Gugusan gunung-gunung sewarna dengan air lautnya yang hijau. Kebeningan air membuat pemandangannya tembus pandang. Dalam hati aku memuji tempat ini sebagai: kesempurnaan. Pulau Nasi lebih indah dari Pulau Borkum di North Sea, Jerman yang ku kunjungi pertengahan tahun lalu.
TENGAH
MALAM sudah tiba, sewaktu jari masih menari-nari di atas tombol komputer.
Tetesan otak satu persatu terajut menjadi runtutan kalimat. Sebuah artikel politik
pemilu nyaris menemukan bentuk akhir. Dini hari itu (Sabtu ,18/04) , aku belum
juga tidur. Pada hal, sebentar lagi aku akan berpetualang ke gugusan Pulau Aceh,
Nanggroe Aceh Darusallam (NAD).
Rupanya
rasa penasaran, membuat kantuk ku hilang. Pukul enam pagi terjaga sudah. Segera
aku mandi dan bersalin rupa. Kaos Jogger-Bali dan celana pendek krem,
aku pilih sebagai stelan. Soal alas kaki, si Boggie Mountain Sandal
menjadi andalan. Di temani duet: sun glass Oeklay dan topi hijau WWF,
siap sudah aku mengarungi laut Aceh yang konon berombak besar itu.
Suara klakson Toyota Kijang Inova memekik dari balik pagar. Gadis centil berkacamata merah jambu, menyembulkan wajah dari balik jendela. Dia berteriak.”Babe..babe.” Gadis itu bernama Herika Indriani. Rambutnya sebahu, periang dan punya banyak mimpi. Dia sudah setahun lebih tinggal dan bekerja ke Banda Aceh.
Semenit
kemudian mobil bergerak. Setelah mengarungi jalan aspal, mobil tiba di depan
sebuah rumah. Seorang laki-laki berambut putih, berkaos hitam dan bercelana
parasut hijau menunggu. Pak Maan namanya.
Mobil
kembali bergerak memutar. Sebuah rumah besar berhalaman luas disambangi. Di
Banda Aceh, rumah itu dikenal sebagai Guest House. Disitu sejumlah
pentolan lembaga donor intenasional, indekost . Setelah tiba dipelataran
belakang, seorang perempuan berkaos liris biru mendekat. Perempuan iu dipanggil
Ibu Lusi. Team Leader (TL) capacity
building IREF. Kata Herika Ibu Lusi lebih mirip mother ketimbang seorang boss.
Sekitar
pukul 10.00, kami tiba di Penauyong. Penauyong itu nama muara sungai di Banda
Aceh. Penauyong dijadikan titik kumpul sebelum kami berlayar. Di tanggul sungai
yang berumput hijau itu, kami menunggu rombongan yang lain.
Tak
lama berselang, Upi tiba dengan mobil berplat B. Upi gadis berdarah
Padang-Manado. Nama aslinya Anna Arifin. Postur tubuhnya besar, berpenampilan attractive dan punya pipi tembem berona
merah. Hari itu Upi berkostum terang: kuning, putih, merah dan orange. Soal
mancing, Upi ahlinya. Jebolan dari universitas di Australia itu punya selera
bagus soal makanan. Siapa saja yang bersamanya pasti tak menyesal.
Sekitar
pukul 10.30, Kapal Motor (KM) Alaska angkat jangkar menuju Kepulauan Aceh.
Sebelumnya Pak Bashari, Pak Ismet dan Pak Sujud sudah tiba. Mereka rombongan
terakhir. KM Alaska berbalut cat hijau dengan liris putih merah sebagai
penghias. Berbahan kayu dan dilengkapi mesin bertenaga kuda, KM Alaska biasa
disewakan untuk plesiran.
Berlahan
KM. Alaska menyusur sungai Kreung Aceh menuju bibir muara. Semilir angin
mengelus-elus kulit wajah. Aku takjub melihat pemandangan yang ada. Pasca
tsunami, dinding Kreung Aceh diperkuat pakai batuan yang ditata rapi. Di tepi
sungai, pohon-pohon tumbuh menghijau. Pelabuhan-pelabuhan kecil dibangun
disepanjang tepian. Kapal-kapal tersusun rapi bagikan semut berbaris. Pemandangan
ini mengingatkan aku dengan sudut mewah di pelabuhan Metro Manila, Filipina,
Desember silam.
Air
laut biru kehitaman menyambut kami, selepas meninggalkan bibir muara. Di
kanan-kiri nelayan hilir mudik dengan ragam kegiatan. Memancing, menjala atau sekadar
melintas. Menatap kedaratan membuat kekakugaman ku bertambah-tambah. Banda Aceh
jauh lebih indah dipandang dari laut.Hmm…
***
SEJAM
SUDAH aku melempar joran (kail) ke laut. Tapi ikan masih jauh dari kail. Ombak
dan angin membuncah, membuat tubuh ku oleng kanan-kiri. Di sisi lain, si Upi
nikmat benar dengan pancingnya. Sudah dua kali dia mendapat ikan. Satu ikan
“buntal” berwarna biru, dan satu lagi ikan kakap kecil.
Herika
tampak pulas tidur di dek. Sedari tadi dia muntah-muntah. Gadis centil ini
rupanya mabok laut. Ibu Lusi, Pak Maan, Pak Ismet dan Pak Basahari setali tiga
uang denganku. Sebanyak joran dilempar, sebanyak itu pula ikan tak kunjung
dapat.
Makin
lama aku mulai mengutuk dalam hati.
“Ikan
di Aceh ini sialan juga, umpan dimakan, tapi tak satupun yang tersangkut kail.”
“Mungkin
ikannya lagi puasa,”imbuh Ibu Lusi menghibur diri.
”Bobok
siang ikannya,” kata Herika menimpali.
Matahari
tak lagi sejengkal di atas kepala. Perut mulai keroncongan. Di atas dek kapal,
juru mudi kapal beserta anak kapal, mulai memanggang ikan tuna yang kami bawa
dari darat. Aroma ikan panggang yang berlulur bumbu, membuat rasa lapar semakin
menjadi-jadi. Duh…
Semenit
sebelum makan siang. Aku melemparkan joran untuk terakhir kalinya. Tak disangka,
joran ku disambar ikan. Aih! Senang tak kepalang hati ini. Kutarik kuat-kuat
joran itu, tanpa perduli kalau talinya sudah berkelindaan. Dari bawah air ikan
bewarna kuning meronta-ronta. Makin kencang ku tarik.Dan…
”
Sial! ikan buntal rupanya.”
Senang
kesal campur aduk jadi satu. Senang karena aku berhasil memancing ikan. Kesal,
karena yang kutangkap ikan butal. Ikan ini tak bisa dikonsumsi karena beracun.
Tapi
syukurlah, makan siang mampu menghapus rasa kesal itu. Suguhan ikan tuna, ayam
panggang ala Pak Maan, telur dadar Ibu Lusi dan kesegaran lalapan, membuat
makan siang kali itu terasa mahal. Belum lagi racikan sambal kecap ala Herika
membuat rasa daging tuna terasa sempurna di mulut. Pedas, asam dan asin.Yummy…
***
LELAH
MEMANCING, KM. Alaska merapat ke pelabuhan laut Pulau Nasi. Gugusan
gunung-gunung sewarna dengan air lautnya yang hijau. Kebeningan air membuat
pemandangannya tembus pandang. Dalam hati aku memuji tempat ini sebagai:
kesempurnaan. Pulau Nasi lebih indah dari Pulau Borkum di North Sea,
Jerman yang ku kunjungi pertengahan tahun lalu.
Kami
berjalan-jalan sebentar di Pulau Nasi. Dahaga dan panas terik memaksa kami singgah ke sebuah warung. Di sana kami memesan
sejumlah minuman penyejuk. Angin berhembus membawa ku ke alam mimpi. Tanda sadar, mata ku
mulai terkatup dan tertidur pulas.
Pendulum
waktu sudah beranjak ke angka lima. Waktunya untuk kembali ke Banda Aceh. Kaki
segera kami langkahkan menuju KM. Alaska. Tapi hijaunya air laut dan komposisi
alam yang sempurna merayu-rayu kami untuk menyatu. Upi yang sedari tadi,
mengapung-apung di air, mengajak kami sekedar “berbasah-basahan”. Seperti makan
lezat di mata seorang yang tengah kelaparan, tawaran Upi tak kuasa ditolak.
Aku
segera nyebur dan merasakan hangatnya air laut. Berbekal pelampung dan
kaca-mata renang, aku mulai menjelajahi sejengkal dari keindahan Pulau Nasi
itu. Tak lama Herika menyusul begitu pula dengan Ibu Lusi. Kami bermain-main
riang gembira.
Matahari
mulai bersembunyi di balik gunung, tanda malam segera tiba. Kami harus kembali
ke Banda Aceh. Sinar keemasan mengantarkan kami pulang menemui daratan (*)

1 comment:
terasa pengen berlatih juga seperti Andreas Harsono. Mantap bang. Untuk opini: Coen Husain Pontoh. Feature: Andreas Harsono.
Post a Comment