Erix Hutasoit, Birmingam - United Kingdom
11.11.2006
Analisis " Surplus Value" Karl Marx
Nilai Lebih Pasar
Teori perdagangan dalam ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan kata "pertukaran". Proses tukar menukar inilah yang kemudian menghasilkan pasar. Secara sederhana proses pertukaran dirumuskan sebagai C - M - C ( Comodity - Money - Comodity ). Rumus ini oleh Marx, disebut sebagai sikuit komoditi. Dimana pemilik kodomiti [ barang ] menjual barangnya kepada pembeli untuk memperoleh uang. Kemudian sipembeli tadi akan memperoleh uang jika dia menjual lagi komoditinya kepada orang lain. Begitu seterusnya komoditi itu berputar dikalangan masyarakat. Kondisi ini oleh Jean Baptiste Say (1767-1832) dirumuskan, " Setiap produksi pasti dikonsumsi".
Namun, model seperti ini tidak berlaku bagi kapitalis. Penggandaan modal yang menjadi watak kapitalis, tidak akan terpenuhi dalam sistem ini. Karl Marx, dalam Theories of Surplus Value (1861-3), menganalisis sistem pertukaran kapitalis itu.
Menurut Marx, dalam masyarakat kapitalis pertukaran yang terjadi mengambil bentuk M-C-M ( Money - Comodity - Money ). Menurut hukum ini, sikapitalis memulainya dengan uang (M) untuk membeli comodity (C) dimana selanjutnya komoditi tersebut dijualnya guna memperoleh uang lagi (M2). Marx menamakan tahap pertama ini ( M-C ) sebagai kapital pendahuluan dan tahap kedua (C-M) sebagai kapital kerja. (Coen Husain Pontoh, Pasar dalam Kapitalisme, 2006)
Tetapi, Marx mengingatkan bahwa keseluruhan proses ini (M-C-M), tidak ada maknanya, jika sikapitalis jika hanya mendapatkan uang sebesar semula. Misalnya, jika semula ia memiliki Rp.1000 (M) yang digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp.900 (C) dan menjual sepatu itu dengan harga dasar Rp.1000 (M2), maka menurut Marx, pertukaran model ini bukanlah cara produksi kapitalis. Bagi Marx, cara produksi kapitalis mengambil bentuk M-C-M+, dimana M+ mewakili jumlah yang lebih besar dari M. Uang senilai Rp.1000 (M) digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp.900 (C) selanjutnya sepatu itu dijual seharga Rp.1.100 (M+). Dari proses ini, sikapitalis mendapatkan tambahan uang senilai Rp. 100,- dimana selanjutnya sirkuit itu terus berputar tanpa henti. M+ inilah yang nantinya disebut Marx sebagai "nilai lebih". (Coen, Ibid)
Nilai Lebih BuruhBuruh
secara sederhana didefenisikan " orang yang tidak memiliki alat produksi dan harus menjual tenaga kerjanya [ bekerja ] untuk mendapatkan upah. Upah inilah yang nantinya digunakannya [ buruh ] untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan defenisi sederhana dari upah adalah jumlah uang yang dibayarkan kepada buruh untuk waktu kerja tertentu.
Dalam sistem kapitalis, yang dibeli dari seorang buruh bukanlah kerjanya melainkan tenaga kerjanya. Setelah dia [ kapitalis ] membeli tenaga kerja buruh, lalu buruh dipekerjakan selama waktu tertentu. Misalkan, bekerja selama 7 jam sehari, 40 jam seminggu atau 26 hari dalam sebulan. Kemudian, ketidakadilan muncul bagi buru, ketika mendapatkan upah yang lebih kecil dari nilai kerjanya. Mari kita lihat..
Dalam produksi industri, pengeluaran (cost) biasanya dihitung dengan rumus TC = FC + VC. Total Cost (TC) merupakan penjumlahan Biaya Tetap [ Fixed Cost - FC ] ditambah Biaya berpariasi [ Variable Cost - VC ]. Upah buruh biasanya dihitung di Fixed Cost (FC). Karena tergolong "tetap", maka kenaikan upah buruh tidak terjadi setiap saat, bisa perdua tahun atau persepuluh tahun. Malah bisa tidak naik sama sekali.
Disisi berbeda, keuntungan [ profit ] perusahaan meningkat setiap tahunnya. Peningkatan-peningkatan keuntungan ini mengakibatkan akumulasi modal. Akumulasi inilah yang menciptakan jurang kemiskinan semakin lebar. Padahal, akumulasi modal sikaya [ pengusaha ] tadi tidak lebih dari perampasan nilai lebih kerja siburuh.
Mari kita buktikan dengan rumus TC = FC + VC. Misalkan disalah satu pabrik sepatu merk terkenal bekerja 100 orang buruh. Seorang buruh dipatok bekerja selama 8 jam perhari. Dengan tingkat upah dirata-ratakan Rp. 20 ribu per hari. Selama 8 jam bekerja, seorang buruh mampu memproduksi 10 potong sepatu. Maka untuk 100 orang buruh akan menghasilkan 1000 potong sepatu perharinya. Total biaya bahan baku untuk satu sepatu Rp.20 ribu, lalu untuk 1000 sepatu berjumlah Rp. 20 juta. Sedangkan biaya lainnya [ misalnya benang, listrik, keausan mesin dan alat kerja lainnya ] berjumlah Rp. 10. juta perharinya. Maka Total Cost (TC) perhari = Upah 100 buruh + Biaya Bahan baku + Biaya produksi lainnya. Atau TC = 100 x Rp. 20.000,- + Rp. 20 juta + Rp. 10 juta = Rp. 32 juta perhari
Nah, untuk satu hari kerja, siburuh tadi menghasikan 1000 potong sepatu. Jika sepotong sepatu mampu dijual sipengusaha dengan harga terendah Rp. 100.000,- . Maka sipengusaha mendapatkan keuntungan kotor Rp. 100 juta. Lalu sipengusaha mendapatkan keuntungan bersih, dengan perhitungan Pendapatan kotor - Total Cost = Pendapatan Bersih. Atau Rp.100 juta - Rp. 32 juta = Rp. 68 juta perhari.
Disisi lain, siburuh yang bekerja selama 8 jam hanya mendapatkan Rp. 20 ribu perharinya. Padahal selama delapan jam itu, seorang buruh telah menghasilkan 10 potong sepatu. Sama artinya menghasilkan Rp. 1 juta. Selisih antara upah yang didapatkan siburuh dengan nilai kerjanya. Rp. 1 juta - Rp. 20 ribu = Rp. 980 ribu Itulah yang disebut Marx, sebagai nilai lebih kerja buruh. Dan itulah yang "dirampas" sipengusaha dari siburuh.
Bayangkaan, jika satu hari kerja [ 100 orang buruh ] menghasilkan 1000 sepatu yang nilainya setara Rp. 100 juta. Maka untuk satu bulan [ 20 hari ] maka siburuh memproduksi Rp. 2 Milyrad. Sedangkan mereka [ 100 buruh tadi ] hanya mendapatkan upah perorang Rp. 400 ribu perbulannya. Sedangkan dipengusaha mendapatkan Rp. 1.360.000.000,- sebagai pendapatan bersihnya. Jelas sekali ketimpangannya.
Tidak hanya nilai kerja siburuh yang dicuri sipengusaha. Waktu kerjanya siburuh juga ikut diambil. Jika selama 8 jam bekerja, seorang buruh diupah Rp. 20 ribu perhari. Sedangkan selama 8 jam itu, siburuh mampu menciptakan nilai kerja Rp. 1 juta. Artinya, setiap satu jam siburuh menghasilkan Rp. 125 ribu. Maka untuk upah Rp. 20 ribu, siburuh hanya perlu bekerja selama 6 menit 25 detik perharinya. Berarti sisa waktu 7 jam 53 menit 35 detik, siburuh bekerja tanpa dibayar. Hmmm...
Bagaimana jika proses itu sudah berlangsung selama 10 tahun. Bisa dibayangkan berapa besarnya kerugian yang dialami siburuh. Luar biasa..hanya itu yang bisa dikatakan.Dari pemaparan diata, jelas sudah kenapa kapitalisme dibenci.
Jadi bukan dengan mengunyah hamburger Mc. Donalds, lantas jadi kapitalis. Tidak sesederhana itu bung mengartikannya. Salam [ ***]
No comments:
Post a Comment