Tuesday, May 01, 2007

Juminah, Kalinongko Kidul dan Harapan

Erix Hutasoit

Thank to : DR. Arie Sujito, Sosiologi UGM+IRE buat materi Analisa Sosialnya. Dan, Raymond Toruan, mantan Director The Jakarta Post dan Redaktur KOMPAS, atas kesediaannya mengoreksi tulisan ini. Great thanks to : Keluarga Juminah, sumber tulisan ini.

Sleman, Jogjakarta, 1 Mei 2007

JUMINAH (30) bergegas bangkit dari pembaringan seraya membuka matanya dengan paksa. Seperti sebelumnya, hari ini Juminah kembali pada pekerjaannya yaitu berdagang sayur. Pukul 02.00 dini hari kala gelap gulita dan udara dingin masih bertahta, sepeda motor Juminah sudah melesat meninggalkan Dusun Kali Nongko Kidul, Sleman, Jogjakarta. Ditemani tumpukan daun singkong, bayam dan kangkung , Juminah menelusuri jalan pedesaan menuju pasar Bringharjo, Jogjakarta.



“Walaupun saya sakit, saya tetap pergi loh mas. Bahkan saya pernah kecelakaan, saya terjatuh di tebing tanjakan itu, tetangga sudah mengira saya tidak ada lagi. Ternyata saya masih hidup, hanya lecet di kaki kok Mas. Saya tetap saja pergi ke pasar. Kalo ndak pergi, ya ndak ada untuk beli garam lah Mas,” tutur Juminah menceritakan sepenggal kisah hidupnya.

Juminah, laki-laki kurus semampai itu tercatat sebagai peduduk desa Gayam Harjo, dukuh Kali Nongko Kidul RW 13 RT 4. Dalam statistik, Gayam Harjo dikenal sebagai desa paling timur sekaligus desa termiskin di kabupaten Sleman. Selain itu Gayam Harjo juga dikenal karena urbanisasinya.

Menurut sekretaris desa (sekdes) diperkirakan 70 persen pemuda desa ini merantau kekota-kota sekitar Sleman, seperti Klaten, Jogkarta dan Gunung Kidul. Umumnya perantau itu dipekerjakan sebagai buruh proyek, buruh tani dan pekerja rumah tangga (PRT). “ Bahkan mereka ada persatuannya loh mas, namanya MUDIKA, Muda Mudi Kali Nonggko Kidul,” ungkap Sekdes.

Seperti pemuda yang lain, Juminah juga pernah merantau. Kota tujuannya kala itu adalah Karawang, Jawa Barat. Selama dua tahun disana, Juminah bekerja untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Hanya saja kehidupan di rantau yang keras membuat Juminah tidak kerasan, kemudian dia memilih kembali ke desa Gayam Harjo.

“Badan saya kecil mas, saya ndak bisa kuat kerja fisik,” ketus Juminah sambil tertawa.

Di mata Juminah, desa Gayam Harjo, khususnya dukuh Kali Nongko Kidul tidak banyak berubah. Bahkan di tempat ini mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Indonesia. Menurut Juminah, tingginya penduduk yang tidak melek bahasa karena faktor pendidikan.

Juminah menjelaskan lebih lanjut, pada masa lalu banyak penduduk yang tidak bersekolah. Letak sekolah yang jauh dan harus dilalui dengan berjalan kaki, ± 5 km untuk Sekolah Dasar (SD) dan ± 25 km untuk Sekolah Menegah Pertama (SMP), sangat mempengaruhi peminat “sekolahan”. Di tambah kemiskinan yang akut, membuat bersekolah dianggap bukan kebutuhan. Jadilah peduduk Kalinongko Kidul seperti sekarang ini, tidak melek bahasa.

Kondisi Stagnasi itu juga diamini Pardi (24). Dalam catatan Pardi, aktivitas masyarakat Kali Nongko Kidul dari masa dia (Pardi) kanak-kanak sampai dewasa masih sama yaitu bertani. Bahkan pola produksi masyarakat masih subsistensi (sekadar memenuhi kebutuhan sendiri).

“Hasil pertanian seperti padi dan sayuran untuk dimakan sendiri mas. Padi biasa nya ditanam untuk kebutuhanan makanan . Biaya untuk menanam padi diambil dari upah menjadi buruh proyek” Kata Pardi.

Jenis pekerjaan penduduk Kalinongko Kidul dipengaruhi ketersediaan air. Di kala musim penghujan maka aktivitas utama peduduk adalah bertani. Lahan – lahan pertanian diolah menjadi sawah untuk ditanami padi. Namun di kala musim kemarau, lahan pertanian hampir tidak bisa berproduksi karena kekurangan air. Di saat seperti ini penduduk Kalinongko Kidul biasanya memilih urbanisasi sementara. Mereka pergi ke kota lalu bekerja sebagai buruh proyek atau buruh tani (buruh cangkul).

Namun tidak semua penduduk Gayam Harjo yang berganti profesi mengikuti pergantian musim. Juminah contohnya, dia memilih menjadi pedagang sayur. “Saya ini badannya kecil mas, ndak kuat untuk kerja kuli. Apalagi kerja begituan kan keras, saya ndak kuat mental. Mending seperti ini Mas, biar dapatnya sedikit dari dagang sayuran, tapi saya merasa tenang lho mas.”

Sehari-hari Juminah dan keluarga hanya mengkonsumsi nasi dan sayuran. Sesekali mereka menikmati lauk pauk seperti tempe atau tahu.” Itupun kalo ada rejeki Mas,” kata Juminah. Walau begitu Juminah sudah merasa bersyukur. “Masa saya kecil dulu Mas, saya itu makannya cuma tiwul atau jagung. Nasi itu makanan mewah loh Mas, hanya ada kalo ada acara selamatan,” terang Juminah mengenang masa lalu. Dia sendiri mengaku baru rutin mengkonsumsi nasi di tahun 1995. Itu pun karena dia bekerja di Karawang, salah satu kota penghasil beras di Jawa Barat.

Biar susah begitu Juminah bukan orang yang pasrah. Dia terus berusaha menggembangkan diri. Salah satu trik jitu Juminah adalah mengolah uang pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). “ Kalau ada sertifikat tanah, kita bisa minjam uang ke BRI Mas. Saya pernah minjam Rp. 3.000.000,- lalu saya beli sapi. Setiap bulan saya menyetor Rp.310.000,- dalam tempo dua belas bulan hutang itu saya lunasi. Setelah dua tahun sapi itu saya jual Rp. 10.000.000,- per ekor. Uang nya kemudian saya belikan tanah,” kata Istri Juminah menerangkan strategi bisnis mereka.

Dalam kurun waktu empat bulan ini, Juminah mengaku sudah dua kali membeli tanah.Tanah itu kemudian diolah menjadi ladang dan sawah. Hasilnya di gunakan sebagai persiapan musim kemarau mendatang. Bagi juminah trik ini cukup sukses membantunya bertahan hidup. “Tapi mas, tidak semua orang disini punya tanah sendiri apalagi yang punya sertifikat,” ungkap Juminah.

Ketika ditanya apakah Juminah puas dengan hidupnya. Juminah tidak menjawab. Bagi Juminah tidak ada yang baru di hari esok selain berdagang sayuran. “Selama saya masih bisa berdiri, saya tetap harus berjualan,” kata Juminah. ***




No comments: