Wednesday, November 29, 2006

Demo anti Hutang di Birmingham, England, United Kingdom


This my home in Birmingham, United Kingdom


Friends


Jurnalisme Damai : Menyelesaikan Konflik tanpa Kekerasan

Birmingham, United Kingdom Sunday, 26 November 2006


Dalam perjalanan dari Birmingham ke Leicester, Inggris, Jumat [ 17 /11 ] minggu lalu. Aku membaca buku yang dipinjamkan Wardi Ode Bello, seorang sahabat dari Ambon, Maluku. Buku itu berjudul “ Perlawanan Tanpa - Kekerasan ; cerita-cerita dari Daerah Konflik di Indonesia”. Selama 120 menit buku terbitan Center for Security and Peace Studies (CSPS) Universitas Gajah Mada (UGM), mampu membuat ku merasakan ketar ketirnya konflik. Kumpulan cerita-cerita para inisiator perdamaian di Poso, Pontianak dan Ambon itu, mengambarkan dengan jelas, betapa “mahalnya” harga yang harus dibayar untuk satu perdamaian.

Jurnalisme Perang dan Jurnalisme Damai..


Setelah membaca buku itu. Pemikiran ku menerawang mengingat teori jurnalistik yang pernah baca. Aku teringat dengan satu ideologi baru dalam jurnalisme. Peace Jurnalism, begitu ideologi itu diberi nama..


Jurnalisme Damai [ JD ] awalnya dipopulerkan oleh Prof.Dr.Johan Galtung dalam sebuah kuliah di Taplow Court, Buckingham Shire, Inggris [1997]. Model jurnalisme ini mengambil bentuk yang berlawanan dengan Jurnalime Perang [ JP]


Masih jelas terlintas dibenak kita perang Irak yang dimulai tahun 2003 lalu. Waktu itu, Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya, Inggris, menyerang pemerintahan Saddam Hussein. Dengan dalih, Irak “menyimpan” senjata nuklir yang mengancam dunia. Pasukan Koalisi [ AS, Inggris dan sekutunya ] lalu memporakporandakan negeri 1001 malam itu.


Namun, perang tidak hanya terjadi di padang pasir atau kota-kota di Irak. Perang pun terjadi di televisi. CNN, Fox News dan NBC “bertempur” habis-habisan melawan televisi Al – Jazeera dan Al –`Arabiyya untuk merebut opini publik.


Media-media AS, terang-terangan membela kebijakan politik George W. Bush. Bahkan media-media itu berusaha menggiring penontonnya ke diskursus "strawars". Dimana kecanggihan perlengkapan perang menjadi fokus utama mereka. Penonton "dihipnotis" seolah-seolah perang hanya pertarungan kecanggihan teknologi, tanpa ada korban dari sipil. Tujuan utamanya jelas, agar penonton mendukung perang Irak.


Disisi berbeda, Al - Jazeera menganggkat pemberitaan korban perang sebagai fokus utama. Cuplikan-cuplikan gambar korban-korban bom AS, memberikan kesan sesungguhnya kepada penonton tentang perang. Al- Jazeera juga menampilkan kekalahan-kekalahan pihak koalisi. Tujuannyapun jelas, membangun semangat anti invasi.


Belajar dari Perang Teluk pertama, ketika Irak menginvasi Kuwait. Petinggi militer AS telah menyadari pentingnya peran media. Waktu itu, AS memakai sistem pool : wartawan dikumpulkan dalam satu pool, lalu ia meliput dengan bantuan militer. Fenomena itu disebut embdded journalist yaitu wartawan “melekat” di dalam militer.


Di Indonesia model embded journalist itu pernah terjadi ketika Operasi Darurat Militer II di Aceh tahun 2003. Wartawan yang akan meliput di Aceh diharuskan mengikuti pelatihan militer di markas Kostrad. Bahkan wartawan diwajibkan mengenakan seragam loreng-loreng, tak beda dari tentara sungguhan. Diduga tujuan militer mengeluarkan kebijakan ini, agar wartawan lebih bisa “dikontrol”. Terutama agar berita yang dipublikasikannya tidak "menyudutkan" pemerintahan yang berkuasa. Jelaslah media, menjadi bagian penting dalam perang.


Kembali ke JP . Model jurnalisme ini lebih mengedepankan pada hasil menang kalah ( win – lose solutions). Seperti pertandingan olahraga, maka kemenangan merupakan berita besar, begitu pula kekalahan. Logika pemikiran ini diambil dari teori jurnalistik klasik, dimana tugas wartawan adalah “melaporkan fakta apa adanya”.


Dalam arena konflik, seperti di Poso, Pontianak dan Ambon. Model JP cenderung terfokus pada kekerasan sebagai penyebabnya dan enggan menggali asal-usul struktural sebuah konflik itu secara mendalam. JP hanya berkosentrasi pada fakta-fakta seperti korban tewas atau terluka, kerusakan material yang kelihatan, bukan kerusakan psikologis, struktur atau budaya. Model JP ini menyelesaika konflik dengan rumus, perdamaian = kemenangan + genjatan senjata.

Model perdamaian ala JP sebenarnya tidak lebih dari bom waktu. Kelompok yang sedang “kalah” saat ini, akan menggunakan perdamaian untuk mengumpulkan kekuatan. Disaat kelompok yang “menang” lengah dan merasa diatas angin. Giliran kelompok yang “kalah” menyerang balik. Ini sama saja konflik tidak berakhir.


Bagaimana dengan Jurnalisme Damai (JD). Menurut Annabel McGoldrick dan Jake Lynch (2000), Jurnalisme Perdamaian (JD) melaporkan sesuatu kejadian dengan bingkai yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Tujuan utamanya adalah memetakan konflik, mengindentifikasi pihak-pihak yang terlibat, dan menganalisis tujuan-tujuan mereka. Pendekatan JD adalalah memberikan jalan baru bagi pihak-pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik secara kreatif dan tidak memakai jalan kekerasan. Prinsip ini disederhanakan dengan rumus, perdamaian = Non – kekerasan + kreatifitas (Purnawan Kristanto, Jurnalisme yang membawa perdamaian, tt).


Logika JD menggunakan pendekatan menang-menang ( win-win solutions) untuk menyelesaikan konflik. JD percaya, kreatifitas menjadi salah kuncinya. Caranya dengan menyediaan alternatif penyelesaikan konflik. Hal itu diyakini mampu mengurangi konflik sampai menuju titik perdamaian.

Pers dalam logika ini berfungsi membangun debat publik yang sehat tentang kepentingan umum. Alur berpikir JD dimulai dari merumuskan (1) masalah (2)penyebab (3) alternatif penyelesaian (4) evaluasi alternatif (5) pilihan alternatif terbaik (6) sistem dan mekanisme pelaksanaan (7) evaluasi dan feedback. Menurut Prof.Dr.Johan Galtung, hikmah menjadi tujuan akhir dari model jurnalisme seperti ini.


Ya, hikmah menjadi bagaian yang penting setiap konflik. Menyadari konflik fisik hanya menghasilkan penderitaan. Untuk menyadarkan itulah, kita membutuhkan Pers dengan Jurnalisme damainya. [***]

Ada jawa di Black Country, England, United Kingdom


Disudut lain kota Birmingham, England, United Kingdom


Me Vs Shakespeare, Who is win ?


hmmm..menikmati karya seni


Wednesday, November 22, 2006

Stop, Stigma Keturunan eks PKI *)

"Bersalahkah Iba [Aidit] hanya karena ia anak ketua PKI ?", dikutip dari " Surat Terbuka untuk Pramodeya Ananta Toer", tulisannya Goenawan Muhammad, dipublikasikan Tempo Edisi 000409-005.

Kalimat diawal tulisan ini merupakan pertanyaan yang sama, yang berpuluh tahun terngiang dikepala keturunan eks tahanan politik (tapol) Partai Komunis Indonesia (PKI). Pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Barulah KH. Adbul Rahmand Wahid atau Gus Dur, pada saat itu menjabat Presiden Republik Indonesia, menjawab pertanyaan diatas secara terbuka dengan mengatakan "tidak ".

Secara logis, sudah barang tentu seorang anak tidak dapat disangkut pautkan. Apalagi dipersalahkan karena orang tuanya terlibat partai politik tertentu. Seperti Partai Komunis Indonesia (PKI) ditahun 1960-an. Apalagi, PKI saat itu merupakan partai politik yang resmi. Baru kemudian dinyatakan terlarang ditahun 1966. Akan berbeda tentunya, jika dari awal PKI sudah dinyatakan terlarang. Pastilah setiap orang akan berpikir dua kali sebelum bergabung dengan organisasi ini.

Namun Gerakan 30 September 1965 [ yang belakangan oleh banyak orang, seperti Asvi Warman Adam, peneliti Sejarah LIPI, meragukan keterlibatan PKI secara organisasional ], pada akhirnya menyeret PKI bersama simpatisannya kejurang pembantaian.

Kemunculan lembaga KOPKAMPTIB (Komando Operasional Pemulihan Keamanan dan ketertiban) yang bekerja melaksanakan operasi intelijen. Lalu LAKSUSDA (Pelaksanaan Khusus Daerah) dan LITSUS. Menjadi "sejata" yang tanpa kenal ampun memberangus apapun yang identik dengan PKI

Tak terhituang secara pasti berapa korban jiwa selama penumpasan PKI. Sampai saat ini untuk menentukan jumlah yang sah pun sulit. Disaat Laksamana Soedomo menjabat Panglima KOPKAMPTIB , dia [ Soedomo] menyatakan2 juta orang yang terbunuh. Namun Sarwoedhi Wibowo yang pernah menjabat Panglima ResimenPara Komandon Angkatan Darat (RPKAD), mengklaim 3 juta orang yang terbunuh. Besarnya jumlah kematian itu jadi gambaran nyata, kengerian yang terjadi di Indonesia rentan tahun 1965-1966.

Namun jumlah diatas masih kalah jauh dengan jumlah orang yang harus dipenjara dan diasingkan. Hanya karena dituduh satu kalimat " terlibat PKI". Pada hal, banyak diantara mereka bukanlah orang PKI bahkan tidak mengenal PKI sama sekali.

Lalu dengan kampanye "Bahaya Laten Komunis", keluarga tapol PKI pun tak lepas dari imbas politik massa itu. Berbagai produk politik dibuat untuk membatasi ruang gerak keluarga PKI ini. Sebutlah satu persatu, mulai surat bebas G30S, Bersih lingkungan, Wajib Lapor, TAP MPRS no.25/1966, tanda E.T pada kartu penduduk, Peraturan Menteri Dalam Negeri No.32/1981. Pastinya, peraturan itu berhasil "mengalenasi" keluarga-keluarga ini dari kehidupan sosialnya.

Bahkan anak-anak tapol PKI itu harus pula kehilangan haknya, seperti hak menjadi pegawai negeri sipil. Termasuk untuk mengecam pendidikan disekolah negeri, anak-anak tapol sulit mendapatkan tempat. Dalam kehidupan sehari-hari pun, anak-anak tapol itu kerap didiskriminasikan. Seperti Septi Wulandari, putri Sumilah eks tapol PKI. Karena situasi orang tuanya, Septi tidak bisa mendapatkan beasiswa. Padahal dia pandai (kompas,5/7).

Perlidungan HAM sebagai tanggung jawab negara

Dalam konsep Hak Asasi Manusia (HAM), negara memiliki tiga kewajiban. Pertama , menghormati (to respect). Kedua, melindungi (to protect) dan ketiga, memenuhi ( to fulfill) hak-hak asasi setiap warganya.

Dalam kasus diskriminasi yang dialami keturunan eks tapol PKI. Negara sudah melakukan pelanggaran HAM. Dengan membiarkan terjadinya diskriminasi dan turut membatasi hak-hak keturunan eks tapol PKI. Karena setiap individu dinegara ini tidak - bisa - dibatasi haknya, selama (secara individu) tidak terlibat langsung dalam proses pelanggaran hukum.

Sehingga tidak logis dan tentunya tidak dibenarkan secara hukum, seorang anak yang masih janin, harus ikut menanggung diskriminasi, akibat tindakan orang tuanya. Logika berpikir manapun tidak akan "membenarkan" tindakan itu. Apalagi dalam sistem hukum Indonesia tidak dikenal istilah dosa turunan. Untuk kasus ini, negara RI sudah melanggar HAM.

Karena itu tidak berlebihan jika eks tapol PKI mengajukan class action kepada presiden dan mantan presiden Republik Indonesia. Karena stigma yang mereka dan keturunan mereka dapatkan selama bertahun-tahun telah banyak merugikan. Apalagi, banyak eks tapol PKI itu dihukum tanpa proses pengadilan sebelumnya. Dengan nama kekuasaan politik, waktu itu, mereka dituduh terlibat PKI. Lalu dipenjara begitu saja tanpa proses pembuktian terlebih dahulu di pengadilan. Sampai saat ini banyak diantara tapol ini tidak mengerti, kesalahan apa yang mereka perbuat, sehingga mereka harus dipenjara. Ini jelas pelanggaran HAM.

Kami sangat yakin nilai Rp. 1 Milyar bukanlah tujuan utama perjuangan para eks tapol PKI ini. Tapi pengakuan dan rasa keadilanlah yang sebenarnya mereka cari. Dan itu memang pantas mereka dapatkan.

Tak ada Kebenaran tanpa keadilan dan tanpa pengampunan.

Jika pemerintahan SBY ini berani berunding dengan Gerakan Aceh Merdeka [GAM]. Lalu Menteri HAM dan Perundang-undangan, Hamid Awaluddin, dengan lantang menyatakan RI memberikan GAM amesti dan mengembalikan hak politiknya. Mengapa kepada eks tapol PKI, pemerintahan ini sulit sekali melakukan hal yang sama. Pada hal GAM dan PKI sama-sama memberontak dengan dasar ideologi, PKI dengan komunismenya dan GAM dengan Fundamentalisnya.

Sejarah tidak mungkin diulang kembali. Apa yang terjadi dimasa lalu, merupakan pelajaran berharga. Sangatlah penting saat ini, kebenaran diangkat. Salah satunya melalui pelurusan sejarah. Tanpa kebenaran tidak mungkin ada keadilan. Tanpa keadilan, tidak mungkin bangsa ini akan berjalan bersama. Begitu pula jika mereka [ eks tapol PKI ] ketika sudah mendapatkan keadilan. Maka pengampunan merupakan "balas dendam" terbaik. Tanpa pengampunan, tetap saja kebencian akan berurat berakar sampai anak cucu. Sampai kapan seperti ini ?

Jika negara ini terus-menerus mewarisi stigma dalam kehidupannya. Maka selamanya sejarah negara ini akan penuh dengan permusuhan. Mungkinkah seorang anggota GAM akan hidup dengan damai tanpa cap bekas pemberontak (?). Terlalu naif jika ada yang mengatakan bisa, karena negara ini punya sejarah buruk dalam menghargai keturunan bekas pemberontak, contoh terbesarnya adalah keturunan PKI. Saatnya lembaran baru harus dibuka. Katakan " STOP stigma keturunan PKI." [ *** ]

*) Artikel ini di tulis bersama dengan Abang ku, Arnold Hutasoit, SH [ anggota Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Utara ]. Artikel ini merupakan manifestasi pandangan kami bersama menganalisa persoalan diskriminasi yang dialami Keturunan eks-tapol PKI. Kami sadar, tulisan ini akan ditanggapi dengan berbagai argumen pro dan kontra. Namun kami percaya bahwa tidak mungkin ada kebenaran tanpa keadilan, dan tidak ada pula keadilan tanpa pengampunan. Tulisan ini dipublikasikan pertama kali oleh Majalah Suara Hati, YMCA Medan, Edisi II, Tahun 2005. Lalu disitus www.jakarta.indymedia.org

Tuesday, November 21, 2006

Kebaktian di Gereja St. Martin`s Bulrings - Birmingham, United Kingdom


St. Martin. Salah satu gereja yang paling terkenal di Birmingham, Inggris
foto source : http://freepages.family.rootsweb.ancestry.com/


***

MINGGU, 26 November 2006 - Kriingg..tiba-tiba alarm HP ku berbunyi. Pukul 08.30 am, tapi aku tidak buru-buru bangun dari tidur ku. Masih ngantuk, jadi keteruskan menutup mata. Tiga puluh menit kemudian, aku bangun lagu bergegas menuju Bathrooom. Oh...ada yang lagi Shower. Lalu aku turun kelantai satu. Hari ini aku harus kebaktian di St. Martins (*)

Saturday, November 18, 2006

Makam Shakespeare di Staford, United Kingdom

Berdiskusi dengan seorang Atheis..

Loughbrough, United Kingdom (UK)
18 November 2006
Pkl.12.27 am

Siang ini aku sedang asik-asiknya menikmati alunan musik komposer besar, Johan Sebastian Bach. Tiba-tiba aku teringat diskusi hangat dengan seorang laki-laki di Birmingham kamis [09/11] minggu lalu. Yang unik dari diskusi ini, karena si laki-laki tidak percaya Tuhan itu ada.

Diskusi kami dimulai dari cerita tentang Education Activity Day (EAD) sekelompok pemuda, Rabu [08/11] kemarin. EAD mereka bertema : Niqab [ Jilbab yang hanya terlihat matanya]. Waktu itu terjadi peristiwa yang tidak "terduga" sebelumnya. Peristiwa titu diawali dari role play yang intinya menceritakan diskriminasi terhadap pengguna Niqab. Seorang diantara peserta memerankan Ms. Z -- perempuan ber-Niqab. Si pemeran kebetulan seorang perempuan "British". Ketika sipemeran memulai adegan [ untuk membuat situasi seperti kenyataan, maka si pemeran dikenakan Niqab ] tiba-tiba dia [ si pemeran Ms. Z ] menangis dan tak mampu berkata-kata. Keadaan ini bukanlah seperti skenario. Lalu, si pemeran meminta maaf. " Im sorry i can not do it". Kemudian dia membuka Niqabnya secara terburu-buru, lalu pergi meninggalkan Niqab dan ruangan begitu saja. Peserta lainnya terbengong-bengong melihat peristiwa ini. Ya, tentulah kejadian ini sangat menyakitkan ..

Bisakah kita hidup berdampingan ?

Begitu mendengar cerita, si laki -laki atheis itu berkata." oh, she is not sensitive". Baginya, kejadian itu tidak perlu terjadi jika satu sama lain saling menghormati. " it is just role play". katanya lebih lanjut...

" Is possible discussion people who believe to God with unbelievers. How do you think ??" tanya ku. Lalu dia menjawab " Ya, possible, but we must sure what subject to discuss and that must clever discussion". " If the subject about God exsist or not, our discussion only make conflict". Katanya menyakinkan ku.

" Why you think like that" tanya ku lagi kepadanya. lalu aku ikutkan lagi satu pertanyaan. " Could you explaining, what is clever discussion ? "..

Kemudian laki-laki itu menceritakan tentang program talk show di Radio British Broadcast Company (BBC). Talk show ini mengambil topik yang sama. " Faith". Dua pembicara yang hadir adalah Bishop of Centriburry [ Pemimpin Church of England ] dan mantan jurnalis BBC yang tidak percaya Tuhan itu ada.

Permbicangan hangat itu berkutat tentang " God exist or Not ". Bagi si jurnalis dengan pengalamannya berkeliling dunia mengumpulkan berita. Dia banyak melihat ketidakadilan yang terjadi . " To much suffer.." begitu si laki-laki athies itu menirukan ucapan si jurnalis. Berbekal kenyataan itu, si jurnalis mulai mempertanyaan Tuhan itu ada atau tidak. Dalam upaya pembuktian itu, si jurnalis sampai kesatu kesimpulan. " I not beileve God is exist".

Lalu gilirang sang Bishop yang beragumenatasi. Bishop mulai menjelaskan satu persatu konsep tentang Tuhan. Namun dimata silaki-laki atheis itu, Bishop tadi tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada. " He not able to prove that God is Exist" katanya..

Laki-laki tadi menjelaskan, kalo di UK model diskusi seperti si Bishop dan Atheis tadi biasa terjadi. " Here, you can ask people directly. Eventough he is leader of church like Bishop of Centriburry".

Laki-laki itu meneruskan penjelasan". " But, both of speaker cannot prove anything. The journalism, he not able to prove God is not exsit. Evenmore Bishop, he not able to prove too God is exist. But this clever discussion, they not fighting one each others".

Bagi laki-laki itu, tidaklah penting memperdebatkan Tuhan itu ada atau tidak. Karena dari dulu itu hanya mengakibatkan pertentangan. Logika laki-laki ini sederhana, jika Tuhan itu ada apa untung baginya. Lalu disisi berbeda, jika Tuhan itu tidak ada apa rugi baginya. " Exist or not, there no impact to my life" katanya...

" The problem came if you try push another people to be came same with you. The fundemental push people must believe to they religion. They want all people live in their rule"." In otherside, Atheis push people to not believe God"." What for ? they only built the conflict, thats i say not clever discussion". Laki-laki itu menyakinkan ku...

Intinya : " Sensitive one each others "

" The most important is how you live together in society without conflict ? " tanya nya kepada ku. Lalu aku jawab " Respect each others ? ". " Corret, the key is sensitive with anothers" tegas nya..

Semua orang menginginkan hidup dengan tenang. Tidak ada satupun orang yang bilang." Nyaman hidup dalam ketakutan ; Menyenangkan hidup jika saling membunuh satu sama lain". Semua orang ingin tenang dan bebas melakukan aktivitas tanpa harus takut kehilangan nyawa. Sensitif dengan perbedaan, menjadi sangat penting dalam hidup yang beragam.

Diakhir diskusi, si laki-laki atheis mengingatkan tentang sejarah panjang gereja di Inggris. Ya, kekuasaan gereja pernah begitu dominan disini. Sejarah Inggris mencatat bagaimana Bishop of Leicester menjadi orang penting kedua di Inggris, setelah King Henry VIII. Perintah Bishop waktu itu adalah mutlak, seperti titah sang raja yang berkuasa secara politik. Namun, sejarah Inggris juga mencatat, pemimpin gereja pernah "salah" dalam perjalanannya. Dan itu harus dibayar mahal dengan "ketidakpercayaan" banyak orang lagi kepada agama Kristen.

Catatan sejarah tadi, setidaknya bisa menggantar kita dalam memahami atheisme di Inggris. Namun atheis atau tidak bukan masalah utama. Sama seperti pemikiran si laki-laki atheis " For Debating about God exist or not, is not necesary"." The important is how we live togehter without fears".

" I beileve God, but i believe this my personal relations. Because i believe He exist, so i show to you with my attitude. If i do good thing to you, because my God order me like that." " I just believe to God, to my Jesus Christ, not to church leader or Church Administration. Church leader is human, she or he can make mistake too. Like yours country history." "So if i not like finghting with you, because my God order me to not finghting with any one, we must give loves with the others".Tandas ku menutup diskusi dengan bahasa Inggris ku yang berantakan...

"Hmm...i agree with you. If all people think same, we can live in peace". Katanya mengakhiri diskusi..

Diskusi dengan si laki-laki atheis ini memang sangat dangkal, tidak sampai kewilayah filosopi. Tapi, dari dia aku belajar tentang arti sensitifitas. Selama di Inggris, memang isu ini jadi bagian yang hangat. Karena banyak orang yang tidak mau sensitif dengan yang lain. Lalu memaksa yang lain untuk sama dengan dirinya. Walaupun "perbedaan" itu sangat prinsipil. Dan ketika itu memasuki wilayah "privat" seperti agama. Ketidak sensitifan akan menghasilkan konflik. Bahkan konflik fisik. Kalo sudah begini, menyesal jadi kata yang terlambat. [ *** ]

Friday, November 17, 2006

Mencari Mu

My Prayers..



Selamat malam Bapa ku yang di sorga

Terpujilah nama Mu

di bumi dan di sorga

Bapa ku yang baik,

terima kasih buat nafas kehidupan ini.

Terima kasih buat hari-hari yang KAU berikan.

Terima kasih buat pengalaman yang KAU perkenan terjadi pada ku.

Bapa ku yang baik, terima kasih buat rasa cinta yang KAU titipkan

Terima kasih buat perasaan yang kurasakan saat ini...

Tapi Bapa, kini aku diliputi kebingungan dengan semua itu..

Aku takut Bapa, Aku takut...

Bapa yang baik, kini aku diantara kebahagian dan ketakutan..

Disatu sisi, aku bahagia dengan apa yang terjadi belakangan

Aku merasakan lagi kehangatan kasih sayang..

Perasaan yang sudah lama hilang dari ku, Bapa..

Bapa yang baik, aku tahu ini bukan kebetulan..

Aku yakin, ini semua rencana mu..

KAU tidak membiarkan aku sendirian dalam ketertekanan...

KAU berikan aku penyejuk perasaan..

Seorang yang bisa kuandalkan, Seorang yang bisa ku banggakan

Seorang yang bisa membuat ku tertawa, pecaya diri bahkan menangis

Bapa yang baik, aku tidak tahu, apakah ini namanya " Jatuh Cinta"

Bapa yang baik, aku tidak tahu, beginikah rasanya "disayangi"

Oh..Bapa terima kasih buat perasaan luar biasa ini..

Tapi Bapa ku yang baik..

Aku takut, Aku takut, Aku takut Bapa...

Aku takut kehilangan dia...

Bapa ku yang baik..

Kenapa KAU tempatkan aku seperti ini..

Kenapa KAU berikan sesuatu yang membuat ku takut..

aku takut kehilangan Bapa..

aku takut kehilangan Bapa..

Oh..Bapa ku yang baik

Bantulah anak mu ini agar lebih bijaksana

Bantulah anak mu ini agar tidak salah melangkah

Bantulah anak mu ini untuk menyakini pilihan ku..

Oh...Bapa ku yang baik

Mungkinkah aku akan kehilangan semuanya..?

Mungkinkah aku tak mendapatkan apa pun ?

Oh...Bapa, maafkan aku jika aku terlalu mengeluh..

aku benar-benar takut Bapa..

Tapi, aku percaya Bapa, semua adalah rencana mu..

Ajar aku Bapa untuk siap menerima segalanya..

Ampuni dosa-dosa anak mu ini, agar aku layak memanggil mu Bapa

Ajari anak mu ini Bapa, untuk mengampuni dosa sesama nya...

Terima kasih Bapa, Terimalah doa yang tidak sempurna ini.

Dalam nama Anak Mu, Yesus Kristus, aku mengucap syukur..

Amin..

[ Loughbrough, United Kingdom, 17/11 /2006, 23.44 pm ]

Positive Deviance : Kampungan yang Cerdas

Loughborugh,United Kingdon, 17/11/2006

Seminggu setelah wisuda dibulan Februari lalu, aku mendapat panggilan bekerja dari NGO Internasional, Save The Children (STC). Berbekal hobby rekam merekam, aku dikontrak membuat film dokumenter bertajuk "penyimpangan positif". Lokasi pembuatan film ini bertempat di Belawan. Salah satu pusat kemiskinan dipinggiran kota Medan, Sumatera Utara.


Tamatan SLTP "menggurui" Masgister sains

Positive Deviance (PD), begitu dua kolega ku menjuluki program ini. Kolega pertamaku seorang laki-laki tinggi, berkumis dan berlogat sunda. Namanya, Nanang Suryana, S.Km, Msc, pengasuh mata kuliah PD pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Nanang juga tercatat sebagai kepala seksi pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kolega keduaku seorang perempuan warga negara Amerika Serikat (AS). Namanya, Mirandha, International Project Officer Save The Children (STC) Indonesia. Lulusan Magister of Nutritions dari universitas ternama di negara Uncle Sam. Kedua kolega ku ini, dikenal luas sebagai "ahli" penanganan busung lapar di Indonesia.

Selama sebulan penuh, mereka berdua "belajar" tentang gizi anak dari kumpulan "guru" tanpa titel sarjana. Sekumpulan guru yang dimaksud, tidak lebih dari buruh, pedagang kaki lima dan ibu rumah tangga biasa yang hidup didaerah kumuh, Belawan. Dimata mereka [ Nanang dan Mirandha ], miskin bukan berarti bodoh. Terus terang aku cukup tergelitik dengan cara "belajar" model beginian. Maklum saja, waktu itu aku baru menyelesaikan S-1 dibidang ekonomi. Sedikit banyak, aku masih "sombong" dengan titel sarjana yang kusandang.

Ide belajar mereka sangat sederhana. Yaitu mencari "keganjilan" dalam masyarakat miskin. Sebelumnya ada pameo yang kerap terdengar : "Kesehatan anak tergantung tingkat pendapatan dan pendidikan orang tua". Namun, tak jarang ada anak orang miskin yang lebih sehat dari anak orang kaya. Nah, keganjilan seperti itu lah yang mereka [ Nanang dan Mirandha] cari. " Miskin tak berpendidikan tapi punya anak sehat."

Satu hari, pencarian sang gurupun ber-tuah. Disalah satu rumah papan, diujung gang sempit jalan Metal III, Belawan, sang guru ditemui. Perempuan, berkisar 30 tahunan, yang sedang memberikan putri pertamanya [ berkisar 2 tahunan ] makan. Menu sang putri hari itu biasa saja, sama seperti hari sebelumnya. Hanya nasi ditemani rebusan bayam dan telur dadar [ kadang diganti ikan dan daging sekedarnya ]. Tapi sang putri melahap semua makananya. Tak cukup sepiring nasih dan lauk pauk untuk perut mugilnya. Dua potong singkong goreng pun ludes dilahapnya berlahan-lahan. Akupun terbengong-bengon memperhatian ulah sikecil, putri sibapak buruh paruh waktu itu. Si kecil yang gemuk dengan mata berbinar-binar.

"Anak ini sehat" Simpul Dr.Yufa, staff STC.

Perbincanganpun terjadi. Satu per satu pertanyaan berteteran mencari tahu kebiasaan "ganjil" si ibu ini. Si ibu [ sang guru ] sambil menyuapi makan, menerangkan satu persatu ritual perawatan anaknya. Dimulai dari pagi hari, ketika sikecil terbangun, si ibu langsung memandikannya dengan air hangat. Kemudian mengganti pakaian si kecil. Bagi si ibu, yang hanya tamatan SLTP, kebersihan dan kenyamanan anak adalah mutlak. Lalu si kecil dibaringkan dikasur untuk "relaksasi". Tak ada yang unik dikamar si ibu, kecuali sinar matahari yang masuk. "Anak kecil bagus loh kena sinar matahari" begitu si ibu mengulahi kami.

Pembicaraan lari ke soal makanan, si ibu mulai mengajarkan resep "murah meriah". Dengan pendapatan sebagai buruh paruh waktu, si bapak paling banter ber-upah Rp. 700 ribu per bulan. Dengan modal segitu, jangan harap dikepala si ibu terbayang makanan mewah. Bisa makan daging seminggu sekali saja sudah hebat. Tapi beginilah "ganjil"nya pola hidup keluarga miskin satu ini. Bukan mahalnya makanan yang paling utama, tapi nilai gizinya. " Tak mampu beli daging, tahu pun jadi ; Tak bisa beli susu, air rebusan nasipun bisalah ; tak bisa makan cokelat, singkong goreng pun tak apa." Pelajaran kedua dari sang guru. " Gizi makanan tidak ditentukan dari harganya".

Selesai dari makanan, penjelasan sang guru melompat kelingkungan. Si ibu memberikan nasehatan "kampung" kepada kami. Katanya " Kalo rumah bersih, kan enak tinggalnya". Lebih lanjut si ibu menjelaskan mantra-mantranya. " Orang tua bilang kalo pagi hari rumah harus dibersihkan, jendela dibuka supaya sinar matahari masuk, begitu juga rejeki. Pakaian, piring dan yang kotor semua dibersihkan, supaya tampak rapi. Ya, maklumlah orang susah, semua harus dilakukan sendiri ". Pelajaran ketiga dari sang guru." Menjaga kesehatan itu tergantung dari kebersihan, dan kebersihan dimulai dari kebiasaan".

Hari itu, sang guru mengajari kami kebiasaan "kampung" yang sudah lama terlupakan. Kebiasaan efektif yang menjauhkan si kecil [ anak si ibu ] dari busung lapar. Pendidikan tinggi dan pendapatan besar tak jaminan bagi kesehatan anak. Memang belum pernah terdengar, anak orang kaya kelaparan. Tapi, bukan berita baru, kalo banyak anak orang kaya yang kelebihan berat badan [ over weight ]. Ya, sama saja tidak sehat , bukan !

Makanan kampung Vs Makanan Pabrikan

"Kampungan.." kata itu begitu gampang terucap menghakimi makanan tradisional. sebut saja singkong goreng, getuk ubi atau ombus-ombusnya orang batak. Makanan itu kalah promosi dari cokelat Cadburrynya United Kingdom atau ayam goreng Kentucynya Amerika. Berjibun orang termakan iklan, tak mau disebut "kampungan" lalu menyerbu pusat makanan asing itu.

Bagus dipromosi bukan berarti "jujur" dalam pelaporan komposisi. " Enak dimulut hari ini tapi penyakit menunggu dikemudian hari". Namanya juga produk massal dan harus tahan lama. Tentulah harus menggunakan "pengawet". Pada hal, penelitian termuktahir menyimpulkan " Pengawet makanan jenis apapun, mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan". Namun tetap saja, iklan diproduksi dengan slogan "number one quality product ". Begitulah produk makanan asing, baik fast food maupun pabrikan, mengelabui konsumennya melalui iklan yang gencar

Positive Deviance menyimpulkan. Kebanyakan anak yang kurang baik gizinya, terlebih dari golongan miskin, karena terlalu banyak mengkonsumsi makan pabrikan. Contohnya makan ringan. " Pada hal makanan pabrikan kadar gizinya lebih rendah dari makan kampung seperti singkong goreng, belum lagi zat penyawetnya yang berbahaya". Kata Nanang Suryana.

Kadang jadi orang "kampungan" itu ada gunanya juga, minimal bisa buat hidup sehat. Dari pada bangga dicap "moderen" namun penyakitan. Hari ini kita belajar bahwa tingkat pendidikan dan pendapatan tidak ukuran untuk hidup sehat. Terlebih untuk menjamin kesehatan anak. Semuanya tergantung seberapa "disiplin" seseorang menjaga pola hidupnya. " Kampungankan tidak berarti bodoh..Iya Toh" [ *** ]

Tuesday, November 14, 2006

Bangsa ku, Bangsa Indonesia


Miss you " t e r a t a i "


Sekali lagi tentang kapitalisme (2)


Erix Hutasoit, Birmingam - United Kingdom

11.11.2006

Analisis " Surplus Value" Karl Marx

Nilai Lebih Pasar

Teori perdagangan dalam ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan kata "pertukaran". Proses tukar menukar inilah yang kemudian menghasilkan pasar. Secara sederhana proses pertukaran dirumuskan sebagai C - M - C ( Comodity - Money - Comodity ). Rumus ini oleh Marx, disebut sebagai sikuit komoditi. Dimana pemilik kodomiti [ barang ] menjual barangnya kepada pembeli untuk memperoleh uang. Kemudian sipembeli tadi akan memperoleh uang jika dia menjual lagi komoditinya kepada orang lain. Begitu seterusnya komoditi itu berputar dikalangan masyarakat. Kondisi ini oleh Jean Baptiste Say (1767-1832) dirumuskan, " Setiap produksi pasti dikonsumsi".

Namun, model seperti ini tidak berlaku bagi kapitalis. Penggandaan modal yang menjadi watak kapitalis, tidak akan terpenuhi dalam sistem ini. Karl Marx, dalam Theories of Surplus Value (1861-3), menganalisis sistem pertukaran kapitalis itu.

Menurut Marx, dalam masyarakat kapitalis pertukaran yang terjadi mengambil bentuk M-C-M ( Money - Comodity - Money ). Menurut hukum ini, sikapitalis memulainya dengan uang (M) untuk membeli comodity (C) dimana selanjutnya komoditi tersebut dijualnya guna memperoleh uang lagi (M2). Marx menamakan tahap pertama ini ( M-C ) sebagai kapital pendahuluan dan tahap kedua (C-M) sebagai kapital kerja. (Coen Husain Pontoh, Pasar dalam Kapitalisme, 2006)

Tetapi, Marx mengingatkan bahwa keseluruhan proses ini (M-C-M), tidak ada maknanya, jika sikapitalis jika hanya mendapatkan uang sebesar semula. Misalnya, jika semula ia memiliki Rp.1000 (M) yang digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp.900 (C) dan menjual sepatu itu dengan harga dasar Rp.1000 (M2), maka menurut Marx, pertukaran model ini bukanlah cara produksi kapitalis. Bagi Marx, cara produksi kapitalis mengambil bentuk M-C-M+, dimana M+ mewakili jumlah yang lebih besar dari M. Uang senilai Rp.1000 (M) digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp.900 (C) selanjutnya sepatu itu dijual seharga Rp.1.100 (M+). Dari proses ini, sikapitalis mendapatkan tambahan uang senilai Rp. 100,- dimana selanjutnya sirkuit itu terus berputar tanpa henti. M+ inilah yang nantinya disebut Marx sebagai "nilai lebih". (Coen, Ibid)

Nilai Lebih BuruhBuruh

secara sederhana didefenisikan " orang yang tidak memiliki alat produksi dan harus menjual tenaga kerjanya [ bekerja ] untuk mendapatkan upah. Upah inilah yang nantinya digunakannya [ buruh ] untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan defenisi sederhana dari upah adalah jumlah uang yang dibayarkan kepada buruh untuk waktu kerja tertentu.

Dalam sistem kapitalis, yang dibeli dari seorang buruh bukanlah kerjanya melainkan tenaga kerjanya. Setelah dia [ kapitalis ] membeli tenaga kerja buruh, lalu buruh dipekerjakan selama waktu tertentu. Misalkan, bekerja selama 7 jam sehari, 40 jam seminggu atau 26 hari dalam sebulan. Kemudian, ketidakadilan muncul bagi buru, ketika mendapatkan upah yang lebih kecil dari nilai kerjanya. Mari kita lihat..

Dalam produksi industri, pengeluaran (cost) biasanya dihitung dengan rumus TC = FC + VC. Total Cost (TC) merupakan penjumlahan Biaya Tetap [ Fixed Cost - FC ] ditambah Biaya berpariasi [ Variable Cost - VC ]. Upah buruh biasanya dihitung di Fixed Cost (FC). Karena tergolong "tetap", maka kenaikan upah buruh tidak terjadi setiap saat, bisa perdua tahun atau persepuluh tahun. Malah bisa tidak naik sama sekali.

Disisi berbeda, keuntungan [ profit ] perusahaan meningkat setiap tahunnya. Peningkatan-peningkatan keuntungan ini mengakibatkan akumulasi modal. Akumulasi inilah yang menciptakan jurang kemiskinan semakin lebar. Padahal, akumulasi modal sikaya [ pengusaha ] tadi tidak lebih dari perampasan nilai lebih kerja siburuh.

Mari kita buktikan dengan rumus TC = FC + VC. Misalkan disalah satu pabrik sepatu merk terkenal bekerja 100 orang buruh. Seorang buruh dipatok bekerja selama 8 jam perhari. Dengan tingkat upah dirata-ratakan Rp. 20 ribu per hari. Selama 8 jam bekerja, seorang buruh mampu memproduksi 10 potong sepatu. Maka untuk 100 orang buruh akan menghasilkan 1000 potong sepatu perharinya. Total biaya bahan baku untuk satu sepatu Rp.20 ribu, lalu untuk 1000 sepatu berjumlah Rp. 20 juta. Sedangkan biaya lainnya [ misalnya benang, listrik, keausan mesin dan alat kerja lainnya ] berjumlah Rp. 10. juta perharinya. Maka Total Cost (TC) perhari = Upah 100 buruh + Biaya Bahan baku + Biaya produksi lainnya. Atau TC = 100 x Rp. 20.000,- + Rp. 20 juta + Rp. 10 juta = Rp. 32 juta perhari

Nah, untuk satu hari kerja, siburuh tadi menghasikan 1000 potong sepatu. Jika sepotong sepatu mampu dijual sipengusaha dengan harga terendah Rp. 100.000,- . Maka sipengusaha mendapatkan keuntungan kotor Rp. 100 juta. Lalu sipengusaha mendapatkan keuntungan bersih, dengan perhitungan Pendapatan kotor - Total Cost = Pendapatan Bersih. Atau Rp.100 juta - Rp. 32 juta = Rp. 68 juta perhari.

Disisi lain, siburuh yang bekerja selama 8 jam hanya mendapatkan Rp. 20 ribu perharinya. Padahal selama delapan jam itu, seorang buruh telah menghasilkan 10 potong sepatu. Sama artinya menghasilkan Rp. 1 juta. Selisih antara upah yang didapatkan siburuh dengan nilai kerjanya. Rp. 1 juta - Rp. 20 ribu = Rp. 980 ribu Itulah yang disebut Marx, sebagai nilai lebih kerja buruh. Dan itulah yang "dirampas" sipengusaha dari siburuh.

Bayangkaan, jika satu hari kerja [ 100 orang buruh ] menghasilkan 1000 sepatu yang nilainya setara Rp. 100 juta. Maka untuk satu bulan [ 20 hari ] maka siburuh memproduksi Rp. 2 Milyrad. Sedangkan mereka [ 100 buruh tadi ] hanya mendapatkan upah perorang Rp. 400 ribu perbulannya. Sedangkan dipengusaha mendapatkan Rp. 1.360.000.000,- sebagai pendapatan bersihnya. Jelas sekali ketimpangannya.

Tidak hanya nilai kerja siburuh yang dicuri sipengusaha. Waktu kerjanya siburuh juga ikut diambil. Jika selama 8 jam bekerja, seorang buruh diupah Rp. 20 ribu perhari. Sedangkan selama 8 jam itu, siburuh mampu menciptakan nilai kerja Rp. 1 juta. Artinya, setiap satu jam siburuh menghasilkan Rp. 125 ribu. Maka untuk upah Rp. 20 ribu, siburuh hanya perlu bekerja selama 6 menit 25 detik perharinya. Berarti sisa waktu 7 jam 53 menit 35 detik, siburuh bekerja tanpa dibayar. Hmmm...

Bagaimana jika proses itu sudah berlangsung selama 10 tahun. Bisa dibayangkan berapa besarnya kerugian yang dialami siburuh. Luar biasa..hanya itu yang bisa dikatakan.Dari pemaparan diata, jelas sudah kenapa kapitalisme dibenci.

Jadi bukan dengan mengunyah hamburger Mc. Donalds, lantas jadi kapitalis. Tidak sesederhana itu bung mengartikannya. Salam [ ***]

Saturday, November 11, 2006

Sekali lagi tentang Kapitalisme (1)

Birmingham, UK, 10.11.2006
Seminggu, sejak pertama kali, menginjak bumi United Kingdom. Saya terkagum-kagum dengan kekritisan anak muda disini. Dalam beberapa diskusi, mereka kerap mengecam kapitalis sebagai biang utama penderitaan global. Berlahan diskusi dengan kawan asing ini mulai liar tak kejuntrungan. Sejak itu saya jadi ragu, apakah sahabat-sahabat “asing” ini mengenal betul siapa itu kapitalis ?

Catatan teori ekonomi.

Kelahiran kapitalis tidak dipisahkan dari ekonom Inggris kelahiran Skotlandia, Jhon Adam Smith [ 1723-1790]. Dalam bukunya, The Wealth of Nations [1776], Smith mengajukan konsep ekonomi yang dikenal sebagai “invisible hand”. Ide utamanya adalah kompetisi antara berbagai penyedia barang dan pembeli akan menghasilkan kemungkinan terbaik dalam distribusi barang dan jasa, karena itu akan mendorong setiap orang untuk melakukan spesialis dan peningkatan modalnya sehingga menghasilkan nilai lebih dengan tenaga kerja yang tetap.

Pemikiran Smith dipengaruhi hukum permintaan [ demand, dirumuskan “D” ] dan penawaran [ supply, dirumuskan “S”]. Pergerakan naik turun kedua komponen itu kemudian menciptakan harga pasar [ Market Price, dirumuskan P ]. Lebih detil dipahami, jika D meningkat sedangkan S menurun maka P akan meningkat . Sebaliknya , jika D menurun sedangkan S meningkat maka P akan menurun. Kapan naik dan turun ketiga komponen itu diyakini terjadi secara otomatis. Kondisi ini kemudian dikampanyekan Smith sebagai teori tangan setan [ Invisible Hand Theory - IHT].

Namun, keberlangsungan IHT sangat dipengaruhi stabilitas pasokan produksi. Untuk menjamin stabilitas dibutuhkan "kebebasan" menciptakan produksi. Pada titik itulah, Smith menyakini perlunya "pasar bebas". Karena pasar bebas akan menciptakan kompetisi. Sehingga dia [ Smith ] sangat mengharamkan campur tangan pemerintah dalam sistem ini.

Revolusi Industri yang meledak di Inggris abad 18, pada awalnya memperkokoh teori Smith. Produksi barang terjadi lebih cepat dengan kuantitas yang lebih besar. Namun, kondisi ini menyebapkan pengangguran besar-besaran di Inggris. Perampasan wilayah Skotlandia oleh Inggris untuk peternakan domba dimasa itu. Turut menambah arus urbanisasi kekota-kota di Inggris. Pengangguran inilah yang dimanfaatkan pengusaha industri Inggris mendapatkan buruh dengan upah rendah. Lalu mengeksploitasi buruh itu untuk mendapatkan keuntungan. Proses inilah yang kemudian dianalisis Karl Marx, dalam Theories of Surplus Value (1861-3), sebagai perampasan nilai lebih.

Teori Simth mengalami keterpurukan diera 1870an,1880an dan mencapai puncaknya diera 1930an. Produksi barang besar-besaran yang terjadi, menciptakan kelebihan produksi [ over productions ]. Disisi lain, daya beli konsumen menurun derastis seiring fenomen buruh dengan upah kecil. Akhirnya, Invisible Hand Smith tak kuasa menahan penurunan harga ketingkat terendah. Pada saat itulah, "pasar bebas"nya Smith diyakini para ekonom, seperti Jhon Mayrad Keynes (1883-1946), telah out of date [ kadaluarsa ]. Lalu, Keynes melalui General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menawarkan solusi. Dia [ Keynes ] membagi ekonomi menjadi dua bagian. Bagian pertama Macroeconomist, meliputi pengaturan mata uang, pemanfaatan sumber daya, pendistribusian kesejahteraan. Bagian kedua, microeconomist, meliputi tingkat kebutuhan, tingkat penawaran, harga, tingkat produksi. Intinya, Keynes menegaskan perlunya intervesi negara dalam mengatur ekonomi.

Namun, teori keynes tidak lebih pemindahan kontrol produksi kepada negara. Dia [ Keynes ] tidak menyentuh "watak" kapitalis sebagai masalah. Keyness tetap percaya kepemilikan alat produksi secara individual, adalah hal yang nature [ alamiah ]. keyness hanya menekankan kedudukan negara sebagai kontrol produksi. Era ini belakangan menciptakan kediktatoran ekonomi negara. Oleh banyak ekonom dinamakan "State Capitalism."

Fenomena "State Capitalism" ini ditandai dengan simbiosis antara pengusaha dengan pemerintah. Para pengusaha yang dahulunya diluar wilayah politik, kini meringsek masuk kewilayah politik. Tujuannya tak lebih "mengamankan" kepentingan bisnis. Misalnya di Amerika Serikat [ AS ], korporasi-korporasi pertambangan migas AS yang terbesar didominasi oleh satu keluarga besar, yakni keluarga Rockefeller, sementara bank-bank AS yang terbesar, yang menguasai Wall Street, dikuasai oleh satu keluarga lain, yakni keluarga Morgan. Kedua ‘dinasti’ itu bersinerji menguasai kebijakan politik luar negeri AS, tidak peduli dari partai mana presidennya berasal (Gibson 1994; Medvin 1974).

Richard Robinson, dalam bukunya Indonesian Rise of Capital (1986), mengambarkan kelompok borjuasi [ kapitalis ] Indonesia bukanlah kelompok tersendiri, melainkan gabungan antara militer, politisi dan pemerintah. Contoh konkritnya adalah bisnis keluarga cendana. Seperti Mbak Tutut yang dulu menguasai bidang jasa konstruksi jalan tol, Bambang Soeharto dengan binis terigu dan otomotifnya, begitu pula sibungsu, Tommy dengan penyediaan jasa transportasi dan otomotif. Semuanya pernah berjaya dibawah perlidungan "politik" sang bapak, presiden Soerharto kala itu.

Saat ini fenomena serupa masih terjadi dipemerintahan SBY-Kalla. Sejumlah nama yang punya kaitan erat dengan bisnis, bertengger dalam pemerintahan. Sebut saja, Menteri Sosial, Aburizal "ical" Bakrie. Dia [Ical ] adalah orang nomor satu Bakrie Brothers, perusahaan yang merambah bisnis energi, ritel, telekomunikasi sampai kemanca negara. Ada lagi satu nama, Haji Muhammad Jusuf Kalla, wakil presiden, dengan PT. Bukaka Teknik Utamanya. Bisnis keluarga kalla ini "merajai" pembangunan pusat tenaga listrik di Sulawesi.

bersambung..

Tuesday, November 07, 2006

Mari bicara tentang Cinta…


Diskusi imajiner dengan Erich Fromm, penulis The Art of Loving.

Pagi ini [ selasa, 07/11], aku berkenalan dengan seorang laki-laki. Dilantai dua “kereta” besi West Millands bernomor limapuluh, kami bertemu. Dia menyapa ku seraya memperkenalkan dirinya. “ Erich Fromm, lahir di Jerman, 23 Maret 1900 dan menghirup udara terakhir pada 18 Maret 1980 di Switzerland”. Oh ..Erich Fromm rupanya, kini aku tahu siapa dia. Tanpa menunggu lama, kami berdua hanyut dalam permbicaraan seputara cinta.

“ Bung Erich atau bung Fromm, bagaimana saya harus menyapa anda ?” tanya ku sambil membentuk senyum diwajah.

“ Panggil Fromm saja lah, begitu lebih akrab” jawabnya hangat.

“ Baiklah bung Fromm, mari kita mulai diskusi ini.” “ Menurut bung, apa sih itu cinta ?” tanya ku membuka diskusi..

Laki-laki itu diam sejenak lalu menyilangkan kedua tanganya. Sorot matanya diarahkan kelangit-langit bus. " Cinta, itu kata yang populer, bukan begitu bung Erix ? " cetusnya sambil tersenyum kecil..

" Benar bung Fromm" jawab ku datar

" Banyak film yang diproduksi dengan tema cinta. Bahkan lagu-lagu yang paling populer dimasanya, pasti bertemakan cinta. Tapi apakah itu pelajaran sesungguhnya tentang cinta ?"

aku hanya diam, memfokuskan diri menunggu dia [ Fromm ] melanjutkan kalimatnya..

" Ada tiga kesalahan dalam mendefenisikan cinta !! ". " Kesalahan pertama, banyak orang berpikiran yang paling utama dalam cinta itu adalah dicintai ".

" Dicintai lebih penting dari mencintai." Fromm menatap ku tajam..

Lau kujawab." Bukankah keinginan untuk dicintai itu alamiah ?"

" Jika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, tentulah laki-laki itu ingin siperempuan menyukainya juga."

" Bukankah itu namanya dicintai ?". Tanya ku bingung..

" Alamiah ? " Fromm tertawa kecil, lalu dia berkata lagi " Itu tidak alamiah, itu diciptakan"

Aku tambah bingung. " Bagaimana mungkin itu bisa diciptakan ? " tanya ku mengejar tawanya..

Giliran Fromm mengjari ku." Semua orang akan berusaha untuk dicintai".

" Laki-laki mengartikan untuk dicintai maka dia [ laki-laki ] harus mempunyai karir yang baik, mempunyai kekuasaan dan yang pasti punya kehidupan yang mapan secara ekonomi."

" Dikampung mu, Erix, ada istilah ngak kemana perempuan asal punya uang". " Kalo kamu tidak punya uang, tidak punya jabatan maka kamu tidak akan dicintai hehehe..." Fromm tersenyum mengejek ku..

Fromm mengelus-elus bibirnya, lalu melanjutkan omongannya. " Bagaimana dengan perempuan ? ".

" Nah, perempuan juga berusaha untuk dicintai." " Kamu tau caranya, Erix ? " dia [ fromm] menantang nalar ku

aku diam terpaku mendengar baris demi baris kalimat pak tua ini.

" Lihatlah perempuan selalu berusaha tampil menarik, berpakaian yang bagus, merawat tubuhnya agar tetap sexy, berusaha tampil ramah, berusaha kelihatan cerdas. "

" Laki-laki dan perempuan berusaha untuk tampil baik didepan banyak orang, punya banyak cerita, rajin membantu, kelihatan sopan, tidak pelit...".

" Semuanya itu dilakukan agar dia [ laki-laki dan perempuan ] dicintai ." Fromm menutup penjelasannya sambil terbatuk...

Fromm mendekati telinga ku lalu berbisik " Erix, apa yang mereka lakukan itu tidak lebih dari usaha menarik lawan jenis secara sexual, itu bukan cinta".

" Many of the ways to make one self lovable are the same as those used to make oneself succesfull, to win friend and influence people. As a matter of fact, what most people in our culture many being lovable is essentialy a mixture between being popular and having sex appeal". Jelas Fromm sambil mengedipkan mata kepada ku..

" Lalu kesalahan nomor dua.....aduh " kalimat Fromm terpotong ulah sorang perempuan yang menabrak kakinya..

" Are you oke ? " tanya ku kepadanya

" Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit" Fromm meringis kecil sambil mengurut kaki kanannya..

" Apa kesalahan nomor dua, bung ? " tanya ku, agar dia tidak terlena dengan sakitnya..

" Yang kedua, ketika orang belajar tentang cinta, mereka menganggap persoalan cinta itu soal objek" Fromm berhenti sejenak untuk meluruskan kakinya..

" Bagi mereka, mencintai itu soal gampang. Namun menemukan orang yang tepat untuk dicintai, itu yang sulit " Fromm menatap ku dingin..

" Bukankah seperti itu seharusnya. Kita mencintai orang yang tepat ? " tantang ku kepada Doktor lulusan Heidelberg tahun 1922 ini.

Laki-laki kelahiran Frankfurt ini tertawa kecil. Dia merasa lucu melihat tampang penasaran ku.

" Mencari orang yang tepat ?" tanyanya kembali..

" Model berpikir seperti itu banyak dipengaruhi Budaya."

" Tujuan model seperti ini, mencari objek cinta adalah pernikahan, bukan begitu Erix Hutasoit ? " kembali laki-laki ini mempermainkan emosi ku...

Lalu Fromm bicara lagi ." Seperti yang aku bilang tadi, model seperti ini dipengaruhi budaya dan trend".

" Banyak budaya yang menentukan sendiri, seperti apa objek cinta itu".

" Kamu contohnya, lahir dalam budaya batak, apa yang ditanamkan budaya mu ketika kamu mencari objek cinta ? " Tanya Fromm ...

" Dalam suku ku biasanya ditanamkan Bibit, Bebet dan Bobot dalam menentukan pasangan hidup" jawab ku..

" Ya, seperti itulah".

" Kamu harus tahu segala sesuatunya tentang objek cinta mu." tegas Fromm

" Tahu silsilah keturunannya, agamanya, orang tuanya, status sosialnya, tingkat ekonominya, bahkan kamu pun mendesak tahu berapa pacarnya dulu. Sampai perawan atau tidaknya objek cinta mu itu, kamu harus tahu, Begitu kan ..." tutur Fromm menusuk hati ..

" Sama seperti di Amerika ditahun 1920an. Perempuan yang merokok, Pekerja keras dan Sexy merupakan trend ideal sebagai objek cinta masa itu." lanjutnya..

" Berpikiran kalau menentukan objek cinta merupakan inti dari pelajaran tentang cinta. Itu membuat kamu berpikir seperti pedagang. Berpikir untung dan rugi". Fromm tertawa lagi, kali ini aku pasrah diejek...

" Padahal cinta tidak pernah mengenal untung atau rugi, apalagi standarnisasi " Kalimat fromm ini terdengar seperti khotbah ditelinga ku..

" Lalu apa kesalahan nomor tiga" kuucapkan dengan nada kesal..

" Kesalahan terakhir yaitu kesalahan dalam mengartikan falling in love, being in love dan standing in love " tegas fromm..

" Im not understand. Would you explaining ! " lawan ku kepada Fromm

Laki-laki keturunan Yahudi itu tersenyum lagi..

" Mudah-mudahan aku tidak dianggapnya bodoh" ucapku dalam hati....

" Banyak orang yang tidak bisa membedakan jatuh cinta dengan cinta itu sendiri".

" Dua insan yang awalnya berbeda, kemudian merubuhkan tembok lalu menjadi satu. Lebih dekat satu sama lain. Momentum seperti ini sering dianggap moment paling indah dalam hidup."

" Lalu.." aku menunggu penjelasannya...

" Kedekatan semakin terkesan sempurna, kala dua insan itu lebih dekat secara biologis"

" Apa maksudnya ?" tanya ku bingung..

" SEX " jawabnya mengagetkan ku..

Fromm pun berujar lebih jauh. " Ketika dua insan itu melakukan hubungan sex. Mereka merasa telah mencapai puncak cinta. Sex adalah puncaknya cinta. Dengan sex tidak ada lagi tembok diantara mereka berdua, mereka merasa tidak akan terpisahkan lagi" Fromm menatap mata ku..

"Tapi Sex bukanlah inti dari cinta." lanjutnya kemudian

" Sex itu seperti zat adictiv yang lama kelamaan kenikmatannya akan berkurang."

" Ketika Sex tak mampu lagi memuaskan kedua insan itu, mereka akan merasa menjadi asing satu sama lain. Lalu berpisah. dan itu bukan cinta...." Fromm menarik nafas dan mengulurkan tangannya kepada ku...

" Lalu apa itu cinta .." tanya ku kepada Fromm

" Cinta itu seni.." Katanya...

" The Process of learning an art can be divided conveniently in two parts ; one, the mastery of the other, the mastery of practice". Tutur Fromm sebelun tiba-tiba menghilang..

Ups...sudah Camp hill rupanya, terpaksa ku akhiri diskusi ini. " Thanks Bung Fromm buat diskusinya" . [ *** ]

Dari Birmingham ke Bangor, Wales, United Kingdom.

[ refleksi untuk empatpuluh lima hari yang lalu ]

Erix Hutasoit, pukul 09.40 dikabin ekonomi Virgin Train.

Dua tubuh membujur tak kaku itu terhentak bangun, dikejutkan teriakan alarm didentang waktu 06.30 pagi hari. Tubuh-tubuh itu tergegas bangkit, mengucek-ngucek matanya lalu berhamburan kesudut ruang. Satu diantaranya memilih ruang berlantai kayu berfasilitas air hangat. Satu yang lain, kabur keruang ‘logistik”, sibuk mengisi “kotak ajaibnya” dengan “gumpalan harapan”, roti segar berlapiskan cokelat dan mentega. Hari ini mereka harus “out” dari Birmingham menuju penampungan lain di Bangor, Negara Bagian Wales, United Kingdom (UK).

Si empunya waktupun berteriak lagi, pukul 08.05 sekarang, pertanda waktu “pelarian” tiba. Seperti sudah “diprogram”, keduanya pun kabur meninggalkan surga kecil itu. Limabelas menit melangkah keduanya terhenti didepan gubuk moderen bernama bus stop. Kereta besi dua lantai bernomor limapuluh melintas, berhenti sesaat lalu tancap gas lagi. Keduanyapun serta dibus publik milik West Midlands Travel itu. Tujuan pelarian berikutnya adalah New Street Station, pangkalan kereta api tersohor di Birmingham.

Ternyata mereka tidak sendirian. Setibanya dipangkalan, sudah menunggu enam pasang “pelarian” lain. Merasa senasib barangkali, setiap yang tiba disambut pelukan dan jabatan tangan serta sepotong kalimat “Good Morning”. Tak berselang lama, tiga pasangan lain datang. Dua orang diantaranya disebut pengawas. Tugas profesional keduanya memastikan “semua urusan beres”, semisal aksi hari ini. Namun merekapun bisa juga "silap". Maklumlah, mereka juga kan masih manusia.

Kereta Api (KA) bermerk Virgin itu berlari kencang meninggal Birmingham. Delapanbelas pelarian dan dua orang pengawas dibawanya serta. Selama seratusdelapan puluh menit kemudian mereka hanyut mengarungi “belantara” jalur kereta api Inggris.

Tak seperti KA Parahyangan, kereta kelas ekonomi jurusan Jakarta Bandung yang carut marut, kuda besi UK ini begitu mewah. Interiornya saja mirip kabin penerbangan bonafitnya Indonesia, Garuda Airways. Belum lagi sistem komputerisasi yang membaluti tubuhnya, menambah kecanggihan transportasi publik ini. Tapi kuda besi ini tidak cocok buat yang tidak “mudeng” teknologi. Ketimbang salah mencet tombol lalu “terkurung” ditoilet, mendingan cari aman saja. Ber-utilitas-lah sebelum berpergian, dijamin luput dari “kemaluan”.

Limabelas menit berlalu, KA Virgin tiba di Crewe, kota kecil Inggris. Duapuluh penumpangnya berpindah kereta baru. Perjalanan mereka semakin keutara, tepatnya kewilayah perairan diujung United Kingdom (UK).

Mid Project Review (MPR), begitu gelar pelarian ini. Mirip cerita difilm-film tentang pelarian yang mendambakan kebebasan. MPR tujuannya juga sama. Tapi, keduapuluh orang itu memiliki perbedaan dalam mendefenisikan kebebasan. Ada yang mengartikan kebebasan dengan menjadi diri sendiri. Ada pula yang mengartikannya dengan senang-senang. Mungkin ada pula menterjemahkan kebebasan dengan “ tidak boleh begini”, “ Itu dilarang”, "itu tidak sopan”, hmm..

Dentang jam menunjuk pukul 13.00 ketika sang ‘perawan’ besi tiba di Bangor. Saatnya menghirup udara “kebebasan”. Tapi bebas yang seperti apa? Karena empatpuluh lima hari yang lalu, hanya mengartikannya [kebebasan] saja, duapuluh orang itu sudah “perang dingin”.

Kesempatan mendiskusikan ulang kebebasan ada di MPR. Tapi tetap saja masih ada yang pesimisme. Maklum, trauma diskusi dimasa lalu terindikasi kuat terulang lagi. “ Toh ujung-ujungnya di-pelintir juga“ begitulah pesismis itu terbangun.

Mudah-mudahan pelarian kali tidak salah mendefenisikan kebebasan. Salah-salah, bukan kebebasan yang didapat, tapi penjara baru untuk empatpuluh lima hari kedepan. Hmm, semoga saja tidak. Bruukk....aku terbangun, terbengong-bengong menggingat yang berlalu, " mimpi apa aku tadi ?" tanya ku bingung [ *** ]