Sebuah Refleksi
DALAM goncangan udara di pesawat GA 195 tujuan Jakarta, saya membaca artikel menarik bertajuk Expect a Revival Miracle (Jakarta Post, 12/4). Artikel itu ditulis Kornelius Purba, salah satu editor senior The Jakarta Post, koran nasional berbahasa Inggris tertua di Indonesia.
Saya tidak kenal akrab dengan Pak Purba. Saya hanya pernah berkomunikasi dengan dia lewat dunia maya. Sebagai editor kolom opini, Pak Purba punya tugas untuk mengirim balasan penolakan bagi artikel yang tidak dimuat. Ia pernah mengirimkan balasan penolakan kepada saya.
Tulisan ini bukan bermaksud membahas soal Pak Purba. Saya cuma berniat menukil artikel yang Ia tulis. Sebelum di Jakarta Post, Pak Purba rupanya pernah menjadi reporter Koran Jepang, Asahi Shimbun. Dalam artikel itu, Pak Purba bercerita sedikit tentang pengalamannya bekerja dengan orang Jepang.
Sekali ketika, Pak Purba mendapat nasehat dari “boss”nya di Jakarta. “Your future as journalist depends greatly on your own endeavors ( masa depanmu sebagai jurnalis sangat ditentukan oleh usahamu sendiri),” tulis Pak Purba mengutip kata bijak yang disampaikan Hiroshi Tamura.
Orang Jepang dikenal displin. Kata displin seolah menjadi KTP resmi orang Jepang. Tidak perduli dengan siapa dan dimana orang Jepang bekerja, mereka selalu menerapkan budaya itu.
Pak Purba pernah jadi “korban” budaya itu. Kata Pak Purba, kalau Ia dan Tamura merencanakan perjalanan liputan kedaerah yang berbahaya, mereka pasti diminta melakukan perencanaan dengan sempurna. Mereka selalu mendapatkan instruksi dari kantor pusat di Tokyo, tentang bagaimana tetap berkomunikasi jika ada masalah besar.”Everything had to be perfectly planned and carried out (semua harus sudah sempurna direncanakan dan laksanakan),” tulis Pak Purba.
Hasilnya, Pak Purba menjadi editor kelas atas di Indonesia.
Disiplin bagi orang Jepang rupanya tidak sekadar aturan, tetapi sudah menjadi praktik hidup. Living practices. Begitu pesan yang saya tangkap dari artikel Pak Purba.
Kata living practices membuat saya merenung soal PNB. Saya sudah menjadi anggota PNB selama lebih dari 15 tahun. Hampir semua level kepengurusan PNB pernah saya jalani. Saya pernah menjadi ketua PNB Jemaat, pengurus PNB ressort dan terakhir menjadi Ketua Umum PNB HKI Daerah VI Sumatera Timur II. Semua pengalaman panjang itu, mengantarkan saya pada satu pertanyaan,”Living practices seperti apa yang hendak ditanamkan kepada pemuda lewat organisasi PNB?”
Bagi sebagai kawan-kawan, pertanyaan di atas mungkin mudah dijawab. Living practices PNB ya, hidup relegius. Atau dalam bahasa hariannya hidup sebagai orang Kristen! Saya tidak membantah jawaban itu, tetapi jika kita mau jujur menilik lebih serius, jawaban di atas meninggalkan sebuah kerumitan dalam kehidupan praktisnya. “PNB yang relegius itu seperti apa?”
Pertanyaan saya ini bukan untuk debat theologis, tetapi mencari praktik real dalam kehidupan sehari...
Kita memang punya P3RT (Peraturan Rumah Tangga Persatuan Naposo Bulung/PNB) yang mengatur tata organisasi PNB HKI. Tapi P3RT tidak menyediakan panduan praktis tentang bagaimana pemuda HKI harus bersikap, berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Kita jarang menemukan dalam kehidupan sehari-hari, anggota PNB HKI berkontribusi besar ketika persoalan sosial merebak. Ketika ada gereja ditutup, PNB HKI tidak bereaksi sama sekali. Ketika banjir melanda, PNB HKI hanya mampu menjadi penonton berita. Tentu Anda dan saya pasti bertanya-tanya:”Kenapa PNB kami tidak melakukan apa-apa. Apakah mereka tidak mampu melakukan sebuah aksi. Ataukah mereka tidak punya kecakapan untuk melihat sebuah masalah?”
Menjelang kongres PNB di akhir bulan ini, saya mendengar kabar baik tentang sejumlah pemuda yang ingin menjadi ketua umum PNB HKI. Saya senang mendengar kabar itu. Tapi di saat yang sama, sayapun menyimpan pertanyaan:”Apa yang hendak kamu lakukan dengan PNB HKI?”
Pertanyaan di atas jauh lebih penting ketimbang membicarakan siapa calon ketua umum PNB HKI. Ia (pertanyaan itu menjadi penting) karena PNB HKI bukan organisasi kecil. PNB HKI membentang dihampir sebagaian besar provinsi di Indonesia. PNB HKI tidak kalah besar dengan Gerakan Pemuda Ansor (sayap pemuda organisasi Islam terbesar di Indonesia – Nahdatul Ulama/NU). Organisasi sebesar PNB HKI ini tidak mungkin dipimpin oleh orang yang tidak punya visi, misi, strategi dan taktik yang jelas. Apalagi tidak cakap dalam manajemen organisasi.
Siapapun yang ingin mengajukan diri kelak, pasti diperhadapkan dengan sejumlah harapan, tantangan dan masalah. Jika GP ANSOR dengan tegas memperjuangkan semangat kebangsaan dan pluralisme, maka pemimpin PNB HKI kelak juga harus mampu berbicara di level nasional dan internasional. Pemimpin PNB HKI harus punya gagasan-gagasan berani dan out of the box (diluar kebisaan) demi menjawab tantangan abad 21.
Tentu menjadi sulit bagi pemimpin PNB HKI nantinya, jika Ia tidak familiar dengan issue hak azasi manusia (HAM), pluralisme, globalisasi, perubahan iklim, kesetaraan gender, kesenjangan utara-selatan dll. Ia akan kelimpungan dan frustasi sendiri, karena tidak mampu menterjemahkan masalah dan tantangan menjadi program konkret yang terukur lewat perencanaan strategis. Ia akan tertekan, ketika tidak mampu memonitoring dan mengevaluasi pekembangan organisasi PNB HKI secara holistik. Karena PNB HKI terlalu besar bagi orang-orang yang tidak punya pengalaman panjang di organisasi ini. Pengalaman di tingkat jemaat dan ressort, sepertinya belum cukup untuk menahkodai organiasi besar seperti PNB HKI.
Missi orang Kristen telah berubah. Jika 100 tahun lalu, missi Kristen mirip kolonialisme dengan target membesarkan pertumbuhan orang Kristen di seluruh penjuru bumi, maka pertemuan di Endiburg, Skotlandia,UK pada Oktober lalu telah mengubahnya. Missi Kristen kini bicara pelayanan holistik dalam semangat: keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (Justice, Peace and Integrity Creation/JPIC).
Lantas, dimana peran PNB HKI sekarang seiring perubahan paradigma misi itu?
Anda yang ingin menjadi pemimpin PNB HKI, silahkan menjawab!
DALAM goncangan udara di pesawat GA 195 tujuan Jakarta, saya membaca artikel menarik bertajuk Expect a Revival Miracle (Jakarta Post, 12/4). Artikel itu ditulis Kornelius Purba, salah satu editor senior The Jakarta Post, koran nasional berbahasa Inggris tertua di Indonesia.
Saya tidak kenal akrab dengan Pak Purba. Saya hanya pernah berkomunikasi dengan dia lewat dunia maya. Sebagai editor kolom opini, Pak Purba punya tugas untuk mengirim balasan penolakan bagi artikel yang tidak dimuat. Ia pernah mengirimkan balasan penolakan kepada saya.
Tulisan ini bukan bermaksud membahas soal Pak Purba. Saya cuma berniat menukil artikel yang Ia tulis. Sebelum di Jakarta Post, Pak Purba rupanya pernah menjadi reporter Koran Jepang, Asahi Shimbun. Dalam artikel itu, Pak Purba bercerita sedikit tentang pengalamannya bekerja dengan orang Jepang.
Sekali ketika, Pak Purba mendapat nasehat dari “boss”nya di Jakarta. “Your future as journalist depends greatly on your own endeavors ( masa depanmu sebagai jurnalis sangat ditentukan oleh usahamu sendiri),” tulis Pak Purba mengutip kata bijak yang disampaikan Hiroshi Tamura.
Orang Jepang dikenal displin. Kata displin seolah menjadi KTP resmi orang Jepang. Tidak perduli dengan siapa dan dimana orang Jepang bekerja, mereka selalu menerapkan budaya itu.
Pak Purba pernah jadi “korban” budaya itu. Kata Pak Purba, kalau Ia dan Tamura merencanakan perjalanan liputan kedaerah yang berbahaya, mereka pasti diminta melakukan perencanaan dengan sempurna. Mereka selalu mendapatkan instruksi dari kantor pusat di Tokyo, tentang bagaimana tetap berkomunikasi jika ada masalah besar.”Everything had to be perfectly planned and carried out (semua harus sudah sempurna direncanakan dan laksanakan),” tulis Pak Purba.
Hasilnya, Pak Purba menjadi editor kelas atas di Indonesia.
Disiplin bagi orang Jepang rupanya tidak sekadar aturan, tetapi sudah menjadi praktik hidup. Living practices. Begitu pesan yang saya tangkap dari artikel Pak Purba.
Kata living practices membuat saya merenung soal PNB. Saya sudah menjadi anggota PNB selama lebih dari 15 tahun. Hampir semua level kepengurusan PNB pernah saya jalani. Saya pernah menjadi ketua PNB Jemaat, pengurus PNB ressort dan terakhir menjadi Ketua Umum PNB HKI Daerah VI Sumatera Timur II. Semua pengalaman panjang itu, mengantarkan saya pada satu pertanyaan,”Living practices seperti apa yang hendak ditanamkan kepada pemuda lewat organisasi PNB?”
Bagi sebagai kawan-kawan, pertanyaan di atas mungkin mudah dijawab. Living practices PNB ya, hidup relegius. Atau dalam bahasa hariannya hidup sebagai orang Kristen! Saya tidak membantah jawaban itu, tetapi jika kita mau jujur menilik lebih serius, jawaban di atas meninggalkan sebuah kerumitan dalam kehidupan praktisnya. “PNB yang relegius itu seperti apa?”
Pertanyaan saya ini bukan untuk debat theologis, tetapi mencari praktik real dalam kehidupan sehari...
Kita memang punya P3RT (Peraturan Rumah Tangga Persatuan Naposo Bulung/PNB) yang mengatur tata organisasi PNB HKI. Tapi P3RT tidak menyediakan panduan praktis tentang bagaimana pemuda HKI harus bersikap, berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Kita jarang menemukan dalam kehidupan sehari-hari, anggota PNB HKI berkontribusi besar ketika persoalan sosial merebak. Ketika ada gereja ditutup, PNB HKI tidak bereaksi sama sekali. Ketika banjir melanda, PNB HKI hanya mampu menjadi penonton berita. Tentu Anda dan saya pasti bertanya-tanya:”Kenapa PNB kami tidak melakukan apa-apa. Apakah mereka tidak mampu melakukan sebuah aksi. Ataukah mereka tidak punya kecakapan untuk melihat sebuah masalah?”
Menjelang kongres PNB di akhir bulan ini, saya mendengar kabar baik tentang sejumlah pemuda yang ingin menjadi ketua umum PNB HKI. Saya senang mendengar kabar itu. Tapi di saat yang sama, sayapun menyimpan pertanyaan:”Apa yang hendak kamu lakukan dengan PNB HKI?”
Pertanyaan di atas jauh lebih penting ketimbang membicarakan siapa calon ketua umum PNB HKI. Ia (pertanyaan itu menjadi penting) karena PNB HKI bukan organisasi kecil. PNB HKI membentang dihampir sebagaian besar provinsi di Indonesia. PNB HKI tidak kalah besar dengan Gerakan Pemuda Ansor (sayap pemuda organisasi Islam terbesar di Indonesia – Nahdatul Ulama/NU). Organisasi sebesar PNB HKI ini tidak mungkin dipimpin oleh orang yang tidak punya visi, misi, strategi dan taktik yang jelas. Apalagi tidak cakap dalam manajemen organisasi.
Siapapun yang ingin mengajukan diri kelak, pasti diperhadapkan dengan sejumlah harapan, tantangan dan masalah. Jika GP ANSOR dengan tegas memperjuangkan semangat kebangsaan dan pluralisme, maka pemimpin PNB HKI kelak juga harus mampu berbicara di level nasional dan internasional. Pemimpin PNB HKI harus punya gagasan-gagasan berani dan out of the box (diluar kebisaan) demi menjawab tantangan abad 21.
Tentu menjadi sulit bagi pemimpin PNB HKI nantinya, jika Ia tidak familiar dengan issue hak azasi manusia (HAM), pluralisme, globalisasi, perubahan iklim, kesetaraan gender, kesenjangan utara-selatan dll. Ia akan kelimpungan dan frustasi sendiri, karena tidak mampu menterjemahkan masalah dan tantangan menjadi program konkret yang terukur lewat perencanaan strategis. Ia akan tertekan, ketika tidak mampu memonitoring dan mengevaluasi pekembangan organisasi PNB HKI secara holistik. Karena PNB HKI terlalu besar bagi orang-orang yang tidak punya pengalaman panjang di organisasi ini. Pengalaman di tingkat jemaat dan ressort, sepertinya belum cukup untuk menahkodai organiasi besar seperti PNB HKI.
Missi orang Kristen telah berubah. Jika 100 tahun lalu, missi Kristen mirip kolonialisme dengan target membesarkan pertumbuhan orang Kristen di seluruh penjuru bumi, maka pertemuan di Endiburg, Skotlandia,UK pada Oktober lalu telah mengubahnya. Missi Kristen kini bicara pelayanan holistik dalam semangat: keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (Justice, Peace and Integrity Creation/JPIC).
Lantas, dimana peran PNB HKI sekarang seiring perubahan paradigma misi itu?
Anda yang ingin menjadi pemimpin PNB HKI, silahkan menjawab!
1 comment:
excellent journal, trigger for thought..
Post a Comment