Surabaya: kuliner, sejarah, religi dan protitusi.
SELASA (8/6) langit di ujung Pulau Jawa dilingkupi awan hitam. Di kejahuan, jembatan Suramadu berdiri tegak menghubungkan dua daratan. Pelan-pelan pesawat menungkik menghampiri daratan. Ban pesawat menjerit keras ketika menambrak aspal landasan. “Selamat datang di Bandara Internasional Juanda (BIJ),” imbuh crew Garuda GA 320 semenit kemudian.
BIJ dibangun persis keraton Jawa. Atapnya dirancang dengan model Joglo. Tubuhnya terbuat dari beton dan dibalut dou cokelat: tua dan muda. Kontras dengan kulit luar, bagian dalam BIJ diplot moderen. Kesan Jawa jauh sama sekali. Tidak ada aroma kemenyan, bunyi gamelan, ukiran jawa dan ketoprak.
Berdiri di lorong BIJ, kita serasa berada dalam kotak besar. Desain interiornya mirip Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysa. Tiap bagian diberi sekat dari kaca transparan. Di kanan kiri tersusun ruang tunggu dan toko-toko. Ada toko batik, toko buku, tempat makan minum dan sebagainya. Bedanya! Tolilet di BIJ tetap ditulis “toilet”, bukan “tandas” seperti di KLIA.
Dari BIJ, aku segera menghampiri Kota Surabaya. Kota ini berdiri tahun 1293. Surabaya mirip Jakarta. Ini kota besar nomor dua di Indonesia. Hamparannya imbang dengan lima puluh dua ribu petak lapangan sepak bola. Hampir tiga juta orang mendiami wilayah yang dikenal sebagai rawa-rawa di masa Majapahit.
Aku menumpang taxi menuju Surabaya Plaza Hotel (SPH). Hotel ini bagian dari kawasan Plaza Boulevard di Jalan Pemuda. Ia dibagun molek lewat potongan arsitektur moderen.
Loby SPH tidak luas tapi ditata apik. Ada patung Dewa Wisnu di situ. Di bagian belakang ada kafe kecil. Setiap malam tamu disuguhi pertunjukan musik. Waktu aku tiba, sepasang gitaris membawakan lagu-lagu tahun 80an. Petikan senar membuat bulu kuduku merinding. Aku serasa pulang kampung. Asik!
SPH adalah neraka bagi perokok. Asap rokok haram di sini. Jika berani melanggar, Anda pasti didenda. Jumlahnya: satu juta rupiah. Berkelit juga tidak guna, karena sewaktu chek-in Anda sudah meneken kontrak: bersedia didenda.
Berani coba?
***
JALAN-JALAN belum lengkap tanpa makan-makan. Rabu (9/6) malam aku diajak Arif dan Arum menikmati es cream dan bebek goreng. Dua makanan ini markahnya Surabaya.
Pertarungan lidah dimulai dari kedai es cream Zangrandi. Kedai ini diambil dari nama Renato Zangrandi. Ia seorang Italiano yang melancong ke Surabaya. Zangrandi beropreasi pertama kali tahun 1930 di Dijkermanstraat. Sekarang daerah itu berganti nama menjadi Jalan Yos Sudarso.
Kedai Zangrandi tidak banyak berubah sejak zaman Belanda. Kursi rotan berliris merah setia menerima pengunjung. Pendopo jadi pojok favorit mencicipi ragam es cream. Fruti Tutti dan Macedonia tetap primadona. Keduanya sudah diproduksi sejak zaman kolonial.
Waktu mencicip tiba. Aku, Arif dan Arum punya selera berbeda. Hatiku tertambat pada banana spilt, Arum menikmati cokelat es cream. Arif memilih nodle es cream yang bentuknya mirip mie goreng.”Tapi ini es cream loh!” terang Arif.
Es cream bertemu lidah. Segar, manis, dingin pecah menjadi satu. Wafer cokelat yang renyah menambah kesempurnaan rasa. Lidahku berputar-putar. Nikmat benar.
Cak Imron datang bergabung. Ia laki-laki ramah dari Madura, suka berguyon dan kaya pengalaman. Cak Imron khusus datang menemani kami bercakap-cakap.
Selepas Zangrandi, pertarungan berlanjut di tempat berbeda. Es cream rupanya tak cukup ampuh membuat lambungku berhenti memelas. Bebek goreng Mercon sasaran berikutnya.
Nasi uduk, sambal ulek, dua potong timun iris, selada dan teh manis hangat siap dihajar. Pelan-pelan aku mulai mengunyah lembutnya daging bebek. Kulit bebek renyah merekah setelah digoreng. Saat dimakan rasanya begitu gurih. Lidah dan gigiku bahu membahu melumat kelezatan ini. Sepuluh menit kemudian, ludes semuanya. Tapi aku belum kenyang.
Sepotong ayam goreng datang menyusul.
***
RINAI luruh Kamis (10/9) petang. Surabaya basah kuyup. Pengemudi sepeda motor berlomba mencari tempat berteduh. Konon, hujan hari itu, menjadi akhir pengepungan cuaca panas di Surabaya.
Aku duduk di loby menunggu Arif menjemput sepeda motor. Ia berjanji enam puluh menit untuk pergi dan kembali ke hotel. Sambil menunggu aku membaca empat koran berbeda. Semua isinya sama: video “tali air”. Diduga kuat video itu diperankan Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari.
Perutku mulai merintih sedangkan hujan tak jua reda. Aku pindah ke kafe. Di sana seorang biduan berambut panjang tampil menghibur. Aku memesan secangkir coklat panas dan sepiring kentang goreng.
Arum datang menemaniku. Wajahnya tampak lelah, tapi seperti biasa Arum selalu bersemangat. Dibawah siraman lirik dan musik kami berbagi cerita. Kehangatan hot chocolate mengenjot percakapan. Sesekali kami mengomentari biduan yang asik berdendang.”Suaranya kurang sexy,” protes Arum.
Hujan mereda sesat setelah gelap sempurna menguasai Surabaya. Arif tiba di Hotel, namun kami tidak lagi bertiga, Pak Tony Hutabarat dan Mas Imron ikut bergabung. Agenda selanjutnya: makan Rawon Setan.
Kedai Rawon Setan tidak luas. Ia berdiri tepat di depan Hotel JW Marriot. Dulu kedai ini beroperasi di atas jam 10 malam. Itu alasannya ia dicap setan. Tapi sekarang kedai sudah bukan lebih cepat.
Rawon memang khas Jawa Timur. Panganan ini mirip soto. Ia dibuat dari daging sapi yang dipadukan dengan sop kaldu. Warnanya agak hitam.
Cita rasa rawon gurih di lidah. Rempah-rempah dimasak jadi satu dengan daging sapi. Asin, asam, pedas dan manis berpadu menciptakan sensasi kuliner. Sangkin nikmatnya, aku sampai lupa peluh mengucur di pelipis.
Malam itu Rawon tidak tampil sendirian. Ia ditemani ragam gorengan: limpa, tempe dan kerupuk. Ada juga telur bebek asin berwarna hijau, sambel ulek dan lalapan. Es teh, jus buah dan air mineral melengkapi kuliner kami. Perut kenyang, pikiran senang.
Sembilan puluh menit kemudian acara berganti. Kami nongkrong dipelataran The Surabaya Shopping Mall. Di situ ada kursi dan meja gratis yang bebas pakai selama 24 jam. Sambil berbagi cerita kami menikmati minuman ringan. Sekaleng bir dingin menjadi jatahku malam itu.
Di dekat tongkrongan, benda seni dan bersejarah bertebaran. Di seberang jalan, tepatnya di depan RRI Surabaya terdapat sebuah tugu. Tugu itu adalah tempat Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh. Pembunuhan yang kontroversial. Tidak jelas siapa yang membunuh Mallaby. “….it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who were approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him,” kata Tom Driberg pada tahun 1946. Driberg adalah anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh (Infokito.wordpress.com).
Yang pasti peristiwa terbunuhnya Mallaby memicu perang dasyhat di Surabaya. Sekutu membombardir kota ini dari laut, udara dan darat. Peristiwa itu terjadi pada 10 November 1945; sampai sekarang kejadian itu kita ingat sebagai Hari Pahlawan.
Gemiris tiba-tiba datang. Tetesannya menyapu percakapan kami. Kami segera minggat menghindari reruntuhan air langit. Tidak ada pilihan berteduh, akhirnya kami kembali ke hotel.
***
WAKTU sholat Jumat (11/6) belum tiba. Aku dan para communication officers (COs) menikmati makan siang terakhir. Seperti biasa, makan siang jadi ajang berbagi cerita lucu.
Aku bercerita soal kehidupan gereja yang unik. Ceritaku dimulai dari seorang anak kecil yang sedih karena kucingnya sakit parah. Anak kecil itu meminta bantuan seorang pendeta untuk berdoa. Anak itu percaya doa si pendeta akan mujarab; setidaknya begitu ia diajari di sekolah minggu.
“Pak Pendeta, tolong doakan kucing saya yang sakit ini?” kata si anak kecil memelas.
Pak Pendeta terkejut mendengar permintaan si anak. Ia merasa itu terlalu sepele dan tidak penting. Namun Pak Pendeta tidak tega menolak. Dengan setengah hati Pak Pendeta memenuhi keinginan si anak.
“Baiklah, mari kita berdoa,” kata Pak Pendeta.
“Kalau kau mau mati, matilah! Kau kau mau hidup, hiduplah! Amin.”
Ajaib! Beberapa hari kemudian si kucing segar bugar. Si anak girang minta ampun.
Beberapa bulan kemudian, giliran Pak Pendeta yang jatuh sakit. Ia menderita penyakit keras yang belum ada obatnya. Berita itu sampai di telinga si anak kecil. Hati si anak terpanggil untuk berdoa.
“Ini saatnya membalas kebaikan Pak Pendeta,” cetus si anak dalam hati.
Ia kemudian bergegas datang ke rumah sakit.
“Pak Pendeta bolehkah saya mendoakan bapak?” kata si anak kepada Pak Pendeta yang terkapar di atas meja perawatan.
“Silahkan anakku,” jawab Pak Pendeta.
Mengdengar jawaban, si anak tersenyum ramah. Ia melipat tangan dan menutup mata lalu berucap,”Kalau kau mau mati, matilah! Kau kau mau hidup, hiduplah! Amin.”
Semenit kemudian Pak Pendeta meninggal dunia karena serangan jantung.
***
HINGGAR binggar Piala Dunia seperti air bah yang membanjiri pelosok bumi. Tidak ketinggalan kota Surabaya. Di salah satu hotel murah, aku ikut larut menikmati permainan si bola bundar. Afrika Selatan melawan Meksiko.
Sebelumnya aku diajak Arif menikmati dinner murah. Kami melahap nasi campur kikil di pinggir Jalan Darmo. Sepotong ayam bakar menyempurnakan kesederhanaan kami. Soal rasa hanya ada dua kata: tabo hian (enak kali; kata orang Batak).
Selepas makan, kami berkeliling kota sejenak. Kami melintasi Hotel Majapahit. Hotel ini mulanya bernama Hotel Organje. Ia disebut begitu karena warna orangenya yang mencolok. Oranje didirikan oleh Lucas Martin Sarkies pada tahun 1910. Struktur dan desain gedung dikerjakan arsitek Belanda, J. Afprey. Di zaman Jepang, mana Oranje diganti menjadi Yamato.
Tahun 1945 terjadi peristiwa heroik di Hotel Yamato. Subuh, 19 September 1945, di atas Yamato, Belanda mengibarkan bendera tiga warna: biru, putih dan merah. Aksi itu memicu penolakan warga Surabaya. Mereka menuntut Prinsenvlag diturunkan. W.V.Ch. Ploegman menolak. Ia walikota Surabaya versi Belanda.
Pemuda Surabaya marah. Mereka menyerang Ploegman. Ploegman tewas ditikam. Pemuda yang lain meringsek masuk dan memanjat dinding hotel. Di puncak menara, mereka merobek warna biru dari The Prince Flang. Yang tersisa hanya warna merah dan putih, lalu dibiarkan tetap berkibar.
Setelah dari Hotel Majapahit, kami melintasi Jembatan Merah. Panjangnya tidak lebih dari sepuluh meter. Terdiri atas dua ruas jalan. Masing-masing punya lebar empat sampai lima meter. Ia disebut Jembatan Merah, karena besi pembatasnya diberi warna merah.
Setelah Jembatan Merah, kami memasuki Kembang Jepun. Ini kota lama Surabaya. Banyak gedung tua dibangun dengan gaya arsitektur eropa. Di zaman Belanda, daerah ini adalah pusat hiburan sekaligus perdagangan. Di zaman fasisme Jepang daerah ini terkenal sebagai tujuan plesiran. Tempat tentara Jepang bercengkrama dengan gadis-gadis muda. Sekarang Kembang Jepun banyak didiami oleh etnis Thionghoa.
Arif membawaku ke daerah Ampel. Ini tempat religius. Dinamakan Ampel karena di situ dimakamkan Mohammad Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel. Ia adalah penyiar Islam terkenal di Pulau Jawa.
Berada di Ampel, kita serasa berada di Timur Tengah. Banyak keturunan Arab yang tinggal di sini. Gaya hidupnya juga tidak jauh beda. Gadis-gadis mengenakan jilbab hitam yang menutup seluruh tubuh. Pria memanjangkan janggut dan memakai kopiah. Kulinernya juga dekat-dekat dengan Arab seperti kebab, martabak mesir dan lain-lain.
Selain makanan dan sejarah, Surabaya juga punya icon lain: prostitusi. Di ujung Pulau Jawan itu berdiri tegak lokasi esek-esek terbesar di Asia Tenggara: Dolly. Kata orang, berkunjung ke Surabaya belum lengkap tanpa melihat Dolly.
Hmmm…
Dolly bukan cerita baru. Aku pernah melihat potret Dolly lewat buku Sex For Sale karya Yuyung Abdi (2007). Di situ Pekerja Seks Komersial (PSK) dibuat laiknya barang dagang; dipajang di etalase. Di bawah sorotan lampu kerlap-kerlip PSK duduk manis menanti si hidung belang.
Aku duduk di atas jok motor yang disetir Arif. Di depan kami, Mas Adi memboceng Pak Toni. Kami melintasi sebuah jalan sempit. Kerumunan orang ramai di situ. Diantara kerumunan itu ada yang berseragam batik. Mereka adalah calo yang membantu si hidung belang memilih si kupu-kupu malam. Welcome to Dollywood.
Identitas Dolly agak beragam. Ada yang bilang mana Dolly diambil dari nama Dolly Van Der Mart. Seorang tante Belanda dengan naluri bisnis esek-esek yang tajam. Ada pula nama Dolly Khavit. Ia mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina. Pada tahun 1967, Dolly mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu (Kompas, 20/4/2008).
Model transaksi di Dolly terbilang unik. Semua aktivitas tercatat rapi. Dolly tidak mengenal negoisasi harga. Setiap kupu-kupu malam sudah punya bandrol sendiri. Pembayaran juga dilakukan lewat kasir. Menurut Umar, selain cantik-cantik, para PSK bersedia memberikan layanan apapun. "Tarifnya paling rendah Rp 125 ribu per jam," tambah dia (Viva News, 18/3/2010).
Prostitusi memang bisnis yang bertabur uang. Dolly sanggup mendulang pundi-pundi rupiah sampai 34 milyar setiap bulannya. Padahal, selain Dolly masih ada lima lokalisasi kecil lain yang tersebar seputar Surabaya. Diperkirakan ada lebih dari dua belas ribu PSK bekerja diseluruh lokasi itu.
Di Dolly surga dan neraka terpisah tipis. Anak-anak belajar membaca kitab suci, sedangkan di balik dinding sepasang manusia tengah bersenggama. Bukan cerita baru, kalau kupu-kupu malam Dolly rajin menggelar pengajian. Bahkan setiap tahun mereka mengadakan lomba pembacaan kitab suci. Tahun lalu mereka mengundang KH. Zainudin MZ dan pedangdut Rhoma Irama untuk berceramah.
Sepeda motor terus melaju. Kami memasuki wilayah kuburan Belanda. Makam orang asing ini disusun rapi dan dibuat menarik. Setiap kuburan didesain dengan material alam. Indah! Daerah ini dinamakan Pekuburan Kristen Kembang Kuning.
Setiap malam banyak orang yang datang ke sini. Ada laki-laki, perempuan dan ada yang berstatus “ganda”: wanita-pria (waria). Seperti di Dolly, mereka menawarkan jasa prostitusi. Tarifnya lebih murah.
Mereka juga tidak ribet soal tempat. Jika harga cocok maka lantai beton kuburan sudah cukup untuk melampiaskan hasrat.
Tidak percaya? ***