Saturday, November 18, 2006

Berdiskusi dengan seorang Atheis..

Loughbrough, United Kingdom (UK)
18 November 2006
Pkl.12.27 am

Siang ini aku sedang asik-asiknya menikmati alunan musik komposer besar, Johan Sebastian Bach. Tiba-tiba aku teringat diskusi hangat dengan seorang laki-laki di Birmingham kamis [09/11] minggu lalu. Yang unik dari diskusi ini, karena si laki-laki tidak percaya Tuhan itu ada.

Diskusi kami dimulai dari cerita tentang Education Activity Day (EAD) sekelompok pemuda, Rabu [08/11] kemarin. EAD mereka bertema : Niqab [ Jilbab yang hanya terlihat matanya]. Waktu itu terjadi peristiwa yang tidak "terduga" sebelumnya. Peristiwa titu diawali dari role play yang intinya menceritakan diskriminasi terhadap pengguna Niqab. Seorang diantara peserta memerankan Ms. Z -- perempuan ber-Niqab. Si pemeran kebetulan seorang perempuan "British". Ketika sipemeran memulai adegan [ untuk membuat situasi seperti kenyataan, maka si pemeran dikenakan Niqab ] tiba-tiba dia [ si pemeran Ms. Z ] menangis dan tak mampu berkata-kata. Keadaan ini bukanlah seperti skenario. Lalu, si pemeran meminta maaf. " Im sorry i can not do it". Kemudian dia membuka Niqabnya secara terburu-buru, lalu pergi meninggalkan Niqab dan ruangan begitu saja. Peserta lainnya terbengong-bengong melihat peristiwa ini. Ya, tentulah kejadian ini sangat menyakitkan ..

Bisakah kita hidup berdampingan ?

Begitu mendengar cerita, si laki -laki atheis itu berkata." oh, she is not sensitive". Baginya, kejadian itu tidak perlu terjadi jika satu sama lain saling menghormati. " it is just role play". katanya lebih lanjut...

" Is possible discussion people who believe to God with unbelievers. How do you think ??" tanya ku. Lalu dia menjawab " Ya, possible, but we must sure what subject to discuss and that must clever discussion". " If the subject about God exsist or not, our discussion only make conflict". Katanya menyakinkan ku.

" Why you think like that" tanya ku lagi kepadanya. lalu aku ikutkan lagi satu pertanyaan. " Could you explaining, what is clever discussion ? "..

Kemudian laki-laki itu menceritakan tentang program talk show di Radio British Broadcast Company (BBC). Talk show ini mengambil topik yang sama. " Faith". Dua pembicara yang hadir adalah Bishop of Centriburry [ Pemimpin Church of England ] dan mantan jurnalis BBC yang tidak percaya Tuhan itu ada.

Permbicangan hangat itu berkutat tentang " God exist or Not ". Bagi si jurnalis dengan pengalamannya berkeliling dunia mengumpulkan berita. Dia banyak melihat ketidakadilan yang terjadi . " To much suffer.." begitu si laki-laki athies itu menirukan ucapan si jurnalis. Berbekal kenyataan itu, si jurnalis mulai mempertanyaan Tuhan itu ada atau tidak. Dalam upaya pembuktian itu, si jurnalis sampai kesatu kesimpulan. " I not beileve God is exist".

Lalu gilirang sang Bishop yang beragumenatasi. Bishop mulai menjelaskan satu persatu konsep tentang Tuhan. Namun dimata silaki-laki atheis itu, Bishop tadi tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada. " He not able to prove that God is Exist" katanya..

Laki-laki tadi menjelaskan, kalo di UK model diskusi seperti si Bishop dan Atheis tadi biasa terjadi. " Here, you can ask people directly. Eventough he is leader of church like Bishop of Centriburry".

Laki-laki itu meneruskan penjelasan". " But, both of speaker cannot prove anything. The journalism, he not able to prove God is not exsit. Evenmore Bishop, he not able to prove too God is exist. But this clever discussion, they not fighting one each others".

Bagi laki-laki itu, tidaklah penting memperdebatkan Tuhan itu ada atau tidak. Karena dari dulu itu hanya mengakibatkan pertentangan. Logika laki-laki ini sederhana, jika Tuhan itu ada apa untung baginya. Lalu disisi berbeda, jika Tuhan itu tidak ada apa rugi baginya. " Exist or not, there no impact to my life" katanya...

" The problem came if you try push another people to be came same with you. The fundemental push people must believe to they religion. They want all people live in their rule"." In otherside, Atheis push people to not believe God"." What for ? they only built the conflict, thats i say not clever discussion". Laki-laki itu menyakinkan ku...

Intinya : " Sensitive one each others "

" The most important is how you live together in society without conflict ? " tanya nya kepada ku. Lalu aku jawab " Respect each others ? ". " Corret, the key is sensitive with anothers" tegas nya..

Semua orang menginginkan hidup dengan tenang. Tidak ada satupun orang yang bilang." Nyaman hidup dalam ketakutan ; Menyenangkan hidup jika saling membunuh satu sama lain". Semua orang ingin tenang dan bebas melakukan aktivitas tanpa harus takut kehilangan nyawa. Sensitif dengan perbedaan, menjadi sangat penting dalam hidup yang beragam.

Diakhir diskusi, si laki-laki atheis mengingatkan tentang sejarah panjang gereja di Inggris. Ya, kekuasaan gereja pernah begitu dominan disini. Sejarah Inggris mencatat bagaimana Bishop of Leicester menjadi orang penting kedua di Inggris, setelah King Henry VIII. Perintah Bishop waktu itu adalah mutlak, seperti titah sang raja yang berkuasa secara politik. Namun, sejarah Inggris juga mencatat, pemimpin gereja pernah "salah" dalam perjalanannya. Dan itu harus dibayar mahal dengan "ketidakpercayaan" banyak orang lagi kepada agama Kristen.

Catatan sejarah tadi, setidaknya bisa menggantar kita dalam memahami atheisme di Inggris. Namun atheis atau tidak bukan masalah utama. Sama seperti pemikiran si laki-laki atheis " For Debating about God exist or not, is not necesary"." The important is how we live togehter without fears".

" I beileve God, but i believe this my personal relations. Because i believe He exist, so i show to you with my attitude. If i do good thing to you, because my God order me like that." " I just believe to God, to my Jesus Christ, not to church leader or Church Administration. Church leader is human, she or he can make mistake too. Like yours country history." "So if i not like finghting with you, because my God order me to not finghting with any one, we must give loves with the others".Tandas ku menutup diskusi dengan bahasa Inggris ku yang berantakan...

"Hmm...i agree with you. If all people think same, we can live in peace". Katanya mengakhiri diskusi..

Diskusi dengan si laki-laki atheis ini memang sangat dangkal, tidak sampai kewilayah filosopi. Tapi, dari dia aku belajar tentang arti sensitifitas. Selama di Inggris, memang isu ini jadi bagian yang hangat. Karena banyak orang yang tidak mau sensitif dengan yang lain. Lalu memaksa yang lain untuk sama dengan dirinya. Walaupun "perbedaan" itu sangat prinsipil. Dan ketika itu memasuki wilayah "privat" seperti agama. Ketidak sensitifan akan menghasilkan konflik. Bahkan konflik fisik. Kalo sudah begini, menyesal jadi kata yang terlambat. [ *** ]

No comments: