Thursday, June 13, 2013

Pelatihan Ini (Bukan) Sekadar Menulis (1)

Minggu siang saya diundang ke acara sederhana tapi penting. Namanya pelatihan menulis.
 
SAYA semangat betul datang ke acara itu. Saya bahkan memilih pergi ke gereja hari Sabtu, tujuannya agar pada hari Minggu saya bisa penuh waktu melatih. Selain melatih menulis, saya bawa misi lain. Saya mau kasih tahu anak-anak muda itu, cara berhasil di masa depan.

Anak muda harus dengar Tony Wagner. Ia pakar soal leadership dan pendidikan. Tony bilang kesuksesan di abad 21 ditentukan tujuh keterampilan. Yaitu:
 (1) Critical thinking and problem solving,
(2) Collaboration across network and leading by influence,
(3) Agility and Adaptability,
(4) Initiative and entrepreneurship
 (5) Effective oral and written communication,
 (6) Accessing and analyzing information, dan
(7) Curiosity and imagination.

Ketujuhnya ditulis dalam buku The Global Achievement Gap (2008). Tony orang Amerika. Punya gelar master dan Ph.D pendidikan dari Harvard University Graduate School of Education, Amerika Serikat (AS). Tony suka keliling benua untuk bicara pendidikan.

Dalam The Global Achievement Gap, Tony banyak menyebut soal komunikasi. Setidaknya dari tujuh keterampilan yang Ia rujuk, enam diantaranya berhubungan dengan komunikasi. Singkatnya, kalau mau dapat pekerjaan bagus harus jago berkomunikasi.

Bank Dunia menulis laporan sejenis, bertajuk Indonesia Skill Report; Trends in Skills Demands, Gaps and Supply in Indonesia (2010). Dalam laporan itu, behavior skill dijadikan kompetensi penting yang harus dimiliki setiap tenaga kerja. Salah satu komponen behavior skill adalah communication skills. Perusahaan butuh calon pekerja yang tidak gagap berkomunikasi, baik verbal, visual maupun tulisan.

Baiklah. Jika begitu pentingnya communication skills, lantas siapa yang akan melatih keterampilan tersebut kepada anak-anak muda kita? tentu saja kita berpikiran, seharusnya itu tugas institusi pendidikan.

Tapi Bank Dunia bilang institusi pendidikan kita sering gagal menyediakan keterampilan yang dibutuhkan.Dalam feature bertajuk Indonesia: Skills development for national productivity (2011),  Bank Dunia menulis,”Skills, knowledge and experience relevant to the labor market are vital to improve employment outcomes and increase productivity. However, education and training systems in East Asian countries, including Indonesia, often lack quality and relevance, leaving workers ill-prepared to meet demands of the labor market.”

 

Rating behavior skill
Raoul Oberman peneliti dari McKinsey Global Institute (MGI) bilang yang hal sama. MGI melaporkan 56 persen tamatan-tamatan muda sekolah di Indonesia tidak mempunyai persiapan yang cukup untuk memasuki dunia kerja. Data itu disampaikan dalam laporan riset berjudul The Archipelago Economic; Unleashing Indonesia’s potential (2012).

           

Keterampilan bukan pelajaran hafalan. Keterampilan tidak bisa didapatkan dengan membaca buku teori. Keterampilan harus dipelajari, dilatih dan dipraktikan terus menerus. Kadang butuh kesalahan, tekanan dan frutasi agar keterampilan bisa terbentuk. Butuh pengorbanan agar keterampilan bisa mendatangkan manfaat dimasa depan.

Ringkasnya saya mau bilang, anak muda sekarang kalau mau berhasil di masa depan harus lebih bergiat. Tak cukup menyandarkan harapan kepada pendidikan formal. Mereka harus lebih agresif meningkatkan keterampilan. Salah satunya bisa lewat kegiatan sederhana ini, yaitu: latihan menulis.

No comments: