia sering pula meminta izin kepada tamu untuk berdialog. ” May I talking-talking with you,” kata Ananta.

Ananta hanya secuil kisah di balik rimbunan hutan seluas 170 hektar. Di tahun 1997, Tangkahan dikenal sebagai titik perambahan hutan secara tidak sah (illegal logging). Setiap minggu ribuan kubik kayu bisa ditebas. Warga pun biasa meraup paling sedikit Rp 5 juta dari aksi itu.

“Tapi kami (warga Tangkahan-red) tak dapat apa-apa,” kata Mega Depari, pemilik Mega Inn. Mega lahir dan besar di Tangkahan. Laki-laki kekar ini dulu ikut menebang kayu. Mega pernah bekerja di Bukit Lawang sebagai pelayan di sebuah hotel. Bertahun-tahun ia belajar mengelola penginapan.

Menurut Mega, selama aktivitas illegal logging, hidup warga Tangkahan carut marut. Uang banyak dari aksi itu habis tak menentu. Ladang warga tidak berbuah karena kerap dilanda banjir. Warga tidak punya sandaran hidup yang layak.

Di tahun 2000, Unit Manajemen Lauser (UML) dan Pemerintah Kab. Langkat menjadikan Tangkahan sebagai daerah ekowisata. Warga diminta berhenti menebangi pohon. Mereka dilatih memanfaatkan keindahan hutan sebagai mata pencaharian.

Indecont, sebuah lembaga yang fokus pada pengembangan ekowisata, membantu warga meningkatkan kemampuan. Anak-anak muda dilatih teknik SAR (search and rescue), orang dewasa mendapatkan pelatihan pengelolaan hotel, ibu-ibu diajari ragam teknik memasak makanan. ”Apapun ceritanya orang kampung harus diajari,” jelas Mega.

Illegal logging menurun drastis. Warga kini mengambil posisi sebagai penjaga hutan. Tidak satu orangpun diizinkan menebang pohon.” Kalau dulu kami malingnya, sekarang kami polisinya,” kata Mega.

Di tahun 2001 warga mendirikan LPT (Lembaga Pariwisata Tangkahan). Lewat LPT semua urusan di Tangkah dibuat satu pintu. Pembagian tugas diatur. Semua orang dapat bagian. LPT membuat persaingan antarpenginapan tidak terjadi.

Tangkahan tersembunyi di sudut lahan perkebunan milik PT PN II . Ia hanya bisa dijangkau lewat alan lintas yang rusak parah. Namun Mega tidak melihat jalan rusak itu sebagai kendala pariwisata. ”Kalau jalan itu dibuat bagus, kami yang tidak siap,” terang Mega.

Menurut Mega, warga Tangkahan akan kerepotan menampung ledakan wisatawan jika jalan dibuat mulus. Bagi Mega, ledakan itu hanya menyisakan masalah. Alasannya, akses jalan membuat wisatawan pulang hari (tidak menginap) akan ramai. Mereka biasanya membawa makanan sendiri. ”Kami cuma dikasih retribusi dan sampah. Mereka tidak menginap dan makan di restoran,” ujar Mega.

Mega merasa lingkungan Tangkahan terancam dengan jalan mulus. Sampah yang dibawa wisatawan harian akan sulit diatasi warga Tangkahan. Selain itu, penyakit sosial seperti prostusi dan perjudian akan merebak di sekitar wilayah wisata itu.

Kini hutan adalah harta paling mahal bagi warga Tangkahan. Tanpa hutan, kehidupan warga bukan saja terancam bencana tapi juga secara ekonomi. Untuk melindungi hutan, warga Tangkahan melakukan apa saja. Sekawanan gajah ditempatkan sebagai transportasi penjaga hutan.

”Hutan adalah hidup kami. Kalau hutan tidak ada, maka kami pun tidak ada,” tegas Mega. 

***


Laporan ini dipublikasikan pertama kali oleh Newsletter Mata Kata Edisi No. Tahun II/ 2010.

Monday, July 26, 2010

BELANDA

SUBUH (Senin,12/7) Belanda menghadapi Spanyol di laga pamungkas Piala Dunia 2010. The Orange memang layak di sana. Negeri Bung Tulip itu bukan saja memiliki pemain bertalenta, penduduk gila bola tapi juga cerita berliku soal si kulit bundar.

Aku ingat betul hari itu. Sabtu (21/06/2008), Schiphol International Airport, Amsterdam, bersalin meriah. Pita, banner, kaos, jaket sampai boneka semua berkelir oranye. Aku sabar menunggu panggilan boarding. Pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) 809 bersiap membawaku singgah sejenak di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia. Aku dalam perjalanan pulang ke Indonesia.

Sabtu itu bukan hari biasa. Orang-orang Belanda sedang berbunga-bunga hatinya. Tim sepakbola mereka lagi bagus-bagusnya berlaga. Marco Van Basten, sang pelatih, dipuja setinggi langit.

Sebelumnya Van Basten dikritik habis. Ia dicap nekad berlaga di Piala Eropa karena menggondol sederet anak muda ke Austria. Punggawa lawas seperti Edgar Davids dan Clarence Seedorf, ia sisihkan. Pasca Piala Dunia 2006, Van Basten merombak habis pasukan The Orange.

Di Austria, cerita berubah. Permainan cepat, atraktif dan mengesankan ala The flying Dutchmen menuai puja-puji. Ruud van Niseel Roy menggulung Italia, Perancis dan Romania. Belanda berjaya di penyisihan grup.

Di babak 16 besar, Belanda ditantang Rusia. Tim Beruang Merah ini dibesut Guus Hiddink. Ia juru taktik kelas dunia dari Belanda. Tapi wong Londo optimis, Edwin Van De Sar cs sanggup melindas bekas negara Stalin itu.

Total football menjampi-jampi permainan Belanda. Aliran bola cepat, kecerdikan manuver, serangan menusuk dan sentuhan akhir memukau. Semua menyatu sebagai senjata mematikan. Sembilan gol dalam tiga laga lebih dari cukup jadi modal menghajar Rusia. Seantero Negeri Kincir Angin sudah tak sabar menanti hari pertandingan digelar.

Pukul sembilan malam waktu Belanda. Panggilan boarding menyalak. Penumpang diminta berbaris. Satu persatu berjalan menuju kabin pesawat.

Mesin pesawat Boeing type 747-400 berlantai dua bergemuruh. Raungannya membelah keheningan malam. Awak kabin hilir mudik memastikan penumpang duduk di tempatnya. Sesaat sebelum take off, dari ruang kendali sang pilot menyampaikan kabar buruk, ”Untuk sementara Belanda tertinggal satu kosong dari Rusia.”

Penumpang sontak menggerutu.

Gol Roman Pavlyuchenko pada menit ke 56 membawa Rusia unggul. Gol itu juga merusak keheningan kabin pesawat. Banyak penumpang tidak bahagia mendengar kabar itu.

Setengah jam setelah mengudara, kabin pesawat senyap. Penumpang larut dalam ragam aktivitas: menonton film, menikmati lagu, membaca buku atau terlelap dalam tidur.

Dari bilik kemudi, pilot kembali berbicara. Laiknya pembaca berita, ia menyampaikan kabar mendadak dari daratan: ”Wesly Sneijder mencetak gol untuk menyamakan kedudukan.”

Riuh meledak. Penumpang dan awak kabin berpesta. Mereka saling berpelukan, mengacungkan tangan dan mengelu-elukan Belanda. Beberapa di antarnya bahkan tidak tahan menahan haru.

Pukul tiga sore waktu Malaysia. Langit terang benderang ketika pesawat mendarat mulus di KLIA. Sebelum berpisah, pilot kembali berbagi kabar, ”Apa boleh buat. Kita kalah 3-1 dari Rusia.”

Belanda tersingkir dari Piala Eropa.

Pahlawan Belanda tahun 1988, Marco van Basten, patah arang. Permainan agresif anak Negeri Rendah rontok di tangan Hiddink. Hiddink sukses menjadi “penghianat” paling genius sepanjang masa. Taktik jitu Hiddink berhasil membungkam laju total football.

Perjudian Van Basten berujung hinaan. Pendirian kukuh membawa Dirk Kuyt, Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, dan Arjen Robben gagal membuat Belanda bediri tegak di daratan Eropa. Si bengal Davis yang ditinggalkan, mengirim kutuk kepada Van Basten, ” Van Basten (is) lacks (of) class (Van Basten tidak berkelas)…,” tulis Davis dalam surat terbukanya.

Lambertus “Bert” Van Marwjik diplot menganti Van Basten. Marwjik lahir di Deventer, Belanda pada 19 Mei 1952. Ia Ducth tulen dengan rambut kelabu. Kalem dan suka berpakaian rapi.

Van Marwjik bukan sosok terkenal. Ia tidak sepopuler Rinus Michael, si penemu total football. Ia juga tidak sehebat Johan Cruyff, legenda yang membawa Belanda dua kali ke babak final Piala Dunia. Ia tidak pernah bermain di klub Eropa di luar Belanda. Van Marwjik bahkan cuma sekali memakai kaos The Orange di tahun 1975.

Soal strategi, Van Marwjik orang konservatif. Jika Van Basten berhasrat mendominasi permainan lewat serangan frontal, maka Marjiwk berpakem pragmatis. Ia meminta anak asuhnya merebut bola di lahan sendiri; bukan di sarang lawan. Ia bahkan mau The Orange menahan bola lebih lama. Penguasaan bola (ball position) dan kesabaran membongkar pertahanan lawan lewat umpan terukur adalah filosopi Van Marwjik.

Taktik Van Marwjik menuai kritik. Belanda kehilangan gaya bermain indah. Van Marwjik dianggap “melecehkan” warisan bangsa: total footbal. Sampai-sampai Cruyff mengalihkan dukungan kepada Chile. "Tim terbaik yang (kita) lihat sejauh ini, Cile," tulis Cruyff dalam koran De Telegraaf.

Rabu dini hari (07/07/2010), Marjiwk seolah membungkam semua kritik. Belanda menggilas Uruguay 3-2. Kemenangan itu menghantarkan Belanda ke final Piala Dunia. Pencapaian hebat yang gagal diraih pelatih Belanda sejak tahun 1978.

Taktik Marjiwk bergulir sempurna di kaki anak-anak The Netherland. Kuyt bermain bagus dalam menyerang dan bertahan. Sneijder pengumpan sekaligus penjebol gawang paling subur. Rooben punya kecepatan dan akurasi kaki kiri. Ia mampu menyusur lapangan sekencang singa berlari. Maarten Stekelenburg bagai tembok batu yang sulit ditembus di bawah mistar.

Masih ada Mark van Bommel, gelandang tangguh asal Bayer Munich. Ia bukan saja sukses mengatur ritme permainan bersama Sneijder, tapi juga teguh dalam menggalang pertahanan. Ada pula malaikat hitam, Eljero Elia. Gerakan meliuknya membuat Denmark terhempas di babak penyisihan grup. Ketika Belanda frustasi mendapatkan kemenangan, maka Elia jadi pemain yang paling diharapkan menciptakan peluang.

Di bangku cadangan masih ada Ibrahim Afellay. Gelandang asal PSV Endehoven ini, mampu berlari kencang tanpa lelah selama sembilan puluh menit. Walau belum mencetak gol, tapi gerakannya berhasil merusak konsentrasi lawan. Ia buktikan itu dari tiga pertandingan di babak penyisihan.

Deretan nama itu adalah berkah bagi Van Marjiwk. Ia tidak hanya beruntung punya pemain muda berbakat, tapi diperkaya dengan mental pemenang. Terbukti saat Belanda sukses mengusir Brasil dari Afrika Selatan. Ketinggalan satu gol tidak membuat Belanda kelimpungan. Ketangguhan mentalitas Belanda sanggup mengurung pertahanan Brasil. Tekanan bola dari kanan kiri memaksa Julio Caesar, kiper terhebat Brasil, rela dijebol hingga dua kali.

Tapi Van Marjiwk tidak boleh lupa. Berkah itu tidak lepas dari pekerjaan tangan Marco Van Basten. Van Bastenlah yang memberikan pintu bagi talenta muda Belanda. Van Basten pula yang gagah berani menolak pemain dunia sekelas Davis dan Seedorf.
Masih teringat jelas saat Van Basten menutup pintu bagi Davis. Van Basten memang mengakui kehebatan Si Bengal. Bahkan ia disejajarkan dengan Jan Wouters, legenda lapangan tengah Belanda era 1980an. Tapi bagi Van Basten, zaman sudah berubah. “Jan Wouters was a great defensive midfielder as well. But I didn’t select him. He is from another era…(Jan Wouters juga gelandang bertahan yang baik. Tapi saya tidak memilih dia. Ia, dari zaman yang berbeda…),” ucap Van Basten kepada wartawan Belanda.

Perubahan zamanlah yang membuat Van Basten merelakan Clarence Seedorf tidak ikut ke Piala Eropa. Ia lebih memilih membawa Kuyt dan Van Boomel. Anak muda penghuni bangku cadangan, naik kelas menjadi pemain utama. Inilah pasukan menjajikan warisan Van Basten kepada The Netherland. Reformasi punggawa The Orange dimulai dari Van Basten.


Van Marjiwk setali tiga uang dengan Van Basten. Prinsip yang sama mendorong Van Marjiwk mencoret Ruud van Nissel Roy. Ia memilih pemain muda berbakat tapi sudi diatur. Setengah pilihannya tak jauh dari pasukan Van Basten. Dan terbukti, di Afrika Selatan mereka berhasil membuat harga diri Belanda melambung.

Negeri Van Oranje tinggal selangkah lagi menjadi juara dunia. Setelah proses melelahkan, Negeri Keju itu berada di puncak terbaik setelah 32 tahun menunggu. Mereka siap menghadapi “banteng” ganas dari Negeri Matador.

Pencapai Belanda mengajarkan kita, bahwa prestasi bukan produk cepat saji. Prestasi adalah investasi jangka panjang. Ia berliku, tajam, menyakitkan, bertabur konflik batin dan tangis air mata.

Apapun hasil akhir final Piala Dunia kali ini, Belanda tetaplah memesona (*

Monday, June 21, 2010

Oleh-oleh dari Jawa Timur (I)

Surabaya: kuliner, sejarah, religi dan protitusi.

SELASA (8/6) langit di ujung Pulau Jawa dilingkupi awan hitam. Di kejahuan, jembatan Suramadu berdiri tegak menghubungkan dua daratan. Pelan-pelan pesawat menungkik menghampiri daratan. Ban pesawat menjerit keras ketika menambrak aspal landasan. “Selamat datang di Bandara Internasional Juanda (BIJ),” imbuh crew Garuda GA 320 semenit kemudian.

BIJ dibangun persis keraton Jawa. Atapnya dirancang dengan model Joglo. Tubuhnya terbuat dari beton dan dibalut dou cokelat: tua dan muda. Kontras dengan kulit luar, bagian dalam BIJ diplot moderen. Kesan Jawa jauh sama sekali. Tidak ada aroma kemenyan, bunyi gamelan, ukiran jawa dan ketoprak.

Berdiri di lorong BIJ, kita serasa berada dalam kotak besar. Desain interiornya mirip Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysa. Tiap bagian diberi sekat dari kaca transparan. Di kanan kiri tersusun ruang tunggu dan toko-toko. Ada toko batik, toko buku, tempat makan minum dan sebagainya. Bedanya! Tolilet di BIJ tetap ditulis “toilet”, bukan “tandas” seperti di KLIA.

Dari BIJ, aku segera menghampiri Kota Surabaya. Kota ini berdiri tahun 1293. Surabaya mirip Jakarta. Ini kota besar nomor dua di Indonesia. Hamparannya imbang dengan lima puluh dua ribu petak lapangan sepak bola. Hampir tiga juta orang mendiami wilayah yang dikenal sebagai rawa-rawa di masa Majapahit.

Aku menumpang taxi menuju Surabaya Plaza Hotel (SPH). Hotel ini bagian dari kawasan Plaza Boulevard di Jalan Pemuda. Ia dibagun molek lewat potongan arsitektur moderen.

Loby SPH tidak luas tapi ditata apik. Ada patung Dewa Wisnu di situ. Di bagian belakang ada kafe kecil. Setiap malam tamu disuguhi pertunjukan musik. Waktu aku tiba, sepasang gitaris membawakan lagu-lagu tahun 80an. Petikan senar membuat bulu kuduku merinding. Aku serasa pulang kampung. Asik!

SPH adalah neraka bagi perokok. Asap rokok haram di sini. Jika berani melanggar, Anda pasti didenda. Jumlahnya: satu juta rupiah. Berkelit juga tidak guna, karena sewaktu chek-in Anda sudah meneken kontrak: bersedia didenda.

Berani coba?

***

JALAN-JALAN belum lengkap tanpa makan-makan. Rabu (9/6) malam aku diajak Arif dan Arum menikmati es cream dan bebek goreng. Dua makanan ini markahnya Surabaya.

Pertarungan lidah dimulai dari kedai es cream Zangrandi. Kedai ini diambil dari nama Renato Zangrandi. Ia seorang Italiano yang melancong ke Surabaya. Zangrandi beropreasi pertama kali tahun 1930 di Dijkermanstraat. Sekarang daerah itu berganti nama menjadi Jalan Yos Sudarso.

Kedai Zangrandi tidak banyak berubah sejak zaman Belanda. Kursi rotan berliris merah setia menerima pengunjung. Pendopo jadi pojok favorit mencicipi ragam es cream. Fruti Tutti dan Macedonia tetap primadona. Keduanya sudah diproduksi sejak zaman kolonial.

Waktu mencicip tiba. Aku, Arif dan Arum punya selera berbeda. Hatiku tertambat pada banana spilt, Arum menikmati cokelat es cream. Arif memilih nodle es cream yang bentuknya mirip mie goreng.”Tapi ini es cream loh!” terang Arif.

Es cream bertemu lidah. Segar, manis, dingin pecah menjadi satu. Wafer cokelat yang renyah menambah kesempurnaan rasa. Lidahku berputar-putar. Nikmat benar.

Cak Imron datang bergabung. Ia laki-laki ramah dari Madura, suka berguyon dan kaya pengalaman. Cak Imron khusus datang menemani kami bercakap-cakap.

Selepas Zangrandi, pertarungan berlanjut di tempat berbeda. Es cream rupanya tak cukup ampuh membuat lambungku berhenti memelas. Bebek goreng Mercon sasaran berikutnya.

Nasi uduk, sambal ulek, dua potong timun iris, selada dan teh manis hangat siap dihajar. Pelan-pelan aku mulai mengunyah lembutnya daging bebek. Kulit bebek renyah merekah setelah digoreng. Saat dimakan rasanya begitu gurih. Lidah dan gigiku bahu membahu melumat kelezatan ini. Sepuluh menit kemudian, ludes semuanya. Tapi aku belum kenyang.

Sepotong ayam goreng datang menyusul.

***

RINAI luruh Kamis (10/9) petang. Surabaya basah kuyup. Pengemudi sepeda motor berlomba mencari tempat berteduh. Konon, hujan hari itu, menjadi akhir pengepungan cuaca panas di Surabaya.

Aku duduk di loby menunggu Arif menjemput sepeda motor. Ia berjanji enam puluh menit untuk pergi dan kembali ke hotel. Sambil menunggu aku membaca empat koran berbeda. Semua isinya sama: video “tali air”. Diduga kuat video itu diperankan Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari.

Perutku mulai merintih sedangkan hujan tak jua reda. Aku pindah ke kafe. Di sana seorang biduan berambut panjang tampil menghibur. Aku memesan secangkir coklat panas dan sepiring kentang goreng.

Arum datang menemaniku. Wajahnya tampak lelah, tapi seperti biasa Arum selalu bersemangat. Dibawah siraman lirik dan musik kami berbagi cerita. Kehangatan hot chocolate mengenjot percakapan. Sesekali kami mengomentari biduan yang asik berdendang.”Suaranya kurang sexy,” protes Arum.

Hujan mereda sesat setelah gelap sempurna menguasai Surabaya. Arif tiba di Hotel, namun kami tidak lagi bertiga, Pak Tony Hutabarat dan Mas Imron ikut bergabung. Agenda selanjutnya: makan Rawon Setan.

Kedai Rawon Setan tidak luas. Ia berdiri tepat di depan Hotel JW Marriot. Dulu kedai ini beroperasi di atas jam 10 malam. Itu alasannya ia dicap setan. Tapi sekarang kedai sudah bukan lebih cepat.

Rawon memang khas Jawa Timur. Panganan ini mirip soto. Ia dibuat dari daging sapi yang dipadukan dengan sop kaldu. Warnanya agak hitam.

Cita rasa rawon gurih di lidah. Rempah-rempah dimasak jadi satu dengan daging sapi. Asin, asam, pedas dan manis berpadu menciptakan sensasi kuliner. Sangkin nikmatnya, aku sampai lupa peluh mengucur di pelipis.

Malam itu Rawon tidak tampil sendirian. Ia ditemani ragam gorengan: limpa, tempe dan kerupuk. Ada juga telur bebek asin berwarna hijau, sambel ulek dan lalapan. Es teh, jus buah dan air mineral melengkapi kuliner kami. Perut kenyang, pikiran senang.

Sembilan puluh menit kemudian acara berganti. Kami nongkrong dipelataran The Surabaya Shopping Mall. Di situ ada kursi dan meja gratis yang bebas pakai selama 24 jam. Sambil berbagi cerita kami menikmati minuman ringan. Sekaleng bir dingin menjadi jatahku malam itu.

Di dekat tongkrongan, benda seni dan bersejarah bertebaran. Di seberang jalan, tepatnya di depan RRI Surabaya terdapat sebuah tugu. Tugu itu adalah tempat Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh. Pembunuhan yang kontroversial. Tidak jelas siapa yang membunuh Mallaby. “….it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who were approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him,” kata Tom Driberg pada tahun 1946. Driberg adalah anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh (Infokito.wordpress.com).

Yang pasti peristiwa terbunuhnya Mallaby memicu perang dasyhat di Surabaya. Sekutu membombardir kota ini dari laut, udara dan darat. Peristiwa itu terjadi pada 10 November 1945; sampai sekarang kejadian itu kita ingat sebagai Hari Pahlawan.

Gemiris tiba-tiba datang. Tetesannya menyapu percakapan kami. Kami segera minggat menghindari reruntuhan air langit. Tidak ada pilihan berteduh, akhirnya kami kembali ke hotel.

***

WAKTU sholat Jumat (11/6) belum tiba. Aku dan para communication officers (COs) menikmati makan siang terakhir. Seperti biasa, makan siang jadi ajang berbagi cerita lucu.

Aku bercerita soal kehidupan gereja yang unik. Ceritaku dimulai dari seorang anak kecil yang sedih karena kucingnya sakit parah. Anak kecil itu meminta bantuan seorang pendeta untuk berdoa. Anak itu percaya doa si pendeta akan mujarab; setidaknya begitu ia diajari di sekolah minggu.

“Pak Pendeta, tolong doakan kucing saya yang sakit ini?” kata si anak kecil memelas.

Pak Pendeta terkejut mendengar permintaan si anak. Ia merasa itu terlalu sepele dan tidak penting. Namun Pak Pendeta tidak tega menolak. Dengan setengah hati Pak Pendeta memenuhi keinginan si anak.

“Baiklah, mari kita berdoa,” kata Pak Pendeta.

“Kalau kau mau mati, matilah! Kau kau mau hidup, hiduplah! Amin.”

Ajaib! Beberapa hari kemudian si kucing segar bugar. Si anak girang minta ampun.

Beberapa bulan kemudian, giliran Pak Pendeta yang jatuh sakit. Ia menderita penyakit keras yang belum ada obatnya. Berita itu sampai di telinga si anak kecil. Hati si anak terpanggil untuk berdoa.

“Ini saatnya membalas kebaikan Pak Pendeta,” cetus si anak dalam hati.

Ia kemudian bergegas datang ke rumah sakit.

“Pak Pendeta bolehkah saya mendoakan bapak?” kata si anak kepada Pak Pendeta yang terkapar di atas meja perawatan.

“Silahkan anakku,” jawab Pak Pendeta.

Mengdengar jawaban, si anak tersenyum ramah. Ia melipat tangan dan menutup mata lalu berucap,”Kalau kau mau mati, matilah! Kau kau mau hidup, hiduplah! Amin.”

Semenit kemudian Pak Pendeta meninggal dunia karena serangan jantung.

***

HINGGAR binggar Piala Dunia seperti air bah yang membanjiri pelosok bumi. Tidak ketinggalan kota Surabaya. Di salah satu hotel murah, aku ikut larut menikmati permainan si bola bundar. Afrika Selatan melawan Meksiko.

Sebelumnya aku diajak Arif menikmati dinner murah. Kami melahap nasi campur kikil di pinggir Jalan Darmo. Sepotong ayam bakar menyempurnakan kesederhanaan kami. Soal rasa hanya ada dua kata: tabo hian (enak kali; kata orang Batak).

Selepas makan, kami berkeliling kota sejenak. Kami melintasi Hotel Majapahit. Hotel ini mulanya bernama Hotel Organje. Ia disebut begitu karena warna orangenya yang mencolok. Oranje didirikan oleh Lucas Martin Sarkies pada tahun 1910. Struktur dan desain gedung dikerjakan arsitek Belanda, J. Afprey. Di zaman Jepang, mana Oranje diganti menjadi Yamato.

Tahun 1945 terjadi peristiwa heroik di Hotel Yamato. Subuh, 19 September 1945, di atas Yamato, Belanda mengibarkan bendera tiga warna: biru, putih dan merah. Aksi itu memicu penolakan warga Surabaya. Mereka menuntut Prinsenvlag diturunkan. W.V.Ch. Ploegman menolak. Ia walikota Surabaya versi Belanda.

Pemuda Surabaya marah. Mereka menyerang Ploegman. Ploegman tewas ditikam. Pemuda yang lain meringsek masuk dan memanjat dinding hotel. Di puncak menara, mereka merobek warna biru dari The Prince Flang. Yang tersisa hanya warna merah dan putih, lalu dibiarkan tetap berkibar.

Setelah dari Hotel Majapahit, kami melintasi Jembatan Merah. Panjangnya tidak lebih dari sepuluh meter. Terdiri atas dua ruas jalan. Masing-masing punya lebar empat sampai lima meter. Ia disebut Jembatan Merah, karena besi pembatasnya diberi warna merah.

Setelah Jembatan Merah, kami memasuki Kembang Jepun. Ini kota lama Surabaya. Banyak gedung tua dibangun dengan gaya arsitektur eropa. Di zaman Belanda, daerah ini adalah pusat hiburan sekaligus perdagangan. Di zaman fasisme Jepang daerah ini terkenal sebagai tujuan plesiran. Tempat tentara Jepang bercengkrama dengan gadis-gadis muda. Sekarang Kembang Jepun banyak didiami oleh etnis Thionghoa.

Arif membawaku ke daerah Ampel. Ini tempat religius. Dinamakan Ampel karena di situ dimakamkan Mohammad Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel. Ia adalah penyiar Islam terkenal di Pulau Jawa.

Berada di Ampel, kita serasa berada di Timur Tengah. Banyak keturunan Arab yang tinggal di sini. Gaya hidupnya juga tidak jauh beda. Gadis-gadis mengenakan jilbab hitam yang menutup seluruh tubuh. Pria memanjangkan janggut dan memakai kopiah. Kulinernya juga dekat-dekat dengan Arab seperti kebab, martabak mesir dan lain-lain.

Selain makanan dan sejarah, Surabaya juga punya icon lain: prostitusi. Di ujung Pulau Jawan itu berdiri tegak lokasi esek-esek terbesar di Asia Tenggara: Dolly. Kata orang, berkunjung ke Surabaya belum lengkap tanpa melihat Dolly.

Hmmm…

Dolly bukan cerita baru. Aku pernah melihat potret Dolly lewat buku Sex For Sale karya Yuyung Abdi (2007). Di situ Pekerja Seks Komersial (PSK) dibuat laiknya barang dagang; dipajang di etalase. Di bawah sorotan lampu kerlap-kerlip PSK duduk manis menanti si hidung belang.

Aku duduk di atas jok motor yang disetir Arif. Di depan kami, Mas Adi memboceng Pak Toni. Kami melintasi sebuah jalan sempit. Kerumunan orang ramai di situ. Diantara kerumunan itu ada yang berseragam batik. Mereka adalah calo yang membantu si hidung belang memilih si kupu-kupu malam. Welcome to Dollywood.

Identitas Dolly agak beragam. Ada yang bilang mana Dolly diambil dari nama Dolly Van Der Mart. Seorang tante Belanda dengan naluri bisnis esek-esek yang tajam. Ada pula nama Dolly Khavit. Ia mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina. Pada tahun 1967, Dolly mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu (Kompas, 20/4/2008).

Model transaksi di Dolly terbilang unik. Semua aktivitas tercatat rapi. Dolly tidak mengenal negoisasi harga. Setiap kupu-kupu malam sudah punya bandrol sendiri. Pembayaran juga dilakukan lewat kasir. Menurut Umar, selain cantik-cantik, para PSK bersedia memberikan layanan apapun. "Tarifnya paling rendah Rp 125 ribu per jam," tambah dia (Viva News, 18/3/2010).

Prostitusi memang bisnis yang bertabur uang. Dolly sanggup mendulang pundi-pundi rupiah sampai 34 milyar setiap bulannya. Padahal, selain Dolly masih ada lima lokalisasi kecil lain yang tersebar seputar Surabaya. Diperkirakan ada lebih dari dua belas ribu PSK bekerja diseluruh lokasi itu.

Di Dolly surga dan neraka terpisah tipis. Anak-anak belajar membaca kitab suci, sedangkan di balik dinding sepasang manusia tengah bersenggama. Bukan cerita baru, kalau kupu-kupu malam Dolly rajin menggelar pengajian. Bahkan setiap tahun mereka mengadakan lomba pembacaan kitab suci. Tahun lalu mereka mengundang KH. Zainudin MZ dan pedangdut Rhoma Irama untuk berceramah.

Sepeda motor terus melaju. Kami memasuki wilayah kuburan Belanda. Makam orang asing ini disusun rapi dan dibuat menarik. Setiap kuburan didesain dengan material alam. Indah! Daerah ini dinamakan Pekuburan Kristen Kembang Kuning.

Setiap malam banyak orang yang datang ke sini. Ada laki-laki, perempuan dan ada yang berstatus “ganda”: wanita-pria (waria). Seperti di Dolly, mereka menawarkan jasa prostitusi. Tarifnya lebih murah.

Mereka juga tidak ribet soal tempat. Jika harga cocok maka lantai beton kuburan sudah cukup untuk melampiaskan hasrat.

Tidak percaya? ***

Sunday, January 10, 2010

Heri Gibson Manurung

Guys!

Heri Gibson Manurung. Sebagian kita memanggilnya Gibson; Heri; atau juga Giman (Gibson Manurung). Kita mengenalnya sebagai pribadi supel, periang dan pekerja keras.

Bang Gibson begitu aku akrab menyapa dia. Dia punya cara berpikir yang jauh melampui orang di sekitarnya. Dia seperti Gus Dur yang susah ditebak. Dia selalu berbeda; menantang kebiasaan zaman. Bersama dia, kita seolah tidak ada matinya. Selalu ada saja yang baru.

Aku masih ingat ketika dia terpaksa kembali ke Jakarta. Hari di mana dia melangkah pergi, itulah hari paling kelabu bagi PNB. Kita tidak sekadar kehilangan seorang brother. Tapi kita kehilangan pekerja keras sekaligus motivator handal.

Aku masih ingat ketika kami sama-sama merawat PNB. Kami akrab menjelajahi malam, menapaki jalan-jalan tidak di kenal untuk bersua dengan jemaat atau dengan pemuda yang lain. Bagi Bang Gibson, tidak yang ada tidak bisa. Dia rela berjalan kaki berjam-jam hanya untuk menyapa pemuda-pemuda kita; mengajak mereka bergabung di PNB.

Aku masih ingat betul! Ketika aku harus pergi jauh mengejar mimpi. Dia yang paling mendukung. Berbicara dengannya, aku merasa bertemu Plato yang bijak itu.

Tidak banyak orang tahu apa yang sudah dikerjakan Bang Gibson untuk HKI Dahlia. Dia bukan sosok kontroversial. Dia bukan tipe pengejar popularitas. Dia seorang pemalu yang lebih memilih berkarya di balik panggung.

Bang Gibson memang tidak bersama kita lagi di Dahlia. Tapi kita tidak ragu, kalau hatinya selalu ada bersama kita. Sekalipun dia tidak pernah melupakan gereja ini. Tidak sedetikpun.

Besok (Sabtu, 09 Januari 2010) Bang Gibson akan memasuki hidup baru. Seorang perempuan Batak yang baik hati, telah dipilihnya sebagai pendamping hidup: Damaiyanti br. Tampubolon. Esok, dia tidak lagi sendiri.

Sebagai sahabat, saudara dan kawan se-iman, kita berbahagia buat berita ini.

Selamat menikah Bang Gibson!

Salam hangat dari:

Sonia Sirait

happywedding! :D

Maida Pasaribu

congratulation.. God bless both of you

Nanchy Sagala

Happy wedding bang..
Tuhan mberkati keluarga baru abng..

Horas El Cairo Purba

Slmt menempuh hidup baru bang.
Tuhan memberkati keluarga abang.

Sherylin Tierza Sirait

Happy wedding bang. Always be blessed

Tagor Efendi

slamat mnempuh hidup baru bg, maranak sapuluh pitu marboru sapuluh walu..... He.... He... Jd gagal deh program kb pemerintah

Tahan Junianto

Happy weeding y bg...

Niasi Pasuria Vostarika

selamat menempuh hidup baru, bang.. semoga keluarga yg dibangun diberkati Tuhan selalu.

Rivalina Manik

slmt yah bg.. Gbu alwayz...

Yahya Henry Sinaga

selamat berbahagia ya... mudah-mudah cepat dapat momongan...

LisTon Sinaga

happy wedding ya bang.

Sunday, January 03, 2010

Pertemuan singkat yang hebat

Tulisan ini dicomot tanpa izin dari FB Ruth P. Sitompul. Dia penulis hebat yang sedang mengerjakan karya dasyhat...

----

KOTA MEDAN, selalu menjadi seribu makna bagiku. Sungguh berat bagiku untuk meninggalkanmu. Demi kemandirian dan hidup lebih berilmu, kutinggalkan engkau 7 tahun yg lalu. Tujuanku bukanlah kota Jakarta, tetapi kota yg bisa membuatku mandiri dan berilmu lebih. Sudah kudapat tujuanku, inginku berpetualang ke tempat lain, namun nafasku masih ada di sana. Hmmm.... Baiknya berpetualang bersama segenap hidupku. Hahaha....

Namun hatiku tertambat di Medan. Aku ingin selalu kembali ke kota ini. Bukan karena penduduknya yg ramah, bukan karena ortu yg ada di sini, bukan karena teman2ku yg asyik. Hah... Hanya demi orang2 yg belum kukenal kah?

Tommorow I'm back to a real life... Pfiiuuhhh... Sudah kubayangkan bau asap, teriakan ramai, antrian, kemacetan, istirahat yg kurang cukup. Sometimes I think it's not a life, but it is. Bukan krn aku ga fight ya, tetapi everything about dream. Sudahlahh... Pamahami saja.

The party is over, tubuh ini masih merasa pegal, canda tawa itu masih berasa, teriakan anak2 itu juga, lantai yg berserak, lengket dan para pekerja yg masih bersemangat berberes.

Bertemu teman lama, menuang cerita. Cerita dari Erix yg memotivasi. Cerita dari Day-Day yg membawa aura serius, ssttt... Jangan sampai dia gokil, parah! Posma, pria romantis penyuka Kenny G, symponi nan indah, suka ngomong blak-blakan, tak suka dengan orang yg menjaga perasaan. Hmmm... Good! Teman baruku dari Padang, Sui (nanti kucari nama lengkapmu di fesbuknya Erix). Sui temennya Erix di Aceh, Nias. Sdh bisa ditebak apa pekerjaan mereka. Hahaha....

Tertawa renyah kalian masih terngiang. Apa topik bahasan kita? "Woi, kalau kalian tempat apa yg paling berkesan? Kalau aku....", itulah si Erix, ahli budaya kami, calon dosen.
"Erix, lo emang ga da matinya dah...". Klo ngomong sama kawan ini, kita harus menjadi pendengar yg baik saja, nanti keluar ilmunya semua. Jangan ajak dia berbisnis, jangan tanya fluktuasi saham padanya, tanyakanlah "bagaimana seharusya bangsa ini? Apa yg seharusnya dilakukan anak muda indonesia?".
"Sudah jo... Klo ngomongin budaya dan politik lu emang jagonya".

Temans, ceritamu memotivasi aku utk berkeliling Nusantara. Asyik kali bisa menuliskan cerita dari penduduk asli suatu daerah, kebiasaan mereka, bgmn mereka beratahan hidup. Yang paling penting, apa yg mereka makan. Kulineerrr.

Hai temans, seadainya saja kita seakrab ini dulu. Tapi hidup yg berputar itulah yg membentuk kita, sehingga kita bisa bertemu.

Waduhh... Ga kuat utk ceritakan semua cerita kita tadi, sudah kurebahkan tubuhku, kakiku yg pegal berselimut, jariku masih menari-nari di atas keypad BB mengikuti perintah sensori.
Huuaammm.... Besok ajalah ngepak buku seabrek ini.
Btw, laparnyoo.. Awak tak banyak makan tadi.

(*)