Wednesday, October 25, 2006

Global Call to Action Agains Poverty (GCAP) di United Kingdom

Tulisan ini diedit sobatku, Esti Asmalia (Echa)*

“ like slavery and apartheid, poverty is not natural. It is man-made and it can be overcome and eradicated by the actions of human beings” Nelson Mandela

Poverty battle by drum, begitu Birmingham Mail, koran lokal terkenal di Inggris, menjuluki aksi ratusan orang di Victotia Square lalu. Dalam kolom central news, terbitan senin (16/10), halaman 15, terpampang foto delapanbelas pemuda berkaos hitam, bertuliskan GX, lengkap dengan poster anti hutang. Sekumpulan pemuda itu adalah peserta Global Exchange (GX), sebuah program yang disponsori British Council dan Voluntary Services Overseas (VSO).

Sabtu (14/10), wajah Victoria Square, tempat favorit berplesir di Birmingham, tampak lain dari biasanya. Ratusan orang, beragam usia, warna kulit, berkumpul dengan berbagai atribut dan poster-poster anti kemiskinan. Sebuah panggung lengkap dengan pengeras suara, berdiri tegak. Diatasnya, sekolompok mahasiswa Birmingham University (BU) menabuh berbagai alat musik instrumental. Bunyi-bunyian yang mereka hasilkan, menjadi genderang perang pertanda Global Call to Actions Against Poverty (GCAP) dimulai.

GCAP sendiri digelar rutin setiap tahunnya. Di Birmingham, GCAP tahun ini diprakarsai organasisasi non pemerintah (Non Government Organisations – NGO ) seperti Oxfam, Christian Aid, Islamic Relief, Jubillee Debt Campaign, Student Christian Movement, Tearfund. Aksi ini ditujukan sebagai solidaritas terhadap negara miskin. Sekaligus, menekan negara-negara kaya untuk menghapus hutang negara dunia ketiga.

GCAP diisi dengan berbagai kegiatan seperti pembagian bookmark (pembatas buku), orasi dan aksi Stand Up Against Poverty [ STUP]. GX sendiri membagikan 200 bookmark yang dirancang menarik dan mudah dibaca. Dua logo menghiasi lembar pertamanya, yaitu logo Millenium Campaign Voices Against Povery, dan Logo GX. Dilembaran baliknya tertulis berbagai fakta-fakta tentang kemiskinan. Kuning, hijau, merah, biru dan coklat menjadi warna dasar yang melengkapi tampilannya. Selain itu, GX juga memampangkan poster anti kemiskinan. Salah satu isinya adalah " Stop Debt Trap ".

Sedangkan orasi diawali Muhammad Imran, Islamic Relief. Selama lima menit, Imran mendesak G-8 merealisasikan penghapusan hutang, sebagaimana yang dijanjikan dalam pertemuan terakhir G-8. Kemudian orasi dilanjutkan Jan Ramos Pandia. Perwakilan GX, dalam sepuluh menit orasinya, menuntut pemerintah Inggris menghapuskan hutang Indonesia. “ It is Indonesia’s huge debt that results in its people paying almost 26% their 2006 National budget income and allocation just to settle the interest. The country is trapped and strangled by serious foreign debt, amounting to a total of US$ 132 billion “ ungkap Ramos. Khusus Inggris, Ramos melontarkan berapa fakta-fakta, “Indonesia currently owes US $1.76 billion to the United Kingdom which is significant in it’s constant battle against poverty. In 2003 Indonesia owed the UK US$355.4 million for Bilateral Official Development Assistance, in 2004 US $1,408 million for Export Credit Guarantee. The most shocking figure, however, is US $1,035 million which is related to arms related loans. Britain likes to believe it is making positive steps to reducing world poverty, yet by maintaining this unjustifiable debt relationship with Indonesia, which includes inflated prices for arms, Britain is actually contributing to the increase of the debt.” Lebih lanjut Ramos mengklaim hutang-hutang itu sebagai jebakan.“Britain is therefor obliged to cancel this debt…..but it hasn’t. When your campaigning against poverty, I urge you all to fight for the cancellation of indonesia’s debt. By fighting for this cause, along with the cancellation of worldwide ‘odious’ debt, we can stand up together against poverty “ tegas Ramos sesaat sebelum menutup orasinya.

Michael Taylor, Professor dari BU, kemudian memandu STUP. STUP merupakan aksi berjongkok kemudian berdiri, dan dilakukan beberapakali. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas sekaligus pernyataan “bediri” memerangi kemiskinan. Taylor menghadap Council House, Victoria Square, sambil membacakan The pledge. Peserta GCAP mengikutinya dengan berjongkok lalu bediri atau melompat, sambil meneriakkan “ Stand Up Against Poverty”. Aksi itu berlangsung selama kurang lebih limabeles menit, dan dilakukan sebanyak lima kali.

GCAP berakhir sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Namun peserta menegaskan aksi serupa masih terus digelar. Seperti pernyataan Ruth Stockdale, Oxfam, kepada Birmingham Mail, “ We want politicians local and world leaders to know we are watching and demanding they act. The world never has been richer and yet one billion people have no access to clean water, 100 million children don’t go to school and every minute a woman dies in childbirth”. Pernyataan Ruth menegaskan, selama kemiskinan masih ada, maka aksi-aksi seperti GCAP tidak akan berhenti. Semoga.

*) Echa menyelesaikan studi s-1 dibidang kehutanan pada fakultas kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta

No comments: