Tuesday, April 21, 2009

Kepulauan Aceh: Fishing, Sailing and Swimming…

Gugusan gunung-gunung sewarna dengan air lautnya yang hijau. Kebeningan air membuat pemandangannya tembus pandang. Dalam hati aku memuji tempat ini sebagai: kesempurnaan. Pulau Nasi lebih indah dari Pulau Borkum di North Sea, Jerman yang ku kunjungi pertengahan tahun lalu.

TENGAH MALAM sudah tiba, sewaktu jari masih menari-nari di atas tombol komputer. Tetesan otak satu persatu terajut menjadi runtutan kalimat. Sebuah artikel politik pemilu nyaris menemukan bentuk akhir. Dini hari itu (Sabtu ,18/04) , aku belum juga tidur. Pada hal, sebentar lagi aku akan berpetualang ke gugusan Pulau Aceh, Nanggroe Aceh Darusallam (NAD).

Rupanya rasa penasaran, membuat kantuk ku hilang. Pukul enam pagi terjaga sudah. Segera aku mandi dan bersalin rupa. Kaos Jogger-Bali dan celana pendek krem, aku pilih sebagai stelan. Soal alas kaki, si Boggie Mountain Sandal menjadi andalan. Di temani duet: sun glass Oeklay dan topi hijau WWF, siap sudah aku mengarungi laut Aceh yang konon berombak besar itu.

Suara klakson Toyota Kijang Inova memekik dari balik pagar. Gadis centil berkacamata merah jambu, menyembulkan wajah dari balik jendela. Dia berteriak.”Babe..babe.” Gadis itu bernama Herika Indriani. Rambutnya sebahu, periang dan punya banyak mimpi. Dia sudah setahun lebih tinggal dan bekerja ke Banda Aceh.

Semenit kemudian mobil bergerak. Setelah mengarungi jalan aspal, mobil tiba di depan sebuah rumah. Seorang laki-laki berambut putih, berkaos hitam dan bercelana parasut hijau menunggu. Pak Maan namanya.

Mobil kembali bergerak memutar. Sebuah rumah besar berhalaman luas disambangi. Di Banda Aceh, rumah itu dikenal sebagai Guest House. Disitu sejumlah pentolan lembaga donor intenasional, indekost . Setelah tiba dipelataran belakang, seorang perempuan berkaos liris biru mendekat. Perempuan iu dipanggil Ibu Lusi. Team Leader (TL) capacity building IREF. Kata Herika Ibu Lusi lebih mirip mother ketimbang seorang boss.

Sekitar pukul 10.00, kami tiba di Penauyong. Penauyong itu nama muara sungai di Banda Aceh. Penauyong dijadikan titik kumpul sebelum kami berlayar. Di tanggul sungai yang berumput hijau itu, kami menunggu rombongan yang lain.

Tak lama berselang, Upi tiba dengan mobil berplat B. Upi gadis berdarah Padang-Manado. Nama aslinya Anna Arifin. Postur tubuhnya besar, berpenampilan attractive dan punya pipi tembem berona merah. Hari itu Upi berkostum terang: kuning, putih, merah dan orange. Soal mancing, Upi ahlinya. Jebolan dari universitas di Australia itu punya selera bagus soal makanan. Siapa saja yang bersamanya pasti tak menyesal.

Sekitar pukul 10.30, Kapal Motor (KM) Alaska angkat jangkar menuju Kepulauan Aceh. Sebelumnya Pak Bashari, Pak Ismet dan Pak Sujud sudah tiba. Mereka rombongan terakhir. KM Alaska berbalut cat hijau dengan liris putih merah sebagai penghias. Berbahan kayu dan dilengkapi mesin bertenaga kuda, KM Alaska biasa disewakan untuk plesiran.

Berlahan KM. Alaska menyusur sungai Kreung Aceh menuju bibir muara. Semilir angin mengelus-elus kulit wajah. Aku takjub melihat pemandangan yang ada. Pasca tsunami, dinding Kreung Aceh diperkuat pakai batuan yang ditata rapi. Di tepi sungai, pohon-pohon tumbuh menghijau. Pelabuhan-pelabuhan kecil dibangun disepanjang tepian. Kapal-kapal tersusun rapi bagikan semut berbaris. Pemandangan ini mengingatkan aku dengan sudut mewah di pelabuhan Metro Manila, Filipina, Desember silam.

Air laut biru kehitaman menyambut kami, selepas meninggalkan bibir muara. Di kanan-kiri nelayan hilir mudik dengan ragam kegiatan. Memancing, menjala atau sekadar melintas. Menatap kedaratan membuat kekakugaman ku bertambah-tambah. Banda Aceh jauh lebih indah dipandang dari laut.Hmm…

***

SEJAM SUDAH aku melempar joran (kail) ke laut. Tapi ikan masih jauh dari kail. Ombak dan angin membuncah, membuat tubuh ku oleng kanan-kiri. Di sisi lain, si Upi nikmat benar dengan pancingnya. Sudah dua kali dia mendapat ikan. Satu ikan “buntal” berwarna biru, dan satu lagi ikan kakap kecil.

Herika tampak pulas tidur di dek. Sedari tadi dia muntah-muntah. Gadis centil ini rupanya mabok laut. Ibu Lusi, Pak Maan, Pak Ismet dan Pak Basahari setali tiga uang denganku. Sebanyak joran dilempar, sebanyak itu pula ikan tak kunjung dapat.
Makin lama aku mulai mengutuk dalam hati.

“Ikan di Aceh ini sialan juga, umpan dimakan, tapi tak satupun yang tersangkut kail.” 

“Mungkin ikannya lagi puasa,”imbuh Ibu Lusi menghibur diri.

”Bobok siang ikannya,” kata Herika menimpali.

Matahari tak lagi sejengkal di atas kepala. Perut mulai keroncongan. Di atas dek kapal, juru mudi kapal beserta anak kapal, mulai memanggang ikan tuna yang kami bawa dari darat. Aroma ikan panggang yang berlulur bumbu, membuat rasa lapar semakin menjadi-jadi. Duh…

Semenit sebelum makan siang. Aku melemparkan joran untuk terakhir kalinya. Tak disangka, joran ku disambar ikan. Aih! Senang tak kepalang hati ini. Kutarik kuat-kuat joran itu, tanpa perduli kalau talinya sudah berkelindaan. Dari bawah air ikan bewarna kuning meronta-ronta. Makin kencang ku tarik.Dan…

” Sial! ikan buntal rupanya.”

Senang kesal campur aduk jadi satu. Senang karena aku berhasil memancing ikan. Kesal, karena yang kutangkap ikan butal. Ikan ini tak bisa dikonsumsi karena beracun.

Tapi syukurlah, makan siang mampu menghapus rasa kesal itu. Suguhan ikan tuna, ayam panggang ala Pak Maan, telur dadar Ibu Lusi dan kesegaran lalapan, membuat makan siang kali itu terasa mahal. Belum lagi racikan sambal kecap ala Herika membuat rasa daging tuna terasa sempurna di mulut. Pedas, asam dan asin.Yummy…


***


LELAH MEMANCING, KM. Alaska merapat ke pelabuhan laut Pulau Nasi. Gugusan gunung-gunung sewarna dengan air lautnya yang hijau. Kebeningan air membuat pemandangannya tembus pandang. Dalam hati aku memuji tempat ini sebagai: kesempurnaan. Pulau Nasi lebih indah dari Pulau Borkum di North Sea, Jerman yang ku kunjungi pertengahan tahun lalu.

Kami berjalan-jalan sebentar di Pulau Nasi. Dahaga dan panas terik  memaksa kami singgah  ke sebuah warung. Di sana kami memesan sejumlah minuman penyejuk. Angin berhembus  membawa ku ke alam mimpi. Tanda sadar, mata ku mulai terkatup dan tertidur pulas.
Pendulum waktu sudah beranjak ke angka lima. Waktunya untuk kembali ke Banda Aceh. Kaki segera kami langkahkan menuju KM. Alaska. Tapi hijaunya air laut dan komposisi alam yang sempurna merayu-rayu kami untuk menyatu. Upi yang sedari tadi, mengapung-apung di air, mengajak kami sekedar “berbasah-basahan”. Seperti makan lezat di mata seorang yang tengah kelaparan, tawaran Upi tak kuasa ditolak.

Aku segera nyebur dan merasakan hangatnya air laut. Berbekal pelampung dan kaca-mata renang, aku mulai menjelajahi sejengkal dari keindahan Pulau Nasi itu. Tak lama Herika menyusul begitu pula dengan Ibu Lusi. Kami bermain-main riang gembira.

Matahari mulai bersembunyi di balik gunung, tanda malam segera tiba. Kami harus kembali ke Banda Aceh. Sinar keemasan mengantarkan kami pulang menemui daratan (*)

1 comment:

catatan.catatan said...

terasa pengen berlatih juga seperti Andreas Harsono. Mantap bang. Untuk opini: Coen Husain Pontoh. Feature: Andreas Harsono.