***
AKU MASIH DI ALAM MIMPI, ketika sebuah telephone memaksa ku bangun. Di layar tertera nama yang sudah akrab. Dari seberang, perempuan lawan ku bicara, segera melontarkan ejekan. Baginya aku ini tukang tidur dan malas bergerak. Maklum, aku baru bangun setelah pukul. 10.00 pagi. Itupun karena suara telphone.
Lima menit lamanya kami berbicara. Dia meminta ku untuk segera mengaktifkan nomor simpati. Katanya seorang kawan lama dari Jakarta ingin berbicara. Kawan itu bermaksud mengajak ku serta, membuat film documenter di Aceh. Aku diminta menjadi director assitent (assisten sutradara).
Begitu nomor simpati ku aktif, sejumlah sms langsung berdatangan. Ada yang mengajak diskusi politik. Ada yang menyuruh segera bangun. Ada pula yang berbagi kabar suka-cita.Sms terakhir dikirim Dian Purba.” Ga nyangka aq bg, Centang atau Contreng itu dimuat di Kompas hr ini (hal 15) (3/4/2009, 09:41:21),” tulisnya dalam sms itu.
Dian Purba. Laki-laki berkulit coklat dan berambut pendek. Perawakannya sederhana. Dia agak pendiam jika bertemu orang baru. Dia suka menulis.
Dian punya bakat di bidang itu (tulis-menulis). Rajutan kata-katanya seperti tarian sufi yang meliuk-liuk. Untaian kalimat demi kalimatnya mengalir bebas bagaikan air sungai nan indah. Pesannya mengelitik, jenaka dan penuh kritik sosial.
Jauh sebelum Kompas menerbitkan tulisannya. Aku sudah melihat bakat terpendam pada anak muda ini. Diam-diam aku pernah membaca goresan hatinya. Rupanya dia sedang jatuh cinta pada teman satu kostnya. Seorang perempuan yang kelak menjadi dokter.
Satu ketika aku pernah berkata pada anak ini.”Kamu punya bakat menulis.” Waktu itu dia tidak percaya ucapan ku. Apa daya, aku tak sempat menyakinkanya waktu itu. Aku terpaksa berpisah darinya sejenak, karena harus pergi mengikuti takdir yang membawa ku ke Inggris.
Waktu berubah begitu pula dengan Dian. Berlahan namun pasti, Dian sadar akan bakatnya. Dia mulai mengasah bakat itu. Semakin rajin dia membaca buku. Hanya saja, tak banyak buku yang tuntas dibacanya. Gejolak jiwa membawanya pada keasikan sebagai penulis. Satu persatu karyanya mulai menuai decak kagum dan pujian.
Dian punya bakat sebagai penulis besar. Kecerdasan dan keunikan ada padanya. Hanya sedikit lagi yang dia butuhkan : kesabaran, keuletan dan kerja keras.
Hmm..
“It is you’r time to harvest (ini waktu mu menuai).”
“I have told you, Dian if you will be remembering. It’s just a time. You will be getting a bonus from those of what you have done (Jika kamu ingat, sudah ku katakan pada mu, Dian. Itu cuma masalah waktu. Kamu pasti mendapat bonus dari apa yang kamu kerjakan).”
***
SURYOPRATOMO. Laki-laki lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, lahir pada 21 Mei 1961. Dia tumbuh besar dalam belaian cinta kasih orang tuanya. Alm. Soehano Tjokroprawiro, seorang kontraktor dan Siti Sofiah, ibu rumah tangga yang baik.
Sewaktu kecil, Tommy (panggilan akrab Suryopratomo) bercita-cita menjadi pemain bola. Ini cita-cita kebanyakan anak Indonesia. “kalau disuruh ngaji, dia bilang,”Kamu aja yang duluan, nanti saya susul,’ sebab dia mau bermain bola,” tulis Coen Husain Pontoh mengutip Harsi Muharram, kakak Tommy dalam Suryapratomo Anak Baik Bernasib Baik (Pantau, 2001).
Selepas tamat SLTA, Tommy melanjutkan studinya ke Bogor. Sekolah pertanian tersohor di Indonesia itu, menjadi pilihannya. Di kota hujan Tommy berkenalan dengan jurnalisme. Tommy ikut mengelola majalah mahasiswa di kampusnya. “Tapi dia agak ogah-ogahan, walau lama-lama ia jatuh cinta pada jurnalisme,” tulis Coen lebih lanjut.
Tommy anak yang cerdas. Di tahun 1998 dia berhasil menambah deretan gelar akademiknya. Magister. Jalan berkarir di dunia kampus terbuka lebar. Almamaternya, IPB, menawarkan bea siswa S-3 (Ph.D) sekaligus meminangnya menjadi dosen.
Hati Tommy berkata lain. Dia memilih berkarir di jalur berbeda. Empat paket lamaran dikirimnya. Satu ditujukan pada sebuah bank. Tiga lagi dialamatkan untuk industri media: Harian Kompas, Harian Suara Pembaharuan dan Mingguan Tempo. Dari tiga media itu, hanya Kompas yang memanggilnya. Februari 1987, Tommy resmi memulai karirnya sebagai wartawan.
Tommy dikenal sebagai wartawan yang baik. Dia ahli membuat liputan olahraga. Di Kompas, Tommy “mengendap” lama di desk olahraga. Berkat Kompas, Tommy melanglang buana ke pelbagai belahan dunia. Dia juga berkesempatan bersua dengan Diego Armando Maradona, Marco van Basten dan Ruud Gulit.
Tommy bukan wartawan sensasional. Dia belum membuat ulasan jurnalistik sekelas Hirosima yang di tulis Jhon Hersey (1946). Tapi Tommy wartawan professional yang berani menulis kebenaran. Lewat tulisannya, Eli Idris pemain Pelita Jaya, diseret ke meja persidangan PSSI. Pasalnya Eli melecehkan Bertje Matupelawa, pelatih Petro Kimia. Eli melorotkan celana di hadapan Matupelawa. Itu terjadi ketika Eli selesai mencetak gol.
”Saya mengkritik keras ulah Eli Idris. Perilaku seperi itu mencoreng dunia sepakbola,” tulis Coen sesuai penuturan Tommy.
Di usia ke 39 Tommy mendapat “bonus” dalam karir wartawannya. Jakob Oetama, pendiri Kompas, mewariskan tah-tah pemimpin redaksi kepada Tommy. Jakob Oetama adalah orang besar di Negara ini. Orang mengenal Oetama sebagai jurnalis tiga zaman cum pengusahan media nan sukses. Di tangan Oetama, Kompas yang lahir belakangan dari Harian Waspada di Medan, menjelma menjadi harian terbesar dan terkuat di Indonesia. Kini warisan itu ada ditangan Tommy.
Tommy tidak pernah membayangkan menjadi pemimpin redaksi Kompas. Kala melamar ke Kompas, tujuannya hanya satu. Menjadi penulis. Tidak lebih (*)
No comments:
Post a Comment