Saturday, November 11, 2006

Sekali lagi tentang Kapitalisme (1)

Birmingham, UK, 10.11.2006
Seminggu, sejak pertama kali, menginjak bumi United Kingdom. Saya terkagum-kagum dengan kekritisan anak muda disini. Dalam beberapa diskusi, mereka kerap mengecam kapitalis sebagai biang utama penderitaan global. Berlahan diskusi dengan kawan asing ini mulai liar tak kejuntrungan. Sejak itu saya jadi ragu, apakah sahabat-sahabat “asing” ini mengenal betul siapa itu kapitalis ?

Catatan teori ekonomi.

Kelahiran kapitalis tidak dipisahkan dari ekonom Inggris kelahiran Skotlandia, Jhon Adam Smith [ 1723-1790]. Dalam bukunya, The Wealth of Nations [1776], Smith mengajukan konsep ekonomi yang dikenal sebagai “invisible hand”. Ide utamanya adalah kompetisi antara berbagai penyedia barang dan pembeli akan menghasilkan kemungkinan terbaik dalam distribusi barang dan jasa, karena itu akan mendorong setiap orang untuk melakukan spesialis dan peningkatan modalnya sehingga menghasilkan nilai lebih dengan tenaga kerja yang tetap.

Pemikiran Smith dipengaruhi hukum permintaan [ demand, dirumuskan “D” ] dan penawaran [ supply, dirumuskan “S”]. Pergerakan naik turun kedua komponen itu kemudian menciptakan harga pasar [ Market Price, dirumuskan P ]. Lebih detil dipahami, jika D meningkat sedangkan S menurun maka P akan meningkat . Sebaliknya , jika D menurun sedangkan S meningkat maka P akan menurun. Kapan naik dan turun ketiga komponen itu diyakini terjadi secara otomatis. Kondisi ini kemudian dikampanyekan Smith sebagai teori tangan setan [ Invisible Hand Theory - IHT].

Namun, keberlangsungan IHT sangat dipengaruhi stabilitas pasokan produksi. Untuk menjamin stabilitas dibutuhkan "kebebasan" menciptakan produksi. Pada titik itulah, Smith menyakini perlunya "pasar bebas". Karena pasar bebas akan menciptakan kompetisi. Sehingga dia [ Smith ] sangat mengharamkan campur tangan pemerintah dalam sistem ini.

Revolusi Industri yang meledak di Inggris abad 18, pada awalnya memperkokoh teori Smith. Produksi barang terjadi lebih cepat dengan kuantitas yang lebih besar. Namun, kondisi ini menyebapkan pengangguran besar-besaran di Inggris. Perampasan wilayah Skotlandia oleh Inggris untuk peternakan domba dimasa itu. Turut menambah arus urbanisasi kekota-kota di Inggris. Pengangguran inilah yang dimanfaatkan pengusaha industri Inggris mendapatkan buruh dengan upah rendah. Lalu mengeksploitasi buruh itu untuk mendapatkan keuntungan. Proses inilah yang kemudian dianalisis Karl Marx, dalam Theories of Surplus Value (1861-3), sebagai perampasan nilai lebih.

Teori Simth mengalami keterpurukan diera 1870an,1880an dan mencapai puncaknya diera 1930an. Produksi barang besar-besaran yang terjadi, menciptakan kelebihan produksi [ over productions ]. Disisi lain, daya beli konsumen menurun derastis seiring fenomen buruh dengan upah kecil. Akhirnya, Invisible Hand Smith tak kuasa menahan penurunan harga ketingkat terendah. Pada saat itulah, "pasar bebas"nya Smith diyakini para ekonom, seperti Jhon Mayrad Keynes (1883-1946), telah out of date [ kadaluarsa ]. Lalu, Keynes melalui General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menawarkan solusi. Dia [ Keynes ] membagi ekonomi menjadi dua bagian. Bagian pertama Macroeconomist, meliputi pengaturan mata uang, pemanfaatan sumber daya, pendistribusian kesejahteraan. Bagian kedua, microeconomist, meliputi tingkat kebutuhan, tingkat penawaran, harga, tingkat produksi. Intinya, Keynes menegaskan perlunya intervesi negara dalam mengatur ekonomi.

Namun, teori keynes tidak lebih pemindahan kontrol produksi kepada negara. Dia [ Keynes ] tidak menyentuh "watak" kapitalis sebagai masalah. Keyness tetap percaya kepemilikan alat produksi secara individual, adalah hal yang nature [ alamiah ]. keyness hanya menekankan kedudukan negara sebagai kontrol produksi. Era ini belakangan menciptakan kediktatoran ekonomi negara. Oleh banyak ekonom dinamakan "State Capitalism."

Fenomena "State Capitalism" ini ditandai dengan simbiosis antara pengusaha dengan pemerintah. Para pengusaha yang dahulunya diluar wilayah politik, kini meringsek masuk kewilayah politik. Tujuannya tak lebih "mengamankan" kepentingan bisnis. Misalnya di Amerika Serikat [ AS ], korporasi-korporasi pertambangan migas AS yang terbesar didominasi oleh satu keluarga besar, yakni keluarga Rockefeller, sementara bank-bank AS yang terbesar, yang menguasai Wall Street, dikuasai oleh satu keluarga lain, yakni keluarga Morgan. Kedua ‘dinasti’ itu bersinerji menguasai kebijakan politik luar negeri AS, tidak peduli dari partai mana presidennya berasal (Gibson 1994; Medvin 1974).

Richard Robinson, dalam bukunya Indonesian Rise of Capital (1986), mengambarkan kelompok borjuasi [ kapitalis ] Indonesia bukanlah kelompok tersendiri, melainkan gabungan antara militer, politisi dan pemerintah. Contoh konkritnya adalah bisnis keluarga cendana. Seperti Mbak Tutut yang dulu menguasai bidang jasa konstruksi jalan tol, Bambang Soeharto dengan binis terigu dan otomotifnya, begitu pula sibungsu, Tommy dengan penyediaan jasa transportasi dan otomotif. Semuanya pernah berjaya dibawah perlidungan "politik" sang bapak, presiden Soerharto kala itu.

Saat ini fenomena serupa masih terjadi dipemerintahan SBY-Kalla. Sejumlah nama yang punya kaitan erat dengan bisnis, bertengger dalam pemerintahan. Sebut saja, Menteri Sosial, Aburizal "ical" Bakrie. Dia [Ical ] adalah orang nomor satu Bakrie Brothers, perusahaan yang merambah bisnis energi, ritel, telekomunikasi sampai kemanca negara. Ada lagi satu nama, Haji Muhammad Jusuf Kalla, wakil presiden, dengan PT. Bukaka Teknik Utamanya. Bisnis keluarga kalla ini "merajai" pembangunan pusat tenaga listrik di Sulawesi.

bersambung..

No comments: