Sunday, January 21, 2007

Membudidayakan Natal (1)


Diskusi imajiner dengan Yesus Kristus

Medan, 21 Januari 2007

Desember 2006 lalu, dalam perjalanan dari Makassar kembali ke Malino, aku bertemu dengan seorang laki – laki berwajah lembut dengan tampang sederhana. Begitu melihat wajahnya, aku langsung bisa mengenali NYA.

“ Anda Yesus bukan ? “ tanya ku kepada laki –laki itu untuk menyakinkan.

“ Benar anak muda, aku lah Yesus yang kamu maksud itu “ jawab NYA tenang dan lembut.

“ Wah, kami baru saya merayakan kelahiran MU loh” seru ku sumbringah..

DIA menatap ku dingin seraya berkata, “ Benarkah ? “

Aku langsung jawabnya dengan wajah penuh yakin, “ Benar, kami rayakan kelahiran Mu dengan penuh kemeriahan. Dimana – mana kami tuliskan Merry Christmas. Tidak lupa pula kami hadirkan Santa Klaus. Walau Santa Klausnya bohongan, tapi tujuannya baik kok, biar lebih meriah.”

“ Tentunya kemeriahaan itu dilengkapi dengan makanan dan minuman pula ? “ tanya NYA pelan sambil tersenyum.

“ Oh, tentulah. Khusus kami hidangkan makanan yang paling lezat. Bahkan untuk minuman sengaja di hidangkan minuman beralkohol. Biarpun mahal, yang penting meriah.” Jawab ku sambil tersenyum bangga.

“ Hmmm..begitu yah “ Balas NYA dengan intonasi suara yang datar.

“ Satu lagi, kami tidak lupa saling bertukar hadiah kok. Kalo di bule – bule sono, Natalan kan harus ada hadiahnya. You must give present when Chrismast kata kawan ku begitu. Makanya kami ikut – ikutan ngasih hadiah Natal disini. Keren kan hehehe..” Terangku dengan bangganya...

Mendengar semua yang barusan ku katakan, laki – laki itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi antusias apalagi gembira. Tatapannya begitu dingin, membuat ku belakangan jadi serba salah. “ Apa yang salah ya, kok ditatap seperti ini” keluh ku dalam hati...

“ Jadi semua kemeriahan yang kamu ceritakan tadi, ditujukan untuk KU ? Begitu ? “ tanya laki – laki itu kepada ku tiba – tiba.

“ Benar, semua untuk MU ” jawab ku dengan nada sedikit bingung.

“ Apakah kamu mengundang KU untuk datang ? “ tanya nya kepada ku dengan suara yang sangat lembut..

Aku terperanjat, karena seingat ku tak satupun kami yang menyebut nama NYA kala itu. Yang kami lakukan hanya lah bergembira, bermain – main dan bernyanyi. Dan menyatap makanan yang ada..

“ Apaka semua yang kalian lakukan itu benar – benar untuk KU” tanya laki – laki itu lagi memecah kebingungan ku...

Aku mulai terpojok. Aku tidak punya retorika hebat untuk melawan laki – laki ini. Aku tidak bisa berbohong karena Dia Maha Tahu. ..

Dia menepuk pundak ku sambil menatap seraya bertanya, “ Anak muda, buat siapa hadiah – hadiah itu ? buat siapa poster – poster bertuliskan Merry X – Mast itu ? Siapa yang sedang kalian sambut ? “

Sambil menarik badan kebelakang, pertayaan itu ku jawab setengah gugup, “ Semua nya untuk Mu kok. Kartu – kartu itu, hadiah – hadiah itu untuk Mu. “ Lalu kusambung lagi, “ Kami meniru budaya yang lebih tinggi kok, kami mengikuti tradisi Natal di Inggris. Disana semua orang merayakan Natal, malah yang bukan Kristen juga merayakan Natal, sudah jadi budaya.”

“ Apakah mereka merayakannya untuk KU ? atau kah mereka merayakannya hanya untuk kesenangan ? “ Dia bertanya lagi..

Kali ini aku benar – benar kalut. Karena ada yang peristiwa tak lazim waktu itu, seorang diantara kami yang beragama Islam memberikan kartu Natal untuk yang Islam pula. Bahkan seorang dari sahabat asing dari UK yang non Kristen mendapat hadiah dan kartu Natal. Malah dia [ sahabat asing dari UK itu ] menanyakan kepada ku, “ Erix, what your parents give for your Chrismast present ? “ aku jawab, “ My parents never give me present, we just go to church when Chrismast night and worship togehter. My parents teach me to give thanks for GOD for one years blessing.” Lalu dia bertanya lagi, “ Why your parents not give you present ? “ kembali ku jawab, “ Because give present not my culture”.

No comments: