Minggu siang saya diundang ke acara sederhana tapi
penting. Namanya pelatihan menulis.
SAYA
semangat betul datang ke acara itu. Saya bahkan memilih pergi ke gereja hari
Sabtu, tujuannya agar pada hari Minggu saya bisa penuh waktu melatih. Selain
melatih menulis, saya bawa misi lain. Saya mau kasih tahu anak-anak muda itu,
cara berhasil di masa depan.
Anak
muda harus dengar Tony Wagner. Ia pakar soal leadership dan pendidikan. Tony bilang kesuksesan di abad 21
ditentukan tujuh keterampilan. Yaitu:
(1) Critical
thinking and problem solving,
(2) Collaboration across
network and leading by influence,
(3) Agility and
Adaptability,
(4) Initiative and entrepreneurship
(5) Effective oral and written communication,
(6) Accessing and analyzing information, dan
(7) Curiosity and
imagination.
Ketujuhnya
ditulis dalam buku The Global Achievement
Gap (2008). Tony orang Amerika. Punya gelar master dan Ph.D pendidikan dari
Harvard University Graduate School of Education, Amerika Serikat
(AS). Tony suka keliling benua untuk bicara pendidikan.
Dalam
The Global Achievement Gap, Tony
banyak menyebut soal komunikasi. Setidaknya dari tujuh keterampilan yang Ia
rujuk, enam diantaranya berhubungan dengan komunikasi. Singkatnya, kalau mau
dapat pekerjaan bagus harus jago berkomunikasi.
Bank
Dunia menulis laporan sejenis, bertajuk Indonesia
Skill Report; Trends in Skills Demands, Gaps and Supply in Indonesia (2010). Dalam
laporan itu, behavior skill dijadikan
kompetensi penting yang harus dimiliki setiap tenaga kerja. Salah satu komponen
behavior skill adalah communication skills. Perusahaan butuh
calon pekerja yang tidak gagap berkomunikasi, baik verbal, visual maupun
tulisan.
Baiklah. Jika begitu pentingnya communication skills, lantas siapa yang akan melatih keterampilan
tersebut kepada anak-anak muda kita? tentu saja kita berpikiran, seharusnya itu
tugas institusi pendidikan.
Tapi Bank Dunia bilang institusi pendidikan kita sering
gagal menyediakan keterampilan yang dibutuhkan.Dalam feature bertajuk Indonesia: Skills development for national
productivity (2011), Bank Dunia menulis,”Skills, knowledge and experience relevant to the labor market are
vital to improve employment outcomes and increase productivity. However,
education and training systems in East Asian countries, including Indonesia,
often lack quality and relevance, leaving workers ill-prepared to meet demands
of the labor market.”
 |
| Rating behavior skill |
Raoul Oberman peneliti dari McKinsey Global Institute (MGI) bilang yang hal sama. MGI
melaporkan 56 persen tamatan-tamatan muda sekolah di Indonesia tidak mempunyai
persiapan yang cukup untuk memasuki dunia kerja. Data itu disampaikan dalam laporan riset
berjudul The Archipelago Economic; Unleashing
Indonesia’s potential (2012).
Keterampilan
bukan pelajaran hafalan. Keterampilan tidak bisa didapatkan dengan membaca buku
teori. Keterampilan harus dipelajari, dilatih dan dipraktikan terus menerus.
Kadang butuh kesalahan, tekanan dan frutasi agar keterampilan bisa terbentuk.
Butuh pengorbanan agar keterampilan bisa mendatangkan manfaat dimasa depan.
Ringkasnya
saya mau bilang, anak muda sekarang kalau mau berhasil di masa depan harus
lebih bergiat. Tak cukup menyandarkan harapan kepada pendidikan formal. Mereka
harus lebih agresif meningkatkan keterampilan. Salah satunya bisa lewat
kegiatan sederhana ini, yaitu: latihan menulis.
No comments:
Post a Comment