Friday, November 17, 2006

Positive Deviance : Kampungan yang Cerdas

Loughborugh,United Kingdon, 17/11/2006

Seminggu setelah wisuda dibulan Februari lalu, aku mendapat panggilan bekerja dari NGO Internasional, Save The Children (STC). Berbekal hobby rekam merekam, aku dikontrak membuat film dokumenter bertajuk "penyimpangan positif". Lokasi pembuatan film ini bertempat di Belawan. Salah satu pusat kemiskinan dipinggiran kota Medan, Sumatera Utara.


Tamatan SLTP "menggurui" Masgister sains

Positive Deviance (PD), begitu dua kolega ku menjuluki program ini. Kolega pertamaku seorang laki-laki tinggi, berkumis dan berlogat sunda. Namanya, Nanang Suryana, S.Km, Msc, pengasuh mata kuliah PD pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Nanang juga tercatat sebagai kepala seksi pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kolega keduaku seorang perempuan warga negara Amerika Serikat (AS). Namanya, Mirandha, International Project Officer Save The Children (STC) Indonesia. Lulusan Magister of Nutritions dari universitas ternama di negara Uncle Sam. Kedua kolega ku ini, dikenal luas sebagai "ahli" penanganan busung lapar di Indonesia.

Selama sebulan penuh, mereka berdua "belajar" tentang gizi anak dari kumpulan "guru" tanpa titel sarjana. Sekumpulan guru yang dimaksud, tidak lebih dari buruh, pedagang kaki lima dan ibu rumah tangga biasa yang hidup didaerah kumuh, Belawan. Dimata mereka [ Nanang dan Mirandha ], miskin bukan berarti bodoh. Terus terang aku cukup tergelitik dengan cara "belajar" model beginian. Maklum saja, waktu itu aku baru menyelesaikan S-1 dibidang ekonomi. Sedikit banyak, aku masih "sombong" dengan titel sarjana yang kusandang.

Ide belajar mereka sangat sederhana. Yaitu mencari "keganjilan" dalam masyarakat miskin. Sebelumnya ada pameo yang kerap terdengar : "Kesehatan anak tergantung tingkat pendapatan dan pendidikan orang tua". Namun, tak jarang ada anak orang miskin yang lebih sehat dari anak orang kaya. Nah, keganjilan seperti itu lah yang mereka [ Nanang dan Mirandha] cari. " Miskin tak berpendidikan tapi punya anak sehat."

Satu hari, pencarian sang gurupun ber-tuah. Disalah satu rumah papan, diujung gang sempit jalan Metal III, Belawan, sang guru ditemui. Perempuan, berkisar 30 tahunan, yang sedang memberikan putri pertamanya [ berkisar 2 tahunan ] makan. Menu sang putri hari itu biasa saja, sama seperti hari sebelumnya. Hanya nasi ditemani rebusan bayam dan telur dadar [ kadang diganti ikan dan daging sekedarnya ]. Tapi sang putri melahap semua makananya. Tak cukup sepiring nasih dan lauk pauk untuk perut mugilnya. Dua potong singkong goreng pun ludes dilahapnya berlahan-lahan. Akupun terbengong-bengon memperhatian ulah sikecil, putri sibapak buruh paruh waktu itu. Si kecil yang gemuk dengan mata berbinar-binar.

"Anak ini sehat" Simpul Dr.Yufa, staff STC.

Perbincanganpun terjadi. Satu per satu pertanyaan berteteran mencari tahu kebiasaan "ganjil" si ibu ini. Si ibu [ sang guru ] sambil menyuapi makan, menerangkan satu persatu ritual perawatan anaknya. Dimulai dari pagi hari, ketika sikecil terbangun, si ibu langsung memandikannya dengan air hangat. Kemudian mengganti pakaian si kecil. Bagi si ibu, yang hanya tamatan SLTP, kebersihan dan kenyamanan anak adalah mutlak. Lalu si kecil dibaringkan dikasur untuk "relaksasi". Tak ada yang unik dikamar si ibu, kecuali sinar matahari yang masuk. "Anak kecil bagus loh kena sinar matahari" begitu si ibu mengulahi kami.

Pembicaraan lari ke soal makanan, si ibu mulai mengajarkan resep "murah meriah". Dengan pendapatan sebagai buruh paruh waktu, si bapak paling banter ber-upah Rp. 700 ribu per bulan. Dengan modal segitu, jangan harap dikepala si ibu terbayang makanan mewah. Bisa makan daging seminggu sekali saja sudah hebat. Tapi beginilah "ganjil"nya pola hidup keluarga miskin satu ini. Bukan mahalnya makanan yang paling utama, tapi nilai gizinya. " Tak mampu beli daging, tahu pun jadi ; Tak bisa beli susu, air rebusan nasipun bisalah ; tak bisa makan cokelat, singkong goreng pun tak apa." Pelajaran kedua dari sang guru. " Gizi makanan tidak ditentukan dari harganya".

Selesai dari makanan, penjelasan sang guru melompat kelingkungan. Si ibu memberikan nasehatan "kampung" kepada kami. Katanya " Kalo rumah bersih, kan enak tinggalnya". Lebih lanjut si ibu menjelaskan mantra-mantranya. " Orang tua bilang kalo pagi hari rumah harus dibersihkan, jendela dibuka supaya sinar matahari masuk, begitu juga rejeki. Pakaian, piring dan yang kotor semua dibersihkan, supaya tampak rapi. Ya, maklumlah orang susah, semua harus dilakukan sendiri ". Pelajaran ketiga dari sang guru." Menjaga kesehatan itu tergantung dari kebersihan, dan kebersihan dimulai dari kebiasaan".

Hari itu, sang guru mengajari kami kebiasaan "kampung" yang sudah lama terlupakan. Kebiasaan efektif yang menjauhkan si kecil [ anak si ibu ] dari busung lapar. Pendidikan tinggi dan pendapatan besar tak jaminan bagi kesehatan anak. Memang belum pernah terdengar, anak orang kaya kelaparan. Tapi, bukan berita baru, kalo banyak anak orang kaya yang kelebihan berat badan [ over weight ]. Ya, sama saja tidak sehat , bukan !

Makanan kampung Vs Makanan Pabrikan

"Kampungan.." kata itu begitu gampang terucap menghakimi makanan tradisional. sebut saja singkong goreng, getuk ubi atau ombus-ombusnya orang batak. Makanan itu kalah promosi dari cokelat Cadburrynya United Kingdom atau ayam goreng Kentucynya Amerika. Berjibun orang termakan iklan, tak mau disebut "kampungan" lalu menyerbu pusat makanan asing itu.

Bagus dipromosi bukan berarti "jujur" dalam pelaporan komposisi. " Enak dimulut hari ini tapi penyakit menunggu dikemudian hari". Namanya juga produk massal dan harus tahan lama. Tentulah harus menggunakan "pengawet". Pada hal, penelitian termuktahir menyimpulkan " Pengawet makanan jenis apapun, mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan". Namun tetap saja, iklan diproduksi dengan slogan "number one quality product ". Begitulah produk makanan asing, baik fast food maupun pabrikan, mengelabui konsumennya melalui iklan yang gencar

Positive Deviance menyimpulkan. Kebanyakan anak yang kurang baik gizinya, terlebih dari golongan miskin, karena terlalu banyak mengkonsumsi makan pabrikan. Contohnya makan ringan. " Pada hal makanan pabrikan kadar gizinya lebih rendah dari makan kampung seperti singkong goreng, belum lagi zat penyawetnya yang berbahaya". Kata Nanang Suryana.

Kadang jadi orang "kampungan" itu ada gunanya juga, minimal bisa buat hidup sehat. Dari pada bangga dicap "moderen" namun penyakitan. Hari ini kita belajar bahwa tingkat pendidikan dan pendapatan tidak ukuran untuk hidup sehat. Terlebih untuk menjamin kesehatan anak. Semuanya tergantung seberapa "disiplin" seseorang menjaga pola hidupnya. " Kampungankan tidak berarti bodoh..Iya Toh" [ *** ]

No comments: