
Setiap pagi tiba, baju hangat dan jaket tebal menjadi sahabat setia. Musim semi di Inggris memaksa ku berkostum tebal seperti astronot. Dingin tak henti-hentinya menampar tubuh kecil ku ini. Tidak cuma sekali aku dibuatnya jatuh sakit. “ Aku membenci mu udara dingin ” keluh ku. Syukurnya, ada tempat berlindung. Tempat yang hangat di 159 Wheelers Lane, Kings Heath, Birmingham, United Kingdom (UK).
Hari ini, Sabtu (14/10/2006) sudah hampir sebulan kami di UK. Dihitung dari penyambutan Lord Meyer Birmingham di Victoria Square (Sabtu,22 /09/2006). Genaplah, tiga minggu sudah, peserta Global Exchange (GX) tinggal dirumah keluarga UK.
Aku bersama Matthew Bazire (18), mondok dirumah Balwinder Kaur (44). Warga UK keturunan India. Balwinder berimigrasi dari Pujanbi, India, ke UK tahun 1981. Kemudian menikahi perempuan sekampung halamannya, Dalviner Singh, ditahun yang sama. Ditahun ketiga setelah menikah (1983), mereka dikaruniani seorang putra, Akkie Balwinder Kaur. Sembilan tahun kemudian (1992), keluarga Kaur bertambah lagi dengan kelahiran seorang putri, Amanpreet Kaur. Saat ini, Akkie (23) telah menyelesaikan pendidikannya dibidang olahraga, dan bekerja sebagai konsultan. Sedangkan Aman (13) yang fasih bermain gitar, masih tercatat sebagai pelajar di Swansuht School, Birmingham,UK.
Keluarga Kaur tinggal dirumah dua lantai. Bangunannya mirip model 70an. Melangkah memasuki rumah, disebelah kanan akan terlihat ruang tamu. Seperangkat sofa coklat lengkap dengan meja serta televisi 30 inci menghiasi ruang itu. Melangkah lebih kebelakang, terdapat ruang keluarga. Warna cerah mendominasi ruangan yang diisi tiga sofa putih tanpa meja. Televisi Sony 30 inci dengan fasilitas Sky TV menjadi tontonan mengasikkan diruang keluarga. Lebih 1000 program acara dari berbagai stasiun televisi dipenjuru bumi, siap membunuh waktu siapa saja yang duduk didepannya. Disamping ruang keluarga terdapat dapur sekaligus ruang makan. Ini lokasi favorit keluarga. Karena disinilah, keluarga Kaur bersantai, menyantap makanan atau sekadar menyeduh teh hangat, sambil berbincang- bincang. Bagian itu yang paling mengasikkan dari keluarga Kaur.
Dilantai kedua terdapat tiga ruang tidur, satu ruang kerja dan satu kamar mandi. Kamar ku dan Matt, berada disini, ukurannya 4x3 meter. Didalam kamar terdapat kasur berwarna putih ditutupi selimut setebal 5 cm. Seperangkat meja belajar melengkapi kamar tidur. Disisi lainnya, ratusan judul buku dibariskan rapi dalam rak berukuran 2,5 x 1,5 meter. Karya-karya populer, seperti The diary of Anne Frank ; Robin Hood karya Henry Gilbert; The Essential tulisannya James Joyce ; The Arabian Night karya Ricard Burton ; sampai karya Sebastian Hafener, The Meaning of Hitler atau Oliver Twistnya Charles Dickens, terus mengusik mata. Ingin sekali membaca baris demi baris buku-buku itu. Tapi waktu ku selalu tidak sempat. Lalu didepan kamar terdapat ruang kerja ibu Kaur, luasnya 2 x 1,5 meter. Seperangkat mesin fax, pesawat telephone dan komputer portable 14 inci, mendukung profesi financial officer yang dilakoninya. Disebelah ruang kerja terdapat satu-satunya kamar mandi, berukuran 2x3 meter. Hanya disini, aktifitas membersihkan tubuh, seperti mandi, dapat dilakukan. Setiap pagi, lima orang penghuni rumah ini, harus mandi bergiliran. Urutannya : bapak Kaur, Aman, aku, Matt, ibu Kaur dan Akkie. Tidak jarang, aku dan Matt kesiangan bangun. Karena takut terlambat kerja, kami memilih pergi tanpa harus mandi. Maklum, terlambat kerja bisa mengurangi kepercayaan. Dan kalau sudah kehilangan kepercayaan di UK, maka akan sangat sulit mendapatkannya kembali.
Soal ramah tamah. Keluarga Kaur sangat ramah kepada kami. Kami diperlakukan seperti keluarga. Bahkan, kami menyapa bapak dan ibu kaur, dengan panggilan : papa dan mama.
Keluarga Kaur penganut agama sikh yang taat. Bapak dan ibu kaur melakukan ritual secara ketat. Sama seperti penganut Sikh lainnya, sang bapak juga mengunakan surban dikepalanya. Selain itu, mereka hanya mengkonsumsi sayur mayur. Tapi, mereka tidak melarang kedua anaknya mengkonsumsi daging. Alasannya sederhana, karena udara di UK cukup dingin, bahkan bisa minus 5 derajat celsius kalau turun salju. Dan untuk bertahan dicuaca seperti itu, mengkonsumsi daging menjadi pilihan terbaik. Nah,Model begituan yang membuat keluarga Kaur ini tambah unik.
Soal makan lagi, rumah ini surganya. Makanan trasional India dan makanan ala barat, bergantian menghampiri perut ku dan Matt. Bapak, Ibu dan Akkie, ketiganya juru masak yang handal. Masakan ibu Kaur misalnya, kental cita rasa India. Membuat Japati, makanan utama India yang mirip roti, menjadi keahlian ibu yang migrasi ke UK tahun 1964. Caranya sederhana, tinggal membuat adonan tepung terigu yang dicampur air, lalu dipanggang diatas api, tunggu 1 menit, Japatipun siap dikonsumsi. Tidak hanya Japati, ibu Kaur juga ahli memasak makanan lainya. Seperti hari ini, ibu Kaur memasak Pizza ala India plus kentang goreng, sebagai menu santap malam. Yup, aku sampai dua kali tambah.
Lain lagi kalau masakan ala Akkie. Cita rasa Eropa yang terasa. Banyangkan, daging ikan salmon yang sudah dibumbui dipanggang selama 20 menit. Kemudian disiram saus tomat, lalu dihidangkan dengan sayuran segar. Plus sepiring nasi berlemak. Hmm, terasa sempurna lidah.
Walau sudah 25 tahun menetap di UK, keluarga Kaur masih kental dengan budaya asalnya, Pujanbi. Karakter ketimuran begitu terasa. Kebebasan diisini diartikan sebagai tanggung jawab. Aku dan Matt, tidak dituntut banyak. Kami hanya diminta ikut menjaga kebersihan dan ketentraman. Kami dianggap dan diperlakukan secara dewasa. Suasana seperti ini yang membuatku nyaman. Sayangnya, aku belum menemukan suasana serupa diluar sana. UK masih terlalu kaku dan membosankan.
Benar saja, sangkin nyamannya dirumah, aku tidak ingin kemana-mana. Setiap kali melangkah meninggalkan rumah. Selalu saja kepingin cepat kembali. Apalagi kalau udara dingin sudah mengejar ku, tak ingin rasanya berlama-lama dijalanan kota Birmingham. Semuanya terasa nyaman kalo sudah dirumah. Bisa berpelesir sejenak sambil menyeduh teh hangat, ditemani sepotong gorengan India. Apalagi kalau ada laptop untuk menulis. Wah lengkaplah sudah. ***
No comments:
Post a Comment