[ refleksi untuk empatpuluh lima hari yang lalu ]
Erix Hutasoit, pukul 09.40 dikabin ekonomi Virgin Train.
Dua tubuh membujur tak kaku itu terhentak bangun, dikejutkan teriakan alarm didentang waktu 06.30 pagi hari. Tubuh-tubuh itu tergegas bangkit, mengucek-ngucek matanya lalu berhamburan kesudut ruang. Satu diantaranya memilih ruang berlantai kayu berfasilitas air hangat. Satu yang lain, kabur keruang ‘logistik”, sibuk mengisi “kotak ajaibnya” dengan “gumpalan harapan”, roti segar berlapiskan cokelat dan mentega. Hari ini mereka harus “out” dari Birmingham menuju penampungan lain di Bangor, Negara Bagian Wales, United Kingdom (UK).
Si empunya waktupun berteriak lagi, pukul 08.05 sekarang, pertanda waktu “pelarian” tiba. Seperti sudah “diprogram”, keduanya pun kabur meninggalkan surga kecil itu. Limabelas menit melangkah keduanya terhenti didepan gubuk moderen bernama bus stop. Kereta besi dua lantai bernomor limapuluh melintas, berhenti sesaat lalu tancap gas lagi. Keduanyapun serta dibus publik milik West Midlands Travel itu. Tujuan pelarian berikutnya adalah New Street Station, pangkalan kereta api tersohor di Birmingham.
Ternyata mereka tidak sendirian. Setibanya dipangkalan, sudah menunggu enam pasang “pelarian” lain. Merasa senasib barangkali, setiap yang tiba disambut pelukan dan jabatan tangan serta sepotong kalimat “Good Morning”. Tak berselang lama, tiga pasangan lain datang. Dua orang diantaranya disebut pengawas. Tugas profesional keduanya memastikan “semua urusan beres”, semisal aksi hari ini. Namun merekapun bisa juga "silap". Maklumlah, mereka juga kan masih manusia.
Kereta Api (KA) bermerk Virgin itu berlari kencang meninggal Birmingham. Delapanbelas pelarian dan dua orang pengawas dibawanya serta. Selama seratusdelapan puluh menit kemudian mereka hanyut mengarungi “belantara” jalur kereta api Inggris.
Tak seperti KA Parahyangan, kereta kelas ekonomi jurusan Jakarta Bandung yang carut marut, kuda besi UK ini begitu mewah. Interiornya saja mirip kabin penerbangan bonafitnya Indonesia, Garuda Airways. Belum lagi sistem komputerisasi yang membaluti tubuhnya, menambah kecanggihan transportasi publik ini. Tapi kuda besi ini tidak cocok buat yang tidak “mudeng” teknologi. Ketimbang salah mencet tombol lalu “terkurung” ditoilet, mendingan cari aman saja. Ber-utilitas-lah sebelum berpergian, dijamin luput dari “kemaluan”.
Limabelas menit berlalu, KA Virgin tiba di Crewe, kota kecil Inggris. Duapuluh penumpangnya berpindah kereta baru. Perjalanan mereka semakin keutara, tepatnya kewilayah perairan diujung United Kingdom (UK).
Mid Project Review (MPR), begitu gelar pelarian ini. Mirip cerita difilm-film tentang pelarian yang mendambakan kebebasan. MPR tujuannya juga sama. Tapi, keduapuluh orang itu memiliki perbedaan dalam mendefenisikan kebebasan. Ada yang mengartikan kebebasan dengan menjadi diri sendiri. Ada pula yang mengartikannya dengan senang-senang. Mungkin ada pula menterjemahkan kebebasan dengan “ tidak boleh begini”, “ Itu dilarang”, "itu tidak sopan”, hmm..
Dentang jam menunjuk pukul 13.00 ketika sang ‘perawan’ besi tiba di Bangor. Saatnya menghirup udara “kebebasan”. Tapi bebas yang seperti apa? Karena empatpuluh lima hari yang lalu, hanya mengartikannya [kebebasan] saja, duapuluh orang itu sudah “perang dingin”.
Kesempatan mendiskusikan ulang kebebasan ada di MPR. Tapi tetap saja masih ada yang pesimisme. Maklum, trauma diskusi dimasa lalu terindikasi kuat terulang lagi. “ Toh ujung-ujungnya di-pelintir juga“ begitulah pesismis itu terbangun.
Mudah-mudahan pelarian kali tidak salah mendefenisikan kebebasan. Salah-salah, bukan kebebasan yang didapat, tapi penjara baru untuk empatpuluh lima hari kedepan. Hmm, semoga saja tidak. Bruukk....aku terbangun, terbengong-bengong menggingat yang berlalu, " mimpi apa aku tadi ?" tanya ku bingung [ *** ]
No comments:
Post a Comment