Lereng Kidul (selatan) Merapi, Sleman, Jogjakarta, 29/04/2007
DIA tersenyum sambil menjulurkan tangan menyambut salam dari ku. Balutan kemeja bermotif batik dipandu kain sarung, melengkapi penampilan legenda Merapi ini. ”Monggo,”katanya pada ku mempersilahkan duduk.
Dalam hati ku berucap,”Oh ini rupanya Mbah Marijan yang terkenal itu.”
Minggu (29/04) kemarin, peserta CEFIL ( Civic Education For Future Indonesian Leaders) mengunjungi lereng kidul (selatan) gunung Merapi. Salah satu tempat yang di satroni adalah kediaman Mbah Marijan, tokoh yang mendadak populer karena menolak mengungsi kala gunung merapi terancam meletus. Bukan sekadar menolak yang membuatnya sensasional, lebih dari itu, karena perintah yang ditolak datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, penguasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Alasan penolakannnya sederhana. Dia (mbah Marijan) sudah di perintah Raja Yogyakarta sebelumnya, HB IX, untuk menjaga gunung Merapi. Kesetiaannya kepada perintah itulah yang membuat Mbah Marijan menolak mengungsi.”Saya hanya tunduk pada perintah Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” katanya.
Cerita penolakan itu lalu santer kepenjuru negri ini. Mendadak popularitas Mbah Marijan melambung – konon peristiwa itu mampu menurunkan popularitas Kraton Yogyakarta. Semenjak itu pula sosok mbah Marijan tidak bisa dipisahkan dari mitologi gunung Merapi. Bahkan salah satu produk minuman penambah energi, memilih mbah Marijan menjadi icon promosinya. Produk minuman itu menyandingkan mbah Marijan dengan Chris Jhon , juara tinju kelas dunia, lalu mendaulat mereka sebagai laki-laki paling berani.
Syukurlah media hanya ”membalutnya” dengan cerita heroik dan mengugah hati. Jika saja mbah Marijan dicitrakan sebagai laki-laki mistik, laki-laki yang akrab dengan deretan mantra-mantra, kemenyan dan sejajen. Tentulah mbah satu ini akan sederajat dengan mitos Merapi lainnya, yaitu Mak Lampir. Nenek sakti nan menakutkan yang pernah populer di serial radio tahun 80an dan layar lebar tahun 90an.
Pernah sekali di dukuh (dusun) Kalinongko Kidul, Sleman timur, terdengar ”mars” Mbah Marijan. Dari acara ngantenan di puncak bukit terdengar teriakan, ” Siap grakk...kepada Mbah Marijan, hormat grak..” Kemudian mengalun lah rentenan lirik dan nada dalam bahasa jawa, dihiasi melodi khas campur sari. Dan semua orang yang mendengar, tahu percis kalau itu lagunya Mbah Marijan.
Luar biasa memang popularitas laki-laki tua ini.
Kesederhanaan mbah Marijan
Tidak ada bangunan yang mencolok di dusun Kinaharjo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupten Sleman, kecuali sebuah bangunan Masjid. Di depan masjid berderetan warung dari bambu. Lalu masih didepan masjid, membentang pula lapangan berpasir. Itulah pemandangan awal kala mengijakkan kaki didusun mbah Marijan.
Lebih kedalam lagi akan ada lorong kecil, disebelah kirinya ada pintu yang terbuka lebar. Didalamnya duduk seorang lekaki tua, mengunakan peci dan mengenakan kemeja bermotif kemeja dipandu kain sarung. Dia lah mbah Marijan, juru kunci gunung Merapi.
Melangkah kedalam ruang tamu, deretan kursi yang disusun berlapis seolah-olah berucap, ” selamat datang.” Deretan kursi-kursi itu menjadi pertanda betapa ruangan ini memang akrab distatroni pengunjung. Ada pula tiga buah meja lengkap dengan air mineral dalam kemasan cup dan tiga stoples yang berisi keripik ubi. Tak hanya itu, diatas meja juga terdapat album photo dan sebuah buku yang berisi nama-nama pengunjung yang pernah bertamu. Ada ratusan nama yang sudah tercatat disitu, bahkan ada juga nama orang – orang asing.
Melangkah kedalam ruang tamu, deretan kursi yang disusun berlapis seolah-olah berucap, ” selamat datang.” Deretan kursi-kursi itu menjadi pertanda betapa ruangan ini memang akrab distatroni pengunjung. Ada pula tiga buah meja lengkap dengan air mineral dalam kemasan cup dan tiga stoples yang berisi keripik ubi. Tak hanya itu, diatas meja juga terdapat album photo dan sebuah buku yang berisi nama-nama pengunjung yang pernah bertamu. Ada ratusan nama yang sudah tercatat disitu, bahkan ada juga nama orang – orang asing.
Memandang dari pintu kedalam ruangan, tepat di depannya terlihat sebuah tombak yang diapit payung berwarna kuning. Diatasnya terpampang lambang kebesaran kesultanan Yogyakarta. Disamping kanan kiri lambang itu terdapat foto HB IX dan HB X. Di bagian bawah lambang itu terdapat lukisan wajah mbah Marijan. Ini menjadi pertanda, mbah Marijan adalah pelayan bagi Kraton Kasuhunan Yogyakarta.
Di dinding sebelah kiri, terdapat deretan lukisan raja-raja Mataram, mulai raja pertama sampai Sri Sultan Hamengku Buwono X. Disebelah kanan terdapat photo besar yang berisi dokumentasi evakuasi korban lava panas tahun 2006.
Ketika ditanya soal Merapi, mbah Marijan langsung menunjukkan telapak tangannya. Dalam bahasa Jawa, mbah Marijan menjelaskan bahwa jari-jari itu punya makna bagi warga Merapi. Jempol adalah simbol Tuhan, kelingking menyimbolkan orang kecil sedangkan gabungan telunjuk,jari tengah dan jari manis merupakan simbol pemerintah. Lebih lanjut terang mbah Marijan, kala Merapi mengeluarkan lava, orang kecil - warga sekitar merapi - mengganggap Merapi sedang "bangun". Bagi masyarakat sana itu hal biasa.
Tapi pemerintah menganggap itu sebagai bahaya.
Menurut mbah Marijan, orang kecil selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan kelimpahan berkat. Ketika Merapi mengeluarkan lava, itu dipahami, " Merapi bangun".
Kata penerjemah saya, Mufidah," Bangun itu dipahami membangun."
Penjelasan mufidah menyiratkan kesimpulan kalo makna "bagun" itu artinya memberikan bantuan bagi masyarakat. Kandungan letusan merapi yang "subur" tentunya membantu petani sekitar merapi. Itulah yang dimaksud membantu tadi. Dari sana saya sedikit tahu, kenapa mbah Marijan dan masyarakat sekitar tidak begitu takut dengan letusan Merapi.
Saat mbah Marijan diminta berfoto, mbah ini menolaknya dengan halus seraya menutup wajahnya. Dia tidak ingin di foto. Setelah dicari tahu, mbah ini berkata, " Saya ini orang kecil, saya ngak mau kepala saya nanti tambah besar." Sekilas 'kepala besar' saya kira bermakna sombong. Selidik punya selidik, ternyata bukan.
Mbah Marijan menunjuk kearah karikatur dirinya. Karikatur itu mengambarkan dirinya dengan kepala yang lebih besar dari badannya. Setelah itu mbah Marijan kembali berucap,"Saya orang kecil, saya ndak mau kepada besar." Mbah marijan mengulangi kalimat itu, dan terlihat jelas kekecawaan tergambar di wajah mbah ini. Baginya, karikatur itu seperti 'ejekan'.
Untuk mbah Marijan, memang sulit memahami bahwa karikatur itu di tujukan untuk pujian. Gambar-gambar yang aneh itu membuatnya kecewa. Ternyata 'pujian' media telah melukai hari mbah satu ini. Karena itu belakangan mbah Marijan menolak untuk di foto. Dia ingin hidup tenang dan sederhana tanpa merasa 'diejek'.
Walau lava panas pernah menyerang sekitar dusunnya, hanya berjarak 20 meter dari rumah mbah Marijan. Tetap saja mbah yang satu ini, tidak bergeming. Dia percaya bahwa Tuhan melindunginya. Karena itu dia setia menjaga Merapi, kapan dan bagaimanapun kondisinya. hmmm.***
Tapi pemerintah menganggap itu sebagai bahaya.
Menurut mbah Marijan, orang kecil selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan kelimpahan berkat. Ketika Merapi mengeluarkan lava, itu dipahami, " Merapi bangun".
Kata penerjemah saya, Mufidah," Bangun itu dipahami membangun."
Penjelasan mufidah menyiratkan kesimpulan kalo makna "bagun" itu artinya memberikan bantuan bagi masyarakat. Kandungan letusan merapi yang "subur" tentunya membantu petani sekitar merapi. Itulah yang dimaksud membantu tadi. Dari sana saya sedikit tahu, kenapa mbah Marijan dan masyarakat sekitar tidak begitu takut dengan letusan Merapi.
Saat mbah Marijan diminta berfoto, mbah ini menolaknya dengan halus seraya menutup wajahnya. Dia tidak ingin di foto. Setelah dicari tahu, mbah ini berkata, " Saya ini orang kecil, saya ngak mau kepala saya nanti tambah besar." Sekilas 'kepala besar' saya kira bermakna sombong. Selidik punya selidik, ternyata bukan.
Mbah Marijan menunjuk kearah karikatur dirinya. Karikatur itu mengambarkan dirinya dengan kepala yang lebih besar dari badannya. Setelah itu mbah Marijan kembali berucap,"Saya orang kecil, saya ndak mau kepada besar." Mbah marijan mengulangi kalimat itu, dan terlihat jelas kekecawaan tergambar di wajah mbah ini. Baginya, karikatur itu seperti 'ejekan'.
Untuk mbah Marijan, memang sulit memahami bahwa karikatur itu di tujukan untuk pujian. Gambar-gambar yang aneh itu membuatnya kecewa. Ternyata 'pujian' media telah melukai hari mbah satu ini. Karena itu belakangan mbah Marijan menolak untuk di foto. Dia ingin hidup tenang dan sederhana tanpa merasa 'diejek'.
Walau lava panas pernah menyerang sekitar dusunnya, hanya berjarak 20 meter dari rumah mbah Marijan. Tetap saja mbah yang satu ini, tidak bergeming. Dia percaya bahwa Tuhan melindunginya. Karena itu dia setia menjaga Merapi, kapan dan bagaimanapun kondisinya. hmmm.***
1 comment:
thank's udah nampangin nama-q di blog-u, I think U're my smart friend.
I miss U....(as a frien)
move it
Post a Comment