Tuesday, November 07, 2006

Mari bicara tentang Cinta…


Diskusi imajiner dengan Erich Fromm, penulis The Art of Loving.

Pagi ini [ selasa, 07/11], aku berkenalan dengan seorang laki-laki. Dilantai dua “kereta” besi West Millands bernomor limapuluh, kami bertemu. Dia menyapa ku seraya memperkenalkan dirinya. “ Erich Fromm, lahir di Jerman, 23 Maret 1900 dan menghirup udara terakhir pada 18 Maret 1980 di Switzerland”. Oh ..Erich Fromm rupanya, kini aku tahu siapa dia. Tanpa menunggu lama, kami berdua hanyut dalam permbicaraan seputara cinta.

“ Bung Erich atau bung Fromm, bagaimana saya harus menyapa anda ?” tanya ku sambil membentuk senyum diwajah.

“ Panggil Fromm saja lah, begitu lebih akrab” jawabnya hangat.

“ Baiklah bung Fromm, mari kita mulai diskusi ini.” “ Menurut bung, apa sih itu cinta ?” tanya ku membuka diskusi..

Laki-laki itu diam sejenak lalu menyilangkan kedua tanganya. Sorot matanya diarahkan kelangit-langit bus. " Cinta, itu kata yang populer, bukan begitu bung Erix ? " cetusnya sambil tersenyum kecil..

" Benar bung Fromm" jawab ku datar

" Banyak film yang diproduksi dengan tema cinta. Bahkan lagu-lagu yang paling populer dimasanya, pasti bertemakan cinta. Tapi apakah itu pelajaran sesungguhnya tentang cinta ?"

aku hanya diam, memfokuskan diri menunggu dia [ Fromm ] melanjutkan kalimatnya..

" Ada tiga kesalahan dalam mendefenisikan cinta !! ". " Kesalahan pertama, banyak orang berpikiran yang paling utama dalam cinta itu adalah dicintai ".

" Dicintai lebih penting dari mencintai." Fromm menatap ku tajam..

Lau kujawab." Bukankah keinginan untuk dicintai itu alamiah ?"

" Jika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, tentulah laki-laki itu ingin siperempuan menyukainya juga."

" Bukankah itu namanya dicintai ?". Tanya ku bingung..

" Alamiah ? " Fromm tertawa kecil, lalu dia berkata lagi " Itu tidak alamiah, itu diciptakan"

Aku tambah bingung. " Bagaimana mungkin itu bisa diciptakan ? " tanya ku mengejar tawanya..

Giliran Fromm mengjari ku." Semua orang akan berusaha untuk dicintai".

" Laki-laki mengartikan untuk dicintai maka dia [ laki-laki ] harus mempunyai karir yang baik, mempunyai kekuasaan dan yang pasti punya kehidupan yang mapan secara ekonomi."

" Dikampung mu, Erix, ada istilah ngak kemana perempuan asal punya uang". " Kalo kamu tidak punya uang, tidak punya jabatan maka kamu tidak akan dicintai hehehe..." Fromm tersenyum mengejek ku..

Fromm mengelus-elus bibirnya, lalu melanjutkan omongannya. " Bagaimana dengan perempuan ? ".

" Nah, perempuan juga berusaha untuk dicintai." " Kamu tau caranya, Erix ? " dia [ fromm] menantang nalar ku

aku diam terpaku mendengar baris demi baris kalimat pak tua ini.

" Lihatlah perempuan selalu berusaha tampil menarik, berpakaian yang bagus, merawat tubuhnya agar tetap sexy, berusaha tampil ramah, berusaha kelihatan cerdas. "

" Laki-laki dan perempuan berusaha untuk tampil baik didepan banyak orang, punya banyak cerita, rajin membantu, kelihatan sopan, tidak pelit...".

" Semuanya itu dilakukan agar dia [ laki-laki dan perempuan ] dicintai ." Fromm menutup penjelasannya sambil terbatuk...

Fromm mendekati telinga ku lalu berbisik " Erix, apa yang mereka lakukan itu tidak lebih dari usaha menarik lawan jenis secara sexual, itu bukan cinta".

" Many of the ways to make one self lovable are the same as those used to make oneself succesfull, to win friend and influence people. As a matter of fact, what most people in our culture many being lovable is essentialy a mixture between being popular and having sex appeal". Jelas Fromm sambil mengedipkan mata kepada ku..

" Lalu kesalahan nomor dua.....aduh " kalimat Fromm terpotong ulah sorang perempuan yang menabrak kakinya..

" Are you oke ? " tanya ku kepadanya

" Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit" Fromm meringis kecil sambil mengurut kaki kanannya..

" Apa kesalahan nomor dua, bung ? " tanya ku, agar dia tidak terlena dengan sakitnya..

" Yang kedua, ketika orang belajar tentang cinta, mereka menganggap persoalan cinta itu soal objek" Fromm berhenti sejenak untuk meluruskan kakinya..

" Bagi mereka, mencintai itu soal gampang. Namun menemukan orang yang tepat untuk dicintai, itu yang sulit " Fromm menatap ku dingin..

" Bukankah seperti itu seharusnya. Kita mencintai orang yang tepat ? " tantang ku kepada Doktor lulusan Heidelberg tahun 1922 ini.

Laki-laki kelahiran Frankfurt ini tertawa kecil. Dia merasa lucu melihat tampang penasaran ku.

" Mencari orang yang tepat ?" tanyanya kembali..

" Model berpikir seperti itu banyak dipengaruhi Budaya."

" Tujuan model seperti ini, mencari objek cinta adalah pernikahan, bukan begitu Erix Hutasoit ? " kembali laki-laki ini mempermainkan emosi ku...

Lalu Fromm bicara lagi ." Seperti yang aku bilang tadi, model seperti ini dipengaruhi budaya dan trend".

" Banyak budaya yang menentukan sendiri, seperti apa objek cinta itu".

" Kamu contohnya, lahir dalam budaya batak, apa yang ditanamkan budaya mu ketika kamu mencari objek cinta ? " Tanya Fromm ...

" Dalam suku ku biasanya ditanamkan Bibit, Bebet dan Bobot dalam menentukan pasangan hidup" jawab ku..

" Ya, seperti itulah".

" Kamu harus tahu segala sesuatunya tentang objek cinta mu." tegas Fromm

" Tahu silsilah keturunannya, agamanya, orang tuanya, status sosialnya, tingkat ekonominya, bahkan kamu pun mendesak tahu berapa pacarnya dulu. Sampai perawan atau tidaknya objek cinta mu itu, kamu harus tahu, Begitu kan ..." tutur Fromm menusuk hati ..

" Sama seperti di Amerika ditahun 1920an. Perempuan yang merokok, Pekerja keras dan Sexy merupakan trend ideal sebagai objek cinta masa itu." lanjutnya..

" Berpikiran kalau menentukan objek cinta merupakan inti dari pelajaran tentang cinta. Itu membuat kamu berpikir seperti pedagang. Berpikir untung dan rugi". Fromm tertawa lagi, kali ini aku pasrah diejek...

" Padahal cinta tidak pernah mengenal untung atau rugi, apalagi standarnisasi " Kalimat fromm ini terdengar seperti khotbah ditelinga ku..

" Lalu apa kesalahan nomor tiga" kuucapkan dengan nada kesal..

" Kesalahan terakhir yaitu kesalahan dalam mengartikan falling in love, being in love dan standing in love " tegas fromm..

" Im not understand. Would you explaining ! " lawan ku kepada Fromm

Laki-laki keturunan Yahudi itu tersenyum lagi..

" Mudah-mudahan aku tidak dianggapnya bodoh" ucapku dalam hati....

" Banyak orang yang tidak bisa membedakan jatuh cinta dengan cinta itu sendiri".

" Dua insan yang awalnya berbeda, kemudian merubuhkan tembok lalu menjadi satu. Lebih dekat satu sama lain. Momentum seperti ini sering dianggap moment paling indah dalam hidup."

" Lalu.." aku menunggu penjelasannya...

" Kedekatan semakin terkesan sempurna, kala dua insan itu lebih dekat secara biologis"

" Apa maksudnya ?" tanya ku bingung..

" SEX " jawabnya mengagetkan ku..

Fromm pun berujar lebih jauh. " Ketika dua insan itu melakukan hubungan sex. Mereka merasa telah mencapai puncak cinta. Sex adalah puncaknya cinta. Dengan sex tidak ada lagi tembok diantara mereka berdua, mereka merasa tidak akan terpisahkan lagi" Fromm menatap mata ku..

"Tapi Sex bukanlah inti dari cinta." lanjutnya kemudian

" Sex itu seperti zat adictiv yang lama kelamaan kenikmatannya akan berkurang."

" Ketika Sex tak mampu lagi memuaskan kedua insan itu, mereka akan merasa menjadi asing satu sama lain. Lalu berpisah. dan itu bukan cinta...." Fromm menarik nafas dan mengulurkan tangannya kepada ku...

" Lalu apa itu cinta .." tanya ku kepada Fromm

" Cinta itu seni.." Katanya...

" The Process of learning an art can be divided conveniently in two parts ; one, the mastery of the other, the mastery of practice". Tutur Fromm sebelun tiba-tiba menghilang..

Ups...sudah Camp hill rupanya, terpaksa ku akhiri diskusi ini. " Thanks Bung Fromm buat diskusinya" . [ *** ]

1 comment:

Anonymous said...

Erich Fromm also wrote on his book 'The Art of Loving' that:

===================================

Pada dasarnya semua makhluk manusia itu sama. Kita semua merupakan bagian dari yang SATU; kita adalah satu.

Karena demikian halnya, maka kita tidak perlu ambil pusing siapa yang akan kita cintai.

Situasi dan kondisi eksistensi manusia menimbulkan persoalan pertanyaan yang sama yang menghinggapi manusia: bagaimana mengatasi keterpisahan, meraih kesatuan, mentransedensi kehidupan dan meraih penebusan.

Pertanyaan sama, jawaban yang muncul berbeda-beda.

Faktor ini yang kemudian diyakini sebagai titik awal manusia ingin dicintai... mencintai...

Cinta pada dasarnya merupakan suatu kemauan, suatu keputusan untuk mengikat kehidupan dengan kehidupan orang lain.

Mencintai seseorang bukan hanya melibatkan perasaan yang kuat -- melainkan juga melibatkan suatu keputusan, suatu penilaian, suatu perjanjian.

Suatu perasaan bisa timbul dan bisa lenyap kapan saja, dan dengan kenyataan ini, bagaimana kita memastikan bahwa perasaan itu akan tetap ada untuk selama-lamanya tanpa mengandalkan adanya suatu penilaian atau keputusan?

Pandangan ini membawa pada pendapat bahwa cinta hanya merupakan suatu tindakan yang merupakan kehendak dan penyerahan diri semata... namun yang terpenting: kehendak yang bisa menjamin kelangsungan cinta.

bagaimana dengan konsep cinta sejati??

CINTA SEJATI merupakan ungkapan produktivitas seseorang yang meliputi perhatian dan, penghormatan, tanggung jawab dab pemahaman.

CINTA SEJATI bukanlah perasaan yang ditimbulkan oleh orang lain melainkan suatu usaha aktif demi perkembangan dan kebahagiaan orang yang dicintai -- yang berakar pada kemampuan seseorang untuk dicintai.

Mencintai seseorang berarti mengaktualisasikan dan mengkonsentrasikan kekuatan untuk dicintai.

Keteguhan dasar yang terkandung dalam cinta diarahkan kepada orang yang dicintai, sebagai suatu penjelmaan dari sifat-sifat dasar manusia.

===================================

knp musti ada yang namanya CINTA. Tapi tanpa CINTA, AKU pun gak bisa hadir. so aku hadir untuk apa? di- dan me- sama saja, kebutuhan dan keinginan.. so what??