Sunday, January 21, 2007

hmm aku lagi

Membudidayakan Natal (2)

lanjutan...

Kembali DIA berbicara kepada ku, katanya. “ Bagaimana mungkin kemeriahaan itu ditujukan untuk KU ? Mana mungkin kalian menyambut KU, sedangkan kalian tidak PERCAYA kepada KU “

Pertanyaan laki – laki ini benar – benar membuat ku terpojok. Aku harus mengakui kalo kartu – kartu Natal itu bukan dituliskan untuk DIA. Begitu pula hadiah – hadiah Natal itu diberikan bukan ditujukan untuk DIA. Semua itu tak lebih untuk kegembiraan dan kesan terlihat baik...

Apa yang kami sebut perayaan Natal itu tidak lebih dari senang – senang. Bahasa kerennya “ Party”. Bahkan ada yang datang ke acaran “ Natal” itu dengan konstum yang lucu, lebih tepatnya aneh. Yang aku ingat, kostum yang mereka gunakan kerap dikenakan pegiat Klub Malam. Ya, benar, aku lihat remaja – remaja UK berkostum seperti itu kala ngantri memasuki klub malam. Mereka menggunakan bando berantena dan slayer. Aku lihat itu di Birmingham..

“ Kalian hanya memanfaatkan kelahiran Ku untuk kesenangan kalian. AKU hanya dibuat sebagai legitimasi atas apa yang kalian inginkan. bukan begitu Erix Hutasoit “ Kata NYA lagi, membuat ku semakin tak berdaya menjawab apapun..

DIA melanjutkan lagi, “ Negara – negara Industri itu menggunakan momentum kelahiran KU untuk meraup keuntungan. Lihatlah pusat perbelanjaan seperti di Bullring Birmingham, penuh dengan diskon. Tidak tanggung – tanggung sampai 80 persen.Apakah diskon itu untuk KU ? ”

Aku diam sambil tertunduk. Dalam hati aku membenarkan apa yang DIA ucapkan. Sekarang di UK termasuk di Eropa sedang diskon besar – besar. Semuanya itu digelar dengan nama “ Chrismast Discount”.

“ Erix...” Dia menyebut nama ku, lalu aku aku menatap kearah NYA. Kemudian DIA berucap lagi “ Bagaimana mungkin kamu meniru budaya yang sudah menjauh dari KU. Bagaimana bisa kamu meniru budaya yang tidak lagi PERCAYA kepada KU”

“ Ironis memang, disatu sisi banyak diantara mereka tidak lagi mau mengaku sebagai pengikut KU. Mereka tidak mau lagi bersekutu, bersaksi dan melayani bersama – sama. Mereka lebih suka mengaku sebagai atheis. Kala hari minggu tiba, mereka lebih memilih berplesir, mencari kesenangan dari pada memuji KU. Tapi, kala Natal tiba, mereka berbondong – bondong menyerbu pertokoan, mendirikan pohon Natal lalu menghiasnya seindah dan semahal mungkin. Mereka tetap merayakan Natal. Tapi bukan Natal yang dahulu, Natal yang merayakan kelahiran KU. Kini Natal yang dirayakan adalah Natal kebebasan untuk membeli apapun. Natal tidak lebih dari hadiah. AKU mereka lupakan.Dan itulah yang kemudian dengan bangga kamu tiru,” Ungkap NYa dengan ekspresi wajah yang sedih.

Sungguh, untaian kalimat NYA yang ini begitu menusuk hati ku. Aku tak sanggup menatap kearah NYA, aku tertunduk malu....

DIA menepuk pundak ku lagi lagi, lalu berujar, “ Natal di sana, dinegeri yang kamu maksud. Selamanya akan penuh kemeriahan, selamanya akan penuh dengan hadiah. Kondisi itu memang sengaja mereka budidayakan”

“ Kamu tahu apa itu kapitalisme bukan. Ya, apa yang kamu lihat itulah Natal yang dipromosikan kapitalis. Mereka mengenjot buruh – buruh di negara mu untuk banting tulang mengejar target produksi Natal. Lalu si kapitalis itu mengangkut hasil kerja buruh – buruh yang juga saudara – saudara mu, lalu menjualnya keberbagai negara, termasuk kenegaranya. Si kapitalis dengan bangga memproklamirkan Welfare State bersama politisinya. Seakan mereka telah bekerja keras mensejahterakan bangsa nya. Tapi ditempat lain, mereka menyiksa bangsa – bangsa lain. Bangsa- bangsa yang telah membuat mereka bisa bertahan hidup dan bisa merasa angkuh seperti sekarang ini”

Mendengar itu aku tertegun, DIA tahu apa yang terjadi dimuka bumi ini. DIA tahu persis...

Kembali lagi DIA mengkuliahi ku, “ Tanpa kemeriahan, tanpa hura – hura mana mungkin si kapitalis itu bisa meraup keuntungan. Makanya si kapitalis akan terus berusaha mempromosikan Natal yang meriah, bahkan setiap tahunnya lebih meriah lagi. Tidak heran jika Natal pun mereka budidayakan. Semakin banyak orang yang merayakan Natal, semakin banyak pula keuntungan yang mereka raup. Bukankah begitu teori ekonominya, Erix ?”

Ya, benar, semakin banyak konsumen maka permintaan pun akan terus meningkat. Itu artinya keuntungan akan berlipat..

Kemudian DIA mulai mengingatkan ku, katanya,“ Jika Natal yang kamu maksud itu mengenang kelahiran KU. Seharusnya kamu ingat bagaimana aku dilahirkan. Tidak ada tempat empuk waktu itu, hanya tumpukan jerami. Tidak ada pengharum ruangan, yang ada hanyalah aroma kotoran domba. Tidak ada pemanas ruangan, udara begitu dinginnya kala AKU dilahirkan. Tidak ada kemewahan apalagi kemeriahan ketika AKU lahir kedunia ini. Hanya kesederhaan..”

“ Aku tidak membutuhkan kemeriahan. Aku tidak butuh kemehawan dari mu, Erix Hutasoit. Aku hanya butuh ketulusan mu. Jika kamu ingin memberikan hadiah kepada KU. Berikanlah tubuh mu yang hidup sebagai persembahan ..” begitu kata NYA kepada ku..

Lama aku tertunduk setelah mendengar kalimat itu. Aku terdiam tak mampu berkata – kata apa pun. Retorika ku yang katanya hebat, kali ini hilang entah kemana. Aku tak mampu beragumentasi dengan DIA.

Tanpa sadar aku sudah terdiam berhari – hari. Bahkan ketika aku terbangun aku bukan lagi menuju Malino, Sulawesi Selatan. Tapi aku sudah sudah di Medan, di depan komputer tua ku yang setia. Pada saat itu lah aku sadar, “ Semua sudah berakhir rupanya”.

“ Terima kasih TUHAN, terima kasih buat hikmad dan keberanian yang KAU berikan ini. Tanpa itu, tak mungkin aku berada di Medan sekarang. Jangan pernah tinggalkan aku TUHAN ” Ucap ku dengan hati yang terdalam [ ***].

Membudidayakan Natal (1)


Diskusi imajiner dengan Yesus Kristus

Medan, 21 Januari 2007

Desember 2006 lalu, dalam perjalanan dari Makassar kembali ke Malino, aku bertemu dengan seorang laki – laki berwajah lembut dengan tampang sederhana. Begitu melihat wajahnya, aku langsung bisa mengenali NYA.

“ Anda Yesus bukan ? “ tanya ku kepada laki –laki itu untuk menyakinkan.

“ Benar anak muda, aku lah Yesus yang kamu maksud itu “ jawab NYA tenang dan lembut.

“ Wah, kami baru saya merayakan kelahiran MU loh” seru ku sumbringah..

DIA menatap ku dingin seraya berkata, “ Benarkah ? “

Aku langsung jawabnya dengan wajah penuh yakin, “ Benar, kami rayakan kelahiran Mu dengan penuh kemeriahan. Dimana – mana kami tuliskan Merry Christmas. Tidak lupa pula kami hadirkan Santa Klaus. Walau Santa Klausnya bohongan, tapi tujuannya baik kok, biar lebih meriah.”

“ Tentunya kemeriahaan itu dilengkapi dengan makanan dan minuman pula ? “ tanya NYA pelan sambil tersenyum.

“ Oh, tentulah. Khusus kami hidangkan makanan yang paling lezat. Bahkan untuk minuman sengaja di hidangkan minuman beralkohol. Biarpun mahal, yang penting meriah.” Jawab ku sambil tersenyum bangga.

“ Hmmm..begitu yah “ Balas NYA dengan intonasi suara yang datar.

“ Satu lagi, kami tidak lupa saling bertukar hadiah kok. Kalo di bule – bule sono, Natalan kan harus ada hadiahnya. You must give present when Chrismast kata kawan ku begitu. Makanya kami ikut – ikutan ngasih hadiah Natal disini. Keren kan hehehe..” Terangku dengan bangganya...

Mendengar semua yang barusan ku katakan, laki – laki itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi antusias apalagi gembira. Tatapannya begitu dingin, membuat ku belakangan jadi serba salah. “ Apa yang salah ya, kok ditatap seperti ini” keluh ku dalam hati...

“ Jadi semua kemeriahan yang kamu ceritakan tadi, ditujukan untuk KU ? Begitu ? “ tanya laki – laki itu kepada ku tiba – tiba.

“ Benar, semua untuk MU ” jawab ku dengan nada sedikit bingung.

“ Apakah kamu mengundang KU untuk datang ? “ tanya nya kepada ku dengan suara yang sangat lembut..

Aku terperanjat, karena seingat ku tak satupun kami yang menyebut nama NYA kala itu. Yang kami lakukan hanya lah bergembira, bermain – main dan bernyanyi. Dan menyatap makanan yang ada..

“ Apaka semua yang kalian lakukan itu benar – benar untuk KU” tanya laki – laki itu lagi memecah kebingungan ku...

Aku mulai terpojok. Aku tidak punya retorika hebat untuk melawan laki – laki ini. Aku tidak bisa berbohong karena Dia Maha Tahu. ..

Dia menepuk pundak ku sambil menatap seraya bertanya, “ Anak muda, buat siapa hadiah – hadiah itu ? buat siapa poster – poster bertuliskan Merry X – Mast itu ? Siapa yang sedang kalian sambut ? “

Sambil menarik badan kebelakang, pertayaan itu ku jawab setengah gugup, “ Semua nya untuk Mu kok. Kartu – kartu itu, hadiah – hadiah itu untuk Mu. “ Lalu kusambung lagi, “ Kami meniru budaya yang lebih tinggi kok, kami mengikuti tradisi Natal di Inggris. Disana semua orang merayakan Natal, malah yang bukan Kristen juga merayakan Natal, sudah jadi budaya.”

“ Apakah mereka merayakannya untuk KU ? atau kah mereka merayakannya hanya untuk kesenangan ? “ Dia bertanya lagi..

Kali ini aku benar – benar kalut. Karena ada yang peristiwa tak lazim waktu itu, seorang diantara kami yang beragama Islam memberikan kartu Natal untuk yang Islam pula. Bahkan seorang dari sahabat asing dari UK yang non Kristen mendapat hadiah dan kartu Natal. Malah dia [ sahabat asing dari UK itu ] menanyakan kepada ku, “ Erix, what your parents give for your Chrismast present ? “ aku jawab, “ My parents never give me present, we just go to church when Chrismast night and worship togehter. My parents teach me to give thanks for GOD for one years blessing.” Lalu dia bertanya lagi, “ Why your parents not give you present ? “ kembali ku jawab, “ Because give present not my culture”.

Monday, January 15, 2007

ini aku...

Remaja Muslim British Ternyata Lebih Toleran

Medan, 14 Januari 2007

“ My name Erix Hutasoit, from Indonesia and i am Christian”. Begitulah saya memperkenalkan diri dihari pertama bekerja untuk Muath Welfare Trust [ MWT ]. Lembaga ini merupakan pusat pendidikan Islam terbesar di Birmingham, United Kingdom [ UK ]. Mulai Oktober sampai Desember 2006 saya bekerja untuk MWT. Fokus pekerjaan saya adalah melakukan penelitian tentang kebutuhan pusat pendidikan religius bagi warga kota Birmingham.

Pernah sekali di MWT saya kebagian The Muslim News [ TMN ] nomor 210 secara gratis. TMN yang bermarkas di Harrow, Middlesex HA2 6LL, UK, merupakan koran berbasis Islam yang diterbitkan Muslim Councillors in the UK. Dalam edisi Jumat, 27 Oktober 2006 dihalaman tiga saya menemui artikel menarik tulisannya Safa Suling Tan. Artikel enam kolom itu berjudul “ Muslim Youth a lot more racially tolerant than Whites ”.

Nah, yang membuat tulisan Safa ini menarik, karena dituliskan berdasarkan hasil Interim Report of Burnley Project yang digelar Lancaster University`s Departement of Religious Studies. Penelitian yang bernama Burnley Project [BP] bertujuan menyusun dialog antar agama [ Interfaith Dialogue ] yang lebih panjang dan mengupayakan aktivitas bersama untuk menyatukan komunitas yang terpisah di Burnleyborouh. Burnley Project juga ditujukan untuk mendapatkan program terbaik yang dapat diimplementasikan sampai ketingkatan sekolah. Upaya ini ditujukan untuk membawa penyatuan dan rasa toleran terhadap perbedaan RAS.

Penelitian ini digelar dua tahun, mulai Agustus 2005 sampai Juli 2007. Metodelogi yang digunakan dalam penelitian adalah membandingkan murid yang berlatar belakang Muslim keturunan asia [ Muslim Student of Asia Heritage ] dengan murid Kristen yang berkulit putih [ White Christian ] dan murid yang bukan keturunan British [ Non Britsih Counterpart ]. Perbandingan bertujuan melihat sejauh mana remaja di Inggris dapat menerima perbedaan [ receptive to diversity ] dan lebih mau merangkul perbedaan tanpa merasa bahwa identitas mereka terancam atau berada dibawah.

Wawancara dilakukan kepada pelajar dari ketiga sekolah. Proses tanya jawab digelar pertengahan musim panas tahun lalu [ 2006 ]. Wawancara dilakukan terhadap 435 pelajar, yang mayoritas berusia 15 tahun. Terpilih tiga sekolah menengah atas [ high school ] sebagai lokasi penelitian. Dua terletak di Blackbrun dan satu di Burnley. Adapun alasan pemilihan sekolah tersebut, karena sekolah itu menerima pelajar berdasarkan persentase agama dan budaya yang berbeda.

Sekolah pertama [ sekolah A ] berlokasi di Burnley, merupakan sekolah eksklusif bagi anak kulit putih [ white pupils ] yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Umumnya mereka tinggal diwilayah yang terkenal dengan tingkat kejahatan tinggi dan anti untuk bersosialisasi [ anti – social berhaviour ]. Dari sana didapatkan fakta bahwa remaja diwilayah itu memiliki potensi menjadi rasis dan tertutup pada perbedaan budaya.

Sekolah kedua [ sekolah B ] berlokasi di Blackbrun dengan latar belakang siswa dari sosial ekonomi yang sama. Tidak seperti sekolah A, disekolah B hampir 96 persen pelajar berasal dari keturunan Asia, seperti India dan Pakistan, dan mayoritas beragama Islam.

Sekolah ketiga [ sekolah C ] juga berlokasi di Blackbrun, alas an pemilihan sekolah ini karena pelajarnya lebih beragam. Dimana 73 persen adalah keturunan kulit putih [ White British ] dan 27 persen keturuan asia [ Asian Heritage ]. Disekolah ini, semua pelajar disatukan dan belajar dalam ruang yang sama.

Dari perbandingan yang dilakukan Burnley Project ditemukan : 97 persen pelajar sekolah B percaya kepada Tuhan sedangkan disekolah A hanya 19 persen yang percaya kepada Tuhan ; disekolah B lebih dari 81 persen siswa pergi ke masjid minimal sekali seminggu, sedangkan pelajar sekolah A hanya 8 persen yang pergi ke gereja setiap minggunya ; lebih dari 25 persen pelajar sekolah B mengakui peran penting masjid dalam kehidupan mereka, sedangkan di sekolah A tidak satupun pelajar yang menyatakan gereja mempunyai peranan bagi kehidupan mereka ; 91 persen pelajar disekolah B mengatakan ketertarikan mereka untuk mempelajari agama, sedangkan disekolah A ditemukan 68 persen menganggap agama membosankan ; 59 persen pelajar sekolah A mengatakan agama itu tidak penting, sedangkan disekolah B hanya 10 persen yang mengatakan hal serupa.

Hal yang paling mengejutkan menurut Safa dari penelitian itu adalah fakta – fakta yang berhubungan dengan tujuan Burnley Project. Yaitu : 86 persen pelajar disekolah B bersedia mendengarkan pendapat dari agama yang berbeda, sedangkan disekolah A hanya 50 persen yang mengatakan hal serupa ; Hampir 30 persen pelajar disekolah A percaya bahwa satu RAS lebih superior dari RAS yang lain, disekolah B ditemukan hanya 11.3 persen yang setuju dengan hal itu, sedangkan disekolah C sebesar 18.5 persen ; kemudian 76 persen pelajar disekolah B merasa nyaman bekerjasama dengan pelajar dari agama berbeda untuk menciptakan komunitas yang lebih baik, sedangkan disekolah A hanya 29 persen.

Lebih lanjut di sekolah A ditemukan fakta, hampir 50 persen pelajar mengatakan tidak penting untuk menghormati agama yang berbeda ; hampir 33 persen menyatakan tidak penting untuk berteman dengan kelompok yang berbeda agama dan budaya ; 66 persen percaya kepada kebebasan untuk (tidak) memilih agama ; dan 25 persen menyatakan tidak penting untuk menunjukkan rasa toleransi terhadap kelompok yang berbeda pandangan.

Sedangkan disekolah C didapatkan fakta, 34 persen pelajar mendukung kerjasama antar agama. Dengan analisa yang lebih dalam, didapatkan hanya 3 persen pelajar muslim yang tidak setuju dengan dialog antar agama [Interfaith Dialouge]. Sedangkan untuk pelajar Kristen terdapat 26 persen yang tidak setuju dengan dialog antar agama.

Apa yang ditulis Safa Suling Tan berdasarkan laporan Burnley Projecy, merupakan realita terkini di Inggris. Dari pengamatan saya selama tinggal di Inggris, ada beberapa faktor yang menyebabkan kelompok mayoritas UK “ enggan “ untuk terintegrasi dengan kelompok – kelompok minoritas, yaitu :

Pertama, sejarah masa lalu dimana British pernah menjajah hampir separuh muka bumi melalui British Empire, itu masih meninggalkan kesan sebagai bangsa yang superior bagi warga asli UK.

Kedua, lunturnya nilai – nilai agama, terutama Kekristenan di UK digantikan sekulerisme, secara otomatis mempromosikan invidualisme dan eksklusifisme. Pola hidup individualis dan ekslusif yang kemudian disandarkan pada kebebasan [ liberalisasi ] ini lah yang menyebabkan proses integrasi tidak terjadi. Hilangnya proses integrasi ini lalu berlahan – lahan menghilangkan rasa toleransi.

Ketiga, Pola hidup tinggal mengelompok berdasarkan perbedaan suku, agama dan RAS adalah kenyataan yang terjadi di UK. Kondisi ini jelas mendorong terjadinya pemisahan komunitas dan komunikasi. Pemisahan inilah yang lalu menciptakan perasan curiga. Apalagi pemisahan komunitas ini tidak lepas dari sejarah masa lalu, dimana kelompok – kelompok ini merasa “ terancam ” sehingga memilih untuk tinggal bersama disatu wilayah [ berlompok].

Keempat, British Culture yang dimaknai sebagai diversity [ beragam budaya ] telah menimbulkan kekaburan identitas. Sehingga tidak jelas, pola budaya apa yang berkembang di UK. Disisi lain imigran yang datang ke UK [ contoh : imigran asal Pakistan ] tetap mempertahankan budaya dari negara asal mereka. Inilah yang membuat gesekan antar budaya kerap terjadi di UK.

Safa Sulling Tan melalui Burnley Project telah memberikan informasi kepada kita kalo remaja muslim Britsih ternyata lebih toleran. Ini membuktikan bahwa minoritas UK lebih “ terbuka” untuk berdialog. Tantangan malah datang dari kelompok mayoritas yang “ enggan ” bertoleran. Nah, bagaimana dengan kita ? apakah mayoritas di Indonesia juga “ enggan ” bertoleransi. Mari kita jawab bersama [***]

Sunday, January 07, 2007

Ternyata Harus Memilih

[ Senin, 01 januari 2007 - PPLH Putondo, Takalar , Sulawesi Selatan ]

Aku, Echa dan Huzer akhirnya harus memilih. This song for all of you Indonesia GX team..

Di hari ini semua berakhir sudah
Kita berpisah baik-baik saja
Jangan ingat hal yang membuatmu marah
Apalagi membuatmu kecewa

Kenangan indah...kenangan
Miliki kesan di hati
Hanya yang baik
Hanya yang membuatmu tersenyum
Di saat kita mengingatnya

Ternyata kita sampai
Pada jalan yang berlainan arah
Ternyata kita harus memilih
Mana jalan yang terbaik 'tuk semua

Cukup banyak waktu yang kita habiskan
Semua tidak pernah terbuang percuma
Lambaikan tangan biar pergi lebih mudah
Sungguh senang ku bisa kenal kamu

Kenangan indah... kenangan
Memiliki kesan di hati
Hanya yang baik
Hanya yang membuat tersipu
Saat kita mengingatnya
Tak ada kata telat
Semua pasti ada artinya