Monday, September 28, 2015

Pie Cza

Pie Cza

Pie ini enak! Anda harus coba.

SAYA beri nama pie ini “Cza”. Ketemunya tidak sengaja. Muncul begitu saja di wall facebook jurnalis favorit saya. Caessaria Indra Diputri.

Mbak Cza (baca Sa), begitu Ia saya panggil. Kenal tahun 2013. Saya communication  specialist yang butuh diberitakan. Sedangkan Mbak Cza jurnalis yang butuh berita. Jadi kami bertemu karena pekerjaan.

Soal menulis berita, Mbak Cza jagonya. Skill menulisnya diatas rata-rata. Hebat betul meramu informasi menjadi berita yang bisa enak dan cepat dibaca.

Mbak Cza juga menulis di blog. Di situ Ia banyak cerita soal dirinya, keluarga dan pekerjaan. Gaya menulisnya bertutur dan memikat. Dia pandai memilih kata dan kalimat untuk memainkah emosi. Pembaca bisa dibuat senyum-senyum, terkekeh-kekeh, mengelus dada dan juga merasa berbunga-bunga. Sampai saya mikir, ini cewek dapat ilmu menulis dari mana ya.

Kalau suntuk karena banyak mikir, saya suka mampir ke blognya Mbak Cza. Saya langsung sumbringah kalau ada tulisan baru. Ibarat ketemu air di padang gurun. Sojuk!

Di blog itu mbak Cza posting foto-foto orang terkenal. Ada Putra Nababan Pemred Metro TV, Pak Trevor Olson yang bertugas sebagai Deputy Konsul AS di Medan, Nawja Sihab host Mata Nawja, foto anak sulungnya SBY dan juga ada foto boss saya. Tapi dia tidak posting foto saya…hiks..

Posting Pie Cza di wall facebook
Selain menulis, rupanya Mbak Cza jago pula buat kue. Orang hebat memang begitu, multi skill. Minggu lalu, saya lihat Mbak Cza memposting  foto pie susu. Naluri saya lansung bergerak.

“Wuih..mau donk mbak?” (8:30 PM)

Cuma beberapa menit si mbak langsung balas. “Bsk dikasi testernya yakk.. dianter k kantor? Atau smbil ngopi sore sm mbak  Dian Maharani.” (8:48 PM)

Dian Maharani itu kolega saya. Ia bertugas sebagai Public Affairs Officer di salah satu Konsulat di Medan.

Jumat kemudian, Pie Cza tiba di kantor. Diantar langsung sama pembuatnya. Saya ajak Apriliyana Sinaga ikut mencicip. Apriliyana itu anak Ilmu Komunikasi USU. Ia lagi magang di kantor saya.

Mbak Cza bawa enam biji tester. Tidak sampai sepuluh menit, langsung ludes. Saya makan dua, April dua, Rizky dan Ibu Amanda, kedua staff kantor makan satu.

“Enak!”

Pie Cza rasa manisnya pas. Susunya terasa. Rasa manis itu sensitif lho. Kebanyakan bisa buat bosan. Kalau kurang malah jadi hambar. Butuh takaran yang pas biar lidah terus mengoyang. Hanya juru masak hebat yang bisa pas menakar.

Manisnya isi pie, disempurnakan kulit pie yang bertekstur. Kulit Pie Cza ini seperti mangkuk yang renyah kalau digigit. Saya tidak tahu persis dibuat dari bahan apa, tapi rasanya enak saja dimulut. Cita rasa susu yang lezat, lembut dan manis bersatu dengan remah kulit pie. Yummy…

Si April bilang Pie Susu itu oleh-oleh khas Bali. Pelacong biasanya menghadiahkan Pie susu sebagai tanda bukti pernah ke Pulau Dewata. Pantesan waktu si Babe ke Bali, dia juga bawa Pie Susu.

Pesanan Pie Cza untuk rapat di kantor
Sangkin enaknya, saya langsung pesan Pie Cza buat rapat minggu depan. Saya pesan 40 biji. Saya mau kawan-kawan lain menikmati Pie Cza. Makanan enak harus dishare. Itu prinsip saya.

Banyak orang mengidentikkan Pie dengan Amerika Serikat (AS). Tapi catatan sejarah bilang Mesir sebagai pencipta Pie. Tepatnya pada 9500 Sebelum Masehi.

Awalnya pie bukanlah panganan. Fungsinya sebagai pembungkus madu. Biasanya diberikan kepada raja Mesir sebagai hadiah. Barulah pada abad 1, kerajaan Romawi mengubahnya menjadi makanan terkenal. Namanya Plasenta.

Pie ini jelas kue legendaris. Melintasi waktu, generasi dan daerah. Banyak variannya sekarang. Salah satunya Pie Cza. Rugi kalau tidak coba (*)

1 comment:

Unknown said...

Ntar kita foto bareng yaakk 😆