Monday, January 15, 2007

Remaja Muslim British Ternyata Lebih Toleran

Medan, 14 Januari 2007

“ My name Erix Hutasoit, from Indonesia and i am Christian”. Begitulah saya memperkenalkan diri dihari pertama bekerja untuk Muath Welfare Trust [ MWT ]. Lembaga ini merupakan pusat pendidikan Islam terbesar di Birmingham, United Kingdom [ UK ]. Mulai Oktober sampai Desember 2006 saya bekerja untuk MWT. Fokus pekerjaan saya adalah melakukan penelitian tentang kebutuhan pusat pendidikan religius bagi warga kota Birmingham.

Pernah sekali di MWT saya kebagian The Muslim News [ TMN ] nomor 210 secara gratis. TMN yang bermarkas di Harrow, Middlesex HA2 6LL, UK, merupakan koran berbasis Islam yang diterbitkan Muslim Councillors in the UK. Dalam edisi Jumat, 27 Oktober 2006 dihalaman tiga saya menemui artikel menarik tulisannya Safa Suling Tan. Artikel enam kolom itu berjudul “ Muslim Youth a lot more racially tolerant than Whites ”.

Nah, yang membuat tulisan Safa ini menarik, karena dituliskan berdasarkan hasil Interim Report of Burnley Project yang digelar Lancaster University`s Departement of Religious Studies. Penelitian yang bernama Burnley Project [BP] bertujuan menyusun dialog antar agama [ Interfaith Dialogue ] yang lebih panjang dan mengupayakan aktivitas bersama untuk menyatukan komunitas yang terpisah di Burnleyborouh. Burnley Project juga ditujukan untuk mendapatkan program terbaik yang dapat diimplementasikan sampai ketingkatan sekolah. Upaya ini ditujukan untuk membawa penyatuan dan rasa toleran terhadap perbedaan RAS.

Penelitian ini digelar dua tahun, mulai Agustus 2005 sampai Juli 2007. Metodelogi yang digunakan dalam penelitian adalah membandingkan murid yang berlatar belakang Muslim keturunan asia [ Muslim Student of Asia Heritage ] dengan murid Kristen yang berkulit putih [ White Christian ] dan murid yang bukan keturunan British [ Non Britsih Counterpart ]. Perbandingan bertujuan melihat sejauh mana remaja di Inggris dapat menerima perbedaan [ receptive to diversity ] dan lebih mau merangkul perbedaan tanpa merasa bahwa identitas mereka terancam atau berada dibawah.

Wawancara dilakukan kepada pelajar dari ketiga sekolah. Proses tanya jawab digelar pertengahan musim panas tahun lalu [ 2006 ]. Wawancara dilakukan terhadap 435 pelajar, yang mayoritas berusia 15 tahun. Terpilih tiga sekolah menengah atas [ high school ] sebagai lokasi penelitian. Dua terletak di Blackbrun dan satu di Burnley. Adapun alasan pemilihan sekolah tersebut, karena sekolah itu menerima pelajar berdasarkan persentase agama dan budaya yang berbeda.

Sekolah pertama [ sekolah A ] berlokasi di Burnley, merupakan sekolah eksklusif bagi anak kulit putih [ white pupils ] yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Umumnya mereka tinggal diwilayah yang terkenal dengan tingkat kejahatan tinggi dan anti untuk bersosialisasi [ anti – social berhaviour ]. Dari sana didapatkan fakta bahwa remaja diwilayah itu memiliki potensi menjadi rasis dan tertutup pada perbedaan budaya.

Sekolah kedua [ sekolah B ] berlokasi di Blackbrun dengan latar belakang siswa dari sosial ekonomi yang sama. Tidak seperti sekolah A, disekolah B hampir 96 persen pelajar berasal dari keturunan Asia, seperti India dan Pakistan, dan mayoritas beragama Islam.

Sekolah ketiga [ sekolah C ] juga berlokasi di Blackbrun, alas an pemilihan sekolah ini karena pelajarnya lebih beragam. Dimana 73 persen adalah keturunan kulit putih [ White British ] dan 27 persen keturuan asia [ Asian Heritage ]. Disekolah ini, semua pelajar disatukan dan belajar dalam ruang yang sama.

Dari perbandingan yang dilakukan Burnley Project ditemukan : 97 persen pelajar sekolah B percaya kepada Tuhan sedangkan disekolah A hanya 19 persen yang percaya kepada Tuhan ; disekolah B lebih dari 81 persen siswa pergi ke masjid minimal sekali seminggu, sedangkan pelajar sekolah A hanya 8 persen yang pergi ke gereja setiap minggunya ; lebih dari 25 persen pelajar sekolah B mengakui peran penting masjid dalam kehidupan mereka, sedangkan di sekolah A tidak satupun pelajar yang menyatakan gereja mempunyai peranan bagi kehidupan mereka ; 91 persen pelajar disekolah B mengatakan ketertarikan mereka untuk mempelajari agama, sedangkan disekolah A ditemukan 68 persen menganggap agama membosankan ; 59 persen pelajar sekolah A mengatakan agama itu tidak penting, sedangkan disekolah B hanya 10 persen yang mengatakan hal serupa.

Hal yang paling mengejutkan menurut Safa dari penelitian itu adalah fakta – fakta yang berhubungan dengan tujuan Burnley Project. Yaitu : 86 persen pelajar disekolah B bersedia mendengarkan pendapat dari agama yang berbeda, sedangkan disekolah A hanya 50 persen yang mengatakan hal serupa ; Hampir 30 persen pelajar disekolah A percaya bahwa satu RAS lebih superior dari RAS yang lain, disekolah B ditemukan hanya 11.3 persen yang setuju dengan hal itu, sedangkan disekolah C sebesar 18.5 persen ; kemudian 76 persen pelajar disekolah B merasa nyaman bekerjasama dengan pelajar dari agama berbeda untuk menciptakan komunitas yang lebih baik, sedangkan disekolah A hanya 29 persen.

Lebih lanjut di sekolah A ditemukan fakta, hampir 50 persen pelajar mengatakan tidak penting untuk menghormati agama yang berbeda ; hampir 33 persen menyatakan tidak penting untuk berteman dengan kelompok yang berbeda agama dan budaya ; 66 persen percaya kepada kebebasan untuk (tidak) memilih agama ; dan 25 persen menyatakan tidak penting untuk menunjukkan rasa toleransi terhadap kelompok yang berbeda pandangan.

Sedangkan disekolah C didapatkan fakta, 34 persen pelajar mendukung kerjasama antar agama. Dengan analisa yang lebih dalam, didapatkan hanya 3 persen pelajar muslim yang tidak setuju dengan dialog antar agama [Interfaith Dialouge]. Sedangkan untuk pelajar Kristen terdapat 26 persen yang tidak setuju dengan dialog antar agama.

Apa yang ditulis Safa Suling Tan berdasarkan laporan Burnley Projecy, merupakan realita terkini di Inggris. Dari pengamatan saya selama tinggal di Inggris, ada beberapa faktor yang menyebabkan kelompok mayoritas UK “ enggan “ untuk terintegrasi dengan kelompok – kelompok minoritas, yaitu :

Pertama, sejarah masa lalu dimana British pernah menjajah hampir separuh muka bumi melalui British Empire, itu masih meninggalkan kesan sebagai bangsa yang superior bagi warga asli UK.

Kedua, lunturnya nilai – nilai agama, terutama Kekristenan di UK digantikan sekulerisme, secara otomatis mempromosikan invidualisme dan eksklusifisme. Pola hidup individualis dan ekslusif yang kemudian disandarkan pada kebebasan [ liberalisasi ] ini lah yang menyebabkan proses integrasi tidak terjadi. Hilangnya proses integrasi ini lalu berlahan – lahan menghilangkan rasa toleransi.

Ketiga, Pola hidup tinggal mengelompok berdasarkan perbedaan suku, agama dan RAS adalah kenyataan yang terjadi di UK. Kondisi ini jelas mendorong terjadinya pemisahan komunitas dan komunikasi. Pemisahan inilah yang lalu menciptakan perasan curiga. Apalagi pemisahan komunitas ini tidak lepas dari sejarah masa lalu, dimana kelompok – kelompok ini merasa “ terancam ” sehingga memilih untuk tinggal bersama disatu wilayah [ berlompok].

Keempat, British Culture yang dimaknai sebagai diversity [ beragam budaya ] telah menimbulkan kekaburan identitas. Sehingga tidak jelas, pola budaya apa yang berkembang di UK. Disisi lain imigran yang datang ke UK [ contoh : imigran asal Pakistan ] tetap mempertahankan budaya dari negara asal mereka. Inilah yang membuat gesekan antar budaya kerap terjadi di UK.

Safa Sulling Tan melalui Burnley Project telah memberikan informasi kepada kita kalo remaja muslim Britsih ternyata lebih toleran. Ini membuktikan bahwa minoritas UK lebih “ terbuka” untuk berdialog. Tantangan malah datang dari kelompok mayoritas yang “ enggan ” bertoleran. Nah, bagaimana dengan kita ? apakah mayoritas di Indonesia juga “ enggan ” bertoleransi. Mari kita jawab bersama [***]

No comments: