Monday, July 26, 2010

BELANDA

SUBUH (Senin,12/7) Belanda menghadapi Spanyol di laga pamungkas Piala Dunia 2010. The Orange memang layak di sana. Negeri Bung Tulip itu bukan saja memiliki pemain bertalenta, penduduk gila bola tapi juga cerita berliku soal si kulit bundar.

Aku ingat betul hari itu. Sabtu (21/06/2008), Schiphol International Airport, Amsterdam, bersalin meriah. Pita, banner, kaos, jaket sampai boneka semua berkelir oranye. Aku sabar menunggu panggilan boarding. Pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) 809 bersiap membawaku singgah sejenak di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia. Aku dalam perjalanan pulang ke Indonesia.

Sabtu itu bukan hari biasa. Orang-orang Belanda sedang berbunga-bunga hatinya. Tim sepakbola mereka lagi bagus-bagusnya berlaga. Marco Van Basten, sang pelatih, dipuja setinggi langit.

Sebelumnya Van Basten dikritik habis. Ia dicap nekad berlaga di Piala Eropa karena menggondol sederet anak muda ke Austria. Punggawa lawas seperti Edgar Davids dan Clarence Seedorf, ia sisihkan. Pasca Piala Dunia 2006, Van Basten merombak habis pasukan The Orange.

Di Austria, cerita berubah. Permainan cepat, atraktif dan mengesankan ala The flying Dutchmen menuai puja-puji. Ruud van Niseel Roy menggulung Italia, Perancis dan Romania. Belanda berjaya di penyisihan grup.

Di babak 16 besar, Belanda ditantang Rusia. Tim Beruang Merah ini dibesut Guus Hiddink. Ia juru taktik kelas dunia dari Belanda. Tapi wong Londo optimis, Edwin Van De Sar cs sanggup melindas bekas negara Stalin itu.

Total football menjampi-jampi permainan Belanda. Aliran bola cepat, kecerdikan manuver, serangan menusuk dan sentuhan akhir memukau. Semua menyatu sebagai senjata mematikan. Sembilan gol dalam tiga laga lebih dari cukup jadi modal menghajar Rusia. Seantero Negeri Kincir Angin sudah tak sabar menanti hari pertandingan digelar.

Pukul sembilan malam waktu Belanda. Panggilan boarding menyalak. Penumpang diminta berbaris. Satu persatu berjalan menuju kabin pesawat.

Mesin pesawat Boeing type 747-400 berlantai dua bergemuruh. Raungannya membelah keheningan malam. Awak kabin hilir mudik memastikan penumpang duduk di tempatnya. Sesaat sebelum take off, dari ruang kendali sang pilot menyampaikan kabar buruk, ”Untuk sementara Belanda tertinggal satu kosong dari Rusia.”

Penumpang sontak menggerutu.

Gol Roman Pavlyuchenko pada menit ke 56 membawa Rusia unggul. Gol itu juga merusak keheningan kabin pesawat. Banyak penumpang tidak bahagia mendengar kabar itu.

Setengah jam setelah mengudara, kabin pesawat senyap. Penumpang larut dalam ragam aktivitas: menonton film, menikmati lagu, membaca buku atau terlelap dalam tidur.

Dari bilik kemudi, pilot kembali berbicara. Laiknya pembaca berita, ia menyampaikan kabar mendadak dari daratan: ”Wesly Sneijder mencetak gol untuk menyamakan kedudukan.”

Riuh meledak. Penumpang dan awak kabin berpesta. Mereka saling berpelukan, mengacungkan tangan dan mengelu-elukan Belanda. Beberapa di antarnya bahkan tidak tahan menahan haru.

Pukul tiga sore waktu Malaysia. Langit terang benderang ketika pesawat mendarat mulus di KLIA. Sebelum berpisah, pilot kembali berbagi kabar, ”Apa boleh buat. Kita kalah 3-1 dari Rusia.”

Belanda tersingkir dari Piala Eropa.

Pahlawan Belanda tahun 1988, Marco van Basten, patah arang. Permainan agresif anak Negeri Rendah rontok di tangan Hiddink. Hiddink sukses menjadi “penghianat” paling genius sepanjang masa. Taktik jitu Hiddink berhasil membungkam laju total football.

Perjudian Van Basten berujung hinaan. Pendirian kukuh membawa Dirk Kuyt, Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, dan Arjen Robben gagal membuat Belanda bediri tegak di daratan Eropa. Si bengal Davis yang ditinggalkan, mengirim kutuk kepada Van Basten, ” Van Basten (is) lacks (of) class (Van Basten tidak berkelas)…,” tulis Davis dalam surat terbukanya.

Lambertus “Bert” Van Marwjik diplot menganti Van Basten. Marwjik lahir di Deventer, Belanda pada 19 Mei 1952. Ia Ducth tulen dengan rambut kelabu. Kalem dan suka berpakaian rapi.

Van Marwjik bukan sosok terkenal. Ia tidak sepopuler Rinus Michael, si penemu total football. Ia juga tidak sehebat Johan Cruyff, legenda yang membawa Belanda dua kali ke babak final Piala Dunia. Ia tidak pernah bermain di klub Eropa di luar Belanda. Van Marwjik bahkan cuma sekali memakai kaos The Orange di tahun 1975.

Soal strategi, Van Marwjik orang konservatif. Jika Van Basten berhasrat mendominasi permainan lewat serangan frontal, maka Marjiwk berpakem pragmatis. Ia meminta anak asuhnya merebut bola di lahan sendiri; bukan di sarang lawan. Ia bahkan mau The Orange menahan bola lebih lama. Penguasaan bola (ball position) dan kesabaran membongkar pertahanan lawan lewat umpan terukur adalah filosopi Van Marwjik.

Taktik Van Marwjik menuai kritik. Belanda kehilangan gaya bermain indah. Van Marwjik dianggap “melecehkan” warisan bangsa: total footbal. Sampai-sampai Cruyff mengalihkan dukungan kepada Chile. "Tim terbaik yang (kita) lihat sejauh ini, Cile," tulis Cruyff dalam koran De Telegraaf.

Rabu dini hari (07/07/2010), Marjiwk seolah membungkam semua kritik. Belanda menggilas Uruguay 3-2. Kemenangan itu menghantarkan Belanda ke final Piala Dunia. Pencapaian hebat yang gagal diraih pelatih Belanda sejak tahun 1978.

Taktik Marjiwk bergulir sempurna di kaki anak-anak The Netherland. Kuyt bermain bagus dalam menyerang dan bertahan. Sneijder pengumpan sekaligus penjebol gawang paling subur. Rooben punya kecepatan dan akurasi kaki kiri. Ia mampu menyusur lapangan sekencang singa berlari. Maarten Stekelenburg bagai tembok batu yang sulit ditembus di bawah mistar.

Masih ada Mark van Bommel, gelandang tangguh asal Bayer Munich. Ia bukan saja sukses mengatur ritme permainan bersama Sneijder, tapi juga teguh dalam menggalang pertahanan. Ada pula malaikat hitam, Eljero Elia. Gerakan meliuknya membuat Denmark terhempas di babak penyisihan grup. Ketika Belanda frustasi mendapatkan kemenangan, maka Elia jadi pemain yang paling diharapkan menciptakan peluang.

Di bangku cadangan masih ada Ibrahim Afellay. Gelandang asal PSV Endehoven ini, mampu berlari kencang tanpa lelah selama sembilan puluh menit. Walau belum mencetak gol, tapi gerakannya berhasil merusak konsentrasi lawan. Ia buktikan itu dari tiga pertandingan di babak penyisihan.

Deretan nama itu adalah berkah bagi Van Marjiwk. Ia tidak hanya beruntung punya pemain muda berbakat, tapi diperkaya dengan mental pemenang. Terbukti saat Belanda sukses mengusir Brasil dari Afrika Selatan. Ketinggalan satu gol tidak membuat Belanda kelimpungan. Ketangguhan mentalitas Belanda sanggup mengurung pertahanan Brasil. Tekanan bola dari kanan kiri memaksa Julio Caesar, kiper terhebat Brasil, rela dijebol hingga dua kali.

Tapi Van Marjiwk tidak boleh lupa. Berkah itu tidak lepas dari pekerjaan tangan Marco Van Basten. Van Bastenlah yang memberikan pintu bagi talenta muda Belanda. Van Basten pula yang gagah berani menolak pemain dunia sekelas Davis dan Seedorf.
Masih teringat jelas saat Van Basten menutup pintu bagi Davis. Van Basten memang mengakui kehebatan Si Bengal. Bahkan ia disejajarkan dengan Jan Wouters, legenda lapangan tengah Belanda era 1980an. Tapi bagi Van Basten, zaman sudah berubah. “Jan Wouters was a great defensive midfielder as well. But I didn’t select him. He is from another era…(Jan Wouters juga gelandang bertahan yang baik. Tapi saya tidak memilih dia. Ia, dari zaman yang berbeda…),” ucap Van Basten kepada wartawan Belanda.

Perubahan zamanlah yang membuat Van Basten merelakan Clarence Seedorf tidak ikut ke Piala Eropa. Ia lebih memilih membawa Kuyt dan Van Boomel. Anak muda penghuni bangku cadangan, naik kelas menjadi pemain utama. Inilah pasukan menjajikan warisan Van Basten kepada The Netherland. Reformasi punggawa The Orange dimulai dari Van Basten.


Van Marjiwk setali tiga uang dengan Van Basten. Prinsip yang sama mendorong Van Marjiwk mencoret Ruud van Nissel Roy. Ia memilih pemain muda berbakat tapi sudi diatur. Setengah pilihannya tak jauh dari pasukan Van Basten. Dan terbukti, di Afrika Selatan mereka berhasil membuat harga diri Belanda melambung.

Negeri Van Oranje tinggal selangkah lagi menjadi juara dunia. Setelah proses melelahkan, Negeri Keju itu berada di puncak terbaik setelah 32 tahun menunggu. Mereka siap menghadapi “banteng” ganas dari Negeri Matador.

Pencapai Belanda mengajarkan kita, bahwa prestasi bukan produk cepat saji. Prestasi adalah investasi jangka panjang. Ia berliku, tajam, menyakitkan, bertabur konflik batin dan tangis air mata.

Apapun hasil akhir final Piala Dunia kali ini, Belanda tetaplah memesona (*

No comments: