lanjutan...
Kembali DIA berbicara kepada ku, katanya. “ Bagaimana mungkin kemeriahaan itu ditujukan untuk KU ? Mana mungkin kalian menyambut KU, sedangkan kalian tidak PERCAYA kepada KU “
Pertanyaan laki – laki ini benar – benar membuat ku terpojok. Aku harus mengakui kalo kartu – kartu Natal itu bukan dituliskan untuk DIA. Begitu pula hadiah – hadiah Natal itu diberikan bukan ditujukan untuk DIA. Semua itu tak lebih untuk kegembiraan dan kesan terlihat baik...
Apa yang kami sebut perayaan Natal itu tidak lebih dari senang – senang. Bahasa kerennya “ Party”. Bahkan ada yang datang ke acaran “ Natal” itu dengan konstum yang lucu, lebih tepatnya aneh. Yang aku ingat, kostum yang mereka gunakan kerap dikenakan pegiat Klub Malam. Ya, benar, aku lihat remaja – remaja UK berkostum seperti itu kala ngantri memasuki klub malam. Mereka menggunakan bando berantena dan slayer. Aku lihat itu di Birmingham..
“ Kalian hanya memanfaatkan kelahiran Ku untuk kesenangan kalian. AKU hanya dibuat sebagai legitimasi atas apa yang kalian inginkan. bukan begitu Erix Hutasoit “ Kata NYA lagi, membuat ku semakin tak berdaya menjawab apapun..
DIA melanjutkan lagi, “ Negara – negara Industri itu menggunakan momentum kelahiran KU untuk meraup keuntungan. Lihatlah pusat perbelanjaan seperti di Bullring Birmingham, penuh dengan diskon. Tidak tanggung – tanggung sampai 80 persen.Apakah diskon itu untuk KU ? ”
Aku diam sambil tertunduk. Dalam hati aku membenarkan apa yang DIA ucapkan. Sekarang di UK termasuk di Eropa sedang diskon besar – besar. Semuanya itu digelar dengan nama “ Chrismast Discount”.
“ Erix...” Dia menyebut nama ku, lalu aku aku menatap kearah NYA. Kemudian DIA berucap lagi “ Bagaimana mungkin kamu meniru budaya yang sudah menjauh dari KU. Bagaimana bisa kamu meniru budaya yang tidak lagi PERCAYA kepada KU”
“ Ironis memang, disatu sisi banyak diantara mereka tidak lagi mau mengaku sebagai pengikut KU. Mereka tidak mau lagi bersekutu, bersaksi dan melayani bersama – sama. Mereka lebih suka mengaku sebagai atheis. Kala hari minggu tiba, mereka lebih memilih berplesir, mencari kesenangan dari pada memuji KU. Tapi, kala Natal tiba, mereka berbondong – bondong menyerbu pertokoan, mendirikan pohon Natal lalu menghiasnya seindah dan semahal mungkin. Mereka tetap merayakan Natal. Tapi bukan Natal yang dahulu, Natal yang merayakan kelahiran KU. Kini Natal yang dirayakan adalah Natal kebebasan untuk membeli apapun. Natal tidak lebih dari hadiah. AKU mereka lupakan.Dan itulah yang kemudian dengan bangga kamu tiru,” Ungkap NYa dengan ekspresi wajah yang sedih.
Sungguh, untaian kalimat NYA yang ini begitu menusuk hati ku. Aku tak sanggup menatap kearah NYA, aku tertunduk malu....
DIA menepuk pundak ku lagi lagi, lalu berujar, “ Natal di sana, dinegeri yang kamu maksud. Selamanya akan penuh kemeriahan, selamanya akan penuh dengan hadiah. Kondisi itu memang sengaja mereka budidayakan”
“ Kamu tahu apa itu kapitalisme bukan. Ya, apa yang kamu lihat itulah Natal yang dipromosikan kapitalis. Mereka mengenjot buruh – buruh di negara mu untuk banting tulang mengejar target produksi Natal. Lalu si kapitalis itu mengangkut hasil kerja buruh – buruh yang juga saudara – saudara mu, lalu menjualnya keberbagai negara, termasuk kenegaranya. Si kapitalis dengan bangga memproklamirkan Welfare State bersama politisinya. Seakan mereka telah bekerja keras mensejahterakan bangsa nya. Tapi ditempat lain, mereka menyiksa bangsa – bangsa lain. Bangsa- bangsa yang telah membuat mereka bisa bertahan hidup dan bisa merasa angkuh seperti sekarang ini”
Mendengar itu aku tertegun, DIA tahu apa yang terjadi dimuka bumi ini. DIA tahu persis...
Kembali lagi DIA mengkuliahi ku, “ Tanpa kemeriahan, tanpa hura – hura mana mungkin si kapitalis itu bisa meraup keuntungan. Makanya si kapitalis akan terus berusaha mempromosikan Natal yang meriah, bahkan setiap tahunnya lebih meriah lagi. Tidak heran jika Natal pun mereka budidayakan. Semakin banyak orang yang merayakan Natal, semakin banyak pula keuntungan yang mereka raup. Bukankah begitu teori ekonominya, Erix ?”
Ya, benar, semakin banyak konsumen maka permintaan pun akan terus meningkat. Itu artinya keuntungan akan berlipat..
Kemudian DIA mulai mengingatkan ku, katanya,“ Jika Natal yang kamu maksud itu mengenang kelahiran KU. Seharusnya kamu ingat bagaimana aku dilahirkan. Tidak ada tempat empuk waktu itu, hanya tumpukan jerami. Tidak ada pengharum ruangan, yang ada hanyalah aroma kotoran domba. Tidak ada pemanas ruangan, udara begitu dinginnya kala AKU dilahirkan. Tidak ada kemewahan apalagi kemeriahan ketika AKU lahir kedunia ini. Hanya kesederhaan..”
“ Aku tidak membutuhkan kemeriahan. Aku tidak butuh kemehawan dari mu, Erix Hutasoit. Aku hanya butuh ketulusan mu. Jika kamu ingin memberikan hadiah kepada KU. Berikanlah tubuh mu yang hidup sebagai persembahan ..” begitu kata NYA kepada ku..
Lama aku tertunduk setelah mendengar kalimat itu. Aku terdiam tak mampu berkata – kata apa pun. Retorika ku yang katanya hebat, kali ini hilang entah kemana. Aku tak mampu beragumentasi dengan DIA.
Tanpa sadar aku sudah terdiam berhari – hari. Bahkan ketika aku terbangun aku bukan lagi menuju Malino, Sulawesi Selatan. Tapi aku sudah sudah di Medan, di depan komputer tua ku yang setia. Pada saat itu lah aku sadar, “ Semua sudah berakhir rupanya”.
“ Terima kasih TUHAN, terima kasih buat hikmad dan keberanian yang KAU berikan ini. Tanpa itu, tak mungkin aku berada di Medan sekarang. Jangan pernah tinggalkan aku TUHAN ” Ucap ku dengan hati yang terdalam [ ***].
No comments:
Post a Comment