Di balik hijau hutan alami, Tangkahan menyimpan rahasia awet muda. Ia tidak cuma dijaga dan dilindungi, tapi juga dibiarkan tersembunyi dari gemuruh modernitas.
JUMAT itu mentari berdiri tegak melingkupi kota Medan. Warga sudah bangkit dari peraduan. Mereka siap menghadapi takdir. Rejeki atau kemalangan.
Empat jam sebelum tengah hari, Terminal Terpadu Pinang Baris tampak sesak. Lima ratus meter dari terminal itu, puluhan orang duduk di tepi jalan. Raut wajah mereka gusar menunggu kedatangan bus yang tak pasti. Tujuan mereka sama: Tangkahan.
Aku dan empat kolega berencana menghabiskan akhir minggu di Tangkahan. Sebuah wilayah konservasi yang terletak di Kabupaten Langkat. Di sana ada ragam aktivitas menanti: arum jeram, jelajah hutan, naik gajah, berenang di sungai, air terjun, air hangat dan lain-lain. Butuh empat jam untuk tiba di Tangkahan. Kami bangun pagi-pagi agar dapat bus pertama.
Kami kecewa. Dari tiga bus P.O Pembangunan Semesta (PS) yang melayani rute Medan-Tangkahan, satu diantaranya rusak berat. Dua lagi harus kerja ekstra keras; bolak-balik. Konon bus kedua baru tiba pukul sebelas siang. Tapi tak satupun yang mampu menjamin waktu pastinya.
Bus PS hilir mudik di depan hidung. Tapi tak satupun menuju Tangkahan. Semua bus menuju Sawit Seberang. Rasa bosan dan kesal mendorongku bertanya kepada agen bus.
“Bang, bus ke Tangkahan yang mana?”
“Bus yang paling jelek bang! Tapi belum datang.”
Jawaban si agen membuat penasaran. Selama mata memandang, nyaris tidak ada bus PS yang bagus. Tubuh bus-bus itu sudah kusam. Balutan warna merah berliris putih, kuning dan biru nyaris memudar. Bahkan ada bus PS yang ditumbuhi pakis di atapnya; sangkin tidak terawatnya.
Membunuh rasa jenuh, kami singgah di warung. Menikmati teh hangat dan semangkuk bakso kuah. Sambil menunggu, aku melempar pertanyaan yang sama.
“Bu! Bus ke Tangkahan yang mana ya?”
“Nomor 135.”
“ Yang mana itu, bu?”
“ Yang paling jelek!”
Jawaban yang sama.
Pukul sebelas, bus BK 7716 DE tiba. Puluhan orang yang sedari tadi duduk manis sekonyong-konyong berhamburan. Mereka berkerubun di pintu masuk. Saling mendesak berebut tempat duduk. Kami tak pula ketinggalan.
Bus 135 itu sudah ujur. Warna khas nyaris berganti karat. Joknya keras seperti papan. Kaca jendela retak-retak. Beberapa bagian harus direkatkan isolatif agar kuat berdiri. Langit-langit dikerubungi debu menahun. Banyak penumpang dibuat terbatuk-batuk.
Tiga puluh menit kemudian roda bus melaju. Angin sepoi-sepoi menyelinap menghampiri penumpang. Bau keringat dan panas bersatu padu. Setengah jam dari titik keberangkatan, bus sudah dijejali penumpang. Tidak tersisa ruang di lorong bus.
Tiba di Binjai, bus berhenti. Seorang ibu bersama tv dan kulkas telah menunggu. Ia mendesak ikut serta. Penumpang lain menggerutu dan melempar kutuk. Mereka tidak setuju tambahan penumpang. Bus sudah tidak muat.
“Bang sopir, nanti bannya kempes!” kritik seorang penumpang.
Pak Sopir acuh. Si ibu lengkap dengan kulkas dan tv tetap diangkut. Jalanan dari tanah liat dan kerikil, ia bantai seolah tanpa beban. Biar penumpang berimpitan seperti ikan gembung, Pak Sopir tetap tancap gas. Ia pakem dengan pepatah lama: anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
Tiga jam kemudian bus berhenti mendadak. Ternyata bannya kempes.
***
GELAP memeluk Tangkahan. Binatang malam mulai bernyanyi diiringi deru air sungai. Hembusan angin membuat daun-daun menari-menari. Keheningan menyelimuti wilayah di bawah kaki Gunung Lauser itu.
Rambasan gitar Ananta Ginting memecah malam. The Rumble in Jungle membuat ruang makan di Mega Inn bersemangat. Ananta melafal lirik secara sempurna. Padahal Ananta tidak tamat sekolah dasar (SD).
Ananta baru enam bulan belajar bahasa Inggris. Ia tidak pernah tertarik pada bahasa Ratu Elizabeth itu. Seorang gadis dari Belanda membuat Ananta memaksa diri belajar bahasa Inggris. Gadis itu bernama Anelis.
Enam bulan lalu Anelis berlibur di Mega Inn tempat Anata bekerja. Ananta ramah dan bersemangat melayani tamu-tamu Mega Inn, termasuk Anelis. Kepada sang gadis Ananta tidak pernah absen melempar salam dan senyum.
Rupanya si gadis simpatik. Keramahan laki-laki asli Tangkahan itu menarik perhatian Anelis. Pelan-pelan Anelis menunjukkan perasaan ketertarikan, tapi Ananta tidak mengerti. ” Aku tidak tahu bahasa Inggris bang,” kata Ananta.
Hari terakhir Anelis di sana pun tiba. Ananta tak jua paham maksud si gadis. Menjelang detik-detik keberangkatan, Anelis memeluk dan mencium Ananta tiba-tiba. ”Di bibir,” ujar Ananta mengenang. Anelis mengatakan akan kembali lagi. Semenjak itu Ananta belajar bahasa Inggris.
Kini Ananta kerap menyapa tamu-tamu dengan bahasa Inggris. Ia bahkan tidak segan bertanya jika ia tidak paham kata yang dimaksud. Satu persatu kata baru ia ingat baik-baik. Ia sering pula meminta izin kepada tamu untuk berdialog. ” May I talking-talking with you,” kata Ananta.
Ananta hanya secuil kisah di balik rimbunan hutan seluas 170 hektar. Di tahun 1997, Tangkahan dikenal sebagai titik perambahan hutan secara tidak sah (illegal logging). Setiap minggu ribuan kubik kayu bisa ditebas. Warga pun biasa meraup paling sedikit Rp 5 juta dari aksi itu.
“Tapi kami (warga Tangkahan-red) tak dapat apa-apa,” kata Mega Depari, pemilik Mega Inn. Mega lahir dan besar di Tangkahan. Laki-laki kekar ini dulu ikut menebang kayu. Mega pernah bekerja di Bukit Lawang sebagai pelayan di sebuah hotel. Bertahun-tahun ia belajar mengelola penginapan.
Menurut Mega, selama aktivitas illegal logging, hidup warga Tangkahan carut marut. Uang banyak dari aksi itu habis tak menentu. Ladang warga tidak berbuah karena kerap dilanda banjir. Warga tidak punya sandaran hidup yang layak.
Di tahun 2000, Unit Manajemen Lauser (UML) dan Pemerintah Kab. Langkat menjadikan Tangkahan sebagai daerah ekowisata. Warga diminta berhenti menebangi pohon. Mereka dilatih memanfaatkan keindahan hutan sebagai mata pencaharian.
Indecont, sebuah lembaga yang fokus pada pengembangan ekowisata, membantu warga meningkatkan kemampuan. Anak-anak muda dilatih teknik SAR (search and rescue), orang dewasa mendapatkan pelatihan pengelolaan hotel, ibu-ibu diajari ragam teknik memasak makanan. ”Apapun ceritanya orang kampung harus diajari,” jelas Mega.
Illegal logging menurun drastis. Warga kini mengambil posisi sebagai penjaga hutan. Tidak satu orangpun diizinkan menebang pohon.” Kalau dulu kami malingnya, sekarang kami polisinya,” kata Mega.
Di tahun 2001 warga mendirikan LPT (Lembaga Pariwisata Tangkahan). Lewat LPT semua urusan di Tangkah dibuat satu pintu. Pembagian tugas diatur. Semua orang dapat bagian. LPT membuat persaingan antarpenginapan tidak terjadi.
Tangkahan tersembunyi di sudut lahan perkebunan milik PT PN II . Ia hanya bisa dijangkau lewat alan lintas yang rusak parah. Namun Mega tidak melihat jalan rusak itu sebagai kendala pariwisata. ”Kalau jalan itu dibuat bagus, kami yang tidak siap,” terang Mega.
Menurut Mega, warga Tangkahan akan kerepotan menampung ledakan wisatawan jika jalan dibuat mulus. Bagi Mega, ledakan itu hanya menyisakan masalah. Alasannya, akses jalan membuat wisatawan pulang hari (tidak menginap) akan ramai. Mereka biasanya membawa makanan sendiri. ”Kami cuma dikasih retribusi dan sampah. Mereka tidak menginap dan makan di restoran,” ujar Mega.
Mega merasa lingkungan Tangkahan terancam dengan jalan mulus. Sampah yang dibawa wisatawan harian akan sulit diatasi warga Tangkahan. Selain itu, penyakit sosial seperti prostusi dan perjudian akan merebak di sekitar wilayah wisata itu.
Kini hutan adalah harta paling mahal bagi warga Tangkahan. Tanpa hutan, kehidupan warga bukan saja terancam bencana tapi juga secara ekonomi. Untuk melindungi hutan, warga Tangkahan melakukan apa saja. Sekawanan gajah ditempatkan sebagai transportasi penjaga hutan.
”Hutan adalah hidup kami. Kalau hutan tidak ada, maka kami pun tidak ada,” tegas Mega.
***
Laporan ini dipublikasikan pertama kali oleh Newsletter Mata Kata Edisi No. Tahun II/ 2010.
No comments:
Post a Comment